alexametrics
27.2 C
Bojonegoro
Friday, May 27, 2022

Tiga Siswi Ciptakan Aplikasi Buku Elektronik, Rangkul Penulis Pemula

Masa pandemi Covid-19 membuat tiga siswi ini semakin kreatif. Mereka menciptakan aplikasi menggiatkan literasi. Aplikasi itu bisa menjembatani penulis dan pembaca ingin menulisnya.

M. NURKOZIM, Radar Bojonegoro

Sinta Ayu, Faiza Dwi Renita, dan Dalilah Jihan sudah selesai pembelajaran saat Jawa Pos Radar Bojonegoro menemui mereka. Siswi kelas sepuluh itu kemarin (15/12) jadwal masuk sekolah.

Tampak akrab, tiga siswi ini terlihat saling bercengkerama. Memakai seragam putih abu-abu, mereka menunjukkan sebuah aplikasi di smartphone. Dengan latar hijau dan putih.

Nama aplikasi itu Wakapag. Aplikasi jual dan beli buku. Memudahkan bagi masyarakat ingin membeli buku secara online. ‘’Aplikasi ini masih butuh penyempurnaan,’’ tutur Sinta Ayu dengan santun.

Aplikasi itu mereka namai Wakapag. Kepanjangan dari Wadah Karya Page. Page diambil dari bahasa Inggris berarti halaman. Bisa juga diterjamahkan halaman buku. Aplikasi itu masih belum bisa diunduh secara bebas.

Belum dikomersilkan. Mereka bertiga juga belum menautkannya di Google Play sebagai wadah aplikasi berbasis android. ‘’Untuk bisa terpasang di Google Play masih panjang. Harus verifikasi dulu,’’ jelas remaja 15 tahun itu.

Baca Juga :  Verifikasi Tak Kunjung Dilakukan,┬áNelayan Tetap Menolak Berganti Alat

Meski demikian, aplikasi mereka ini cukup aman. Bisa digunakan untuk semua jenis ponsel android. Sedangkan perangkat aplikasi IOS masih belum pernah dicoba. ‘’Dalam waktu dekat akan kami coba di IOS,’’ sambung Faiza.

Para siswi SMAN 3 Bojonegoro ini membuat Wakapag dalam waktu sebulan. Para siswi ini harus berusaha keras agar aplikasi bisa bermanfaat semua orang. Mereka mengakui ada aplikasi sejenis.

Namun, fungsinya tidak sama. Fiturnya juga tidak banyak. Sehingga, Wakapag ini sedikit lebih sempurna. Aplikasi mereka buat adalah aplikasi penjualan buku. Bisa membeli buku tersedia di aplikasi itu. Ragam bukunya belum lengkap. ‘’Ke depan akan diisi lebih banyak buku,’’ jelas Faiza.

Buku-buku dipasang di aplikasi itu didapatkan dari para penulis. Admin aplikasi membeli buku itu dari penulisnya. Biasanya penulis bukunya adalah teman-temannya sendiri. Namun, juga dari penulis lain yang mau menjualnya. ‘’Kemudian kami akan menjual buku itu ke pengguna aplikasi,’’ terangnya.

Baca Juga :  PEPC Raih Penghargaan Internasional PFI Award

Sistem pembeliannya mudah. Pengguna aplikasi hanya tinggal mengisi saldo. Saldo itulah akan digunakan membeli buku. Buku yang disediakan itu dalam format Pdf. Atau buku elektronik berupa file format Pdf.

Pembuatan aplikasi ini dilatarbelakangi untuk menggiatkan literasi. Terutama saat pandemi. Pada masa pandemi perpustakaan sempat tutup, meski saat ini sudah buka dan dilakukan penerapan protokol kesehatan. Toko buku juga jarang buka. Sehingga ada larangan pembatasan sosial di beberapa kota besar.

‘’Karena itu, kami membuat aplikasi ini,’’ tutur siswi 15 tahun ini. Ada tujuh fitur disediakan di aplikasi ini. Selain aplikasi untuk membeli buku, juga disediakan fitur library atau perpustakaan.

Para pengguna aplikasi bisa membaca file bukunya. Namun, tentu tidak selengkap file yang dijual. Wakapag nantinya akan merangkul penulis pemula. Karya tulis yang belum diterbitkan bisa dibeli. Kemudian, dijual kembali di aplikasi tersebut. ‘’Kami juga tengah menulis buku. Nanti akan kami jual juga di wakapag juga,’’ jelasnya.

Masa pandemi Covid-19 membuat tiga siswi ini semakin kreatif. Mereka menciptakan aplikasi menggiatkan literasi. Aplikasi itu bisa menjembatani penulis dan pembaca ingin menulisnya.

M. NURKOZIM, Radar Bojonegoro

Sinta Ayu, Faiza Dwi Renita, dan Dalilah Jihan sudah selesai pembelajaran saat Jawa Pos Radar Bojonegoro menemui mereka. Siswi kelas sepuluh itu kemarin (15/12) jadwal masuk sekolah.

Tampak akrab, tiga siswi ini terlihat saling bercengkerama. Memakai seragam putih abu-abu, mereka menunjukkan sebuah aplikasi di smartphone. Dengan latar hijau dan putih.

Nama aplikasi itu Wakapag. Aplikasi jual dan beli buku. Memudahkan bagi masyarakat ingin membeli buku secara online. ‘’Aplikasi ini masih butuh penyempurnaan,’’ tutur Sinta Ayu dengan santun.

Aplikasi itu mereka namai Wakapag. Kepanjangan dari Wadah Karya Page. Page diambil dari bahasa Inggris berarti halaman. Bisa juga diterjamahkan halaman buku. Aplikasi itu masih belum bisa diunduh secara bebas.

Belum dikomersilkan. Mereka bertiga juga belum menautkannya di Google Play sebagai wadah aplikasi berbasis android. ‘’Untuk bisa terpasang di Google Play masih panjang. Harus verifikasi dulu,’’ jelas remaja 15 tahun itu.

Baca Juga :  Dokter Berkomitmen Berperan Turunkan Angka Stunting

Meski demikian, aplikasi mereka ini cukup aman. Bisa digunakan untuk semua jenis ponsel android. Sedangkan perangkat aplikasi IOS masih belum pernah dicoba. ‘’Dalam waktu dekat akan kami coba di IOS,’’ sambung Faiza.

Para siswi SMAN 3 Bojonegoro ini membuat Wakapag dalam waktu sebulan. Para siswi ini harus berusaha keras agar aplikasi bisa bermanfaat semua orang. Mereka mengakui ada aplikasi sejenis.

Namun, fungsinya tidak sama. Fiturnya juga tidak banyak. Sehingga, Wakapag ini sedikit lebih sempurna. Aplikasi mereka buat adalah aplikasi penjualan buku. Bisa membeli buku tersedia di aplikasi itu. Ragam bukunya belum lengkap. ‘’Ke depan akan diisi lebih banyak buku,’’ jelas Faiza.

Buku-buku dipasang di aplikasi itu didapatkan dari para penulis. Admin aplikasi membeli buku itu dari penulisnya. Biasanya penulis bukunya adalah teman-temannya sendiri. Namun, juga dari penulis lain yang mau menjualnya. ‘’Kemudian kami akan menjual buku itu ke pengguna aplikasi,’’ terangnya.

Baca Juga :  300 Paket Proyek Sudah Dilelang, Kontraktor Menawar Rendah

Sistem pembeliannya mudah. Pengguna aplikasi hanya tinggal mengisi saldo. Saldo itulah akan digunakan membeli buku. Buku yang disediakan itu dalam format Pdf. Atau buku elektronik berupa file format Pdf.

Pembuatan aplikasi ini dilatarbelakangi untuk menggiatkan literasi. Terutama saat pandemi. Pada masa pandemi perpustakaan sempat tutup, meski saat ini sudah buka dan dilakukan penerapan protokol kesehatan. Toko buku juga jarang buka. Sehingga ada larangan pembatasan sosial di beberapa kota besar.

‘’Karena itu, kami membuat aplikasi ini,’’ tutur siswi 15 tahun ini. Ada tujuh fitur disediakan di aplikasi ini. Selain aplikasi untuk membeli buku, juga disediakan fitur library atau perpustakaan.

Para pengguna aplikasi bisa membaca file bukunya. Namun, tentu tidak selengkap file yang dijual. Wakapag nantinya akan merangkul penulis pemula. Karya tulis yang belum diterbitkan bisa dibeli. Kemudian, dijual kembali di aplikasi tersebut. ‘’Kami juga tengah menulis buku. Nanti akan kami jual juga di wakapag juga,’’ jelasnya.

Artikel Terkait

Most Read

Gagal Antisipasi Bola Mati

Amankan Bandar Judi Bola

Kepengurusan Lemkari Dilantik

Artikel Terbaru


/