alexametrics
26.7 C
Bojonegoro
Monday, May 23, 2022

Melihat Para PNS ketika Tanggal 15 Setiap Bulan Berbalut Pakaian Samin

Setiap daerah kini mulai menonjolkan kelokalannya. Seperti di Blora, mereka tengah berbangga dengan ajaran samin. Termasuk mengenakan pakaian khasnya. 

————————-

AMRULLAH AM., Blora 

————————

MENDUNG masih mengintai kawasan perkotaan Blora. Namun, segera pergi setelah cahaya surya datang. Tak begitu lama mendung muncul lagi. Kompleks perkantoran di Pemkab Blora tampak berbeda hari itu. 

Tak banyak orang mengenakan pakaian dinas resmi. Justru mereka mengenakan pakaian hitam-hitam. Tidak sedang berkabung. Namun, mereka mengenakan pakaian khas warga Samin. Para abdi negara itu mengenakan pakaian serbahitam. Celana komprang dan pakaian hitam mirip pakaian perguruan silat.

Bagi yang laki-laki memakai ikat kepalanya. Setiap tanggal 15 memang para pegawai di lingkungan Pemkab Blora diwajibkan menggunakan pakaian kebesaran masyarakat samin. 

Baca Juga :  Main Ular Tangga, Letto Ingatkan Milenial Tidak Lupa Sejarah

Kepala Bagian Organisasi Tata Laksana (Ortala) Riyatno mengatakan, seragam samin awalnya dipakai sebulan sekali pada hari Kamis minggu ketiga. Dan kini diubah menjadi setiap tanggal 15. Menurutnya perubahan jadwal pemakaian seragam samin ini akan ditetapkan dengan adanya peraturan bupati (perbup).

Pemakaian seragam samin ini bukan hanya sebagai simbol saja. Melainkan, nilai-nilai ajaran Samin Surasentiko harus benar-benar diejawantahkan. Terutama bagi kalangan PNS.

Jariman, penganut ajaran Sikep di Desa Tanduran, Kecamatan Kedungtuban, mengatakan, samin sejatinya merupakan laku kebajikan mudah dipahami. Hanya tataran praksis kehidupan sehari-hari, tidak mudah memahami kode etik-moral yang digariskan.

‘’Diarani Samin, merga sing takon ya wong, sing njawab yo wong. Dadi pada-pada, sami-sami amin,’’ ujar dia dengan logat khas bahasa Jawa. Dari kalimat itu terdapat makna bahwa masyarakat samin itu setara. Mereka tak membedakan kasta satu sama lain. 

Baca Juga :  Fanani Kembali Nahkodai Gerindra

Lasiyo, tertua masyarakat Samin di Desa Klopoduwur Kecamatan Banjarejo mengatakan, salah satu ajaran moyangnya itu adalah hidup rukun dengan sesama. Tidak boleh memiliki sifat dengki ataupun iri pada saudaranya sendiri. 

Mendalami ajaran Sedulur Sikep, termasuk menggunakan pakaian itu, adalah hal yang sederhana saja. Tidak bersifat berlebihan. Bahkan, harus bersifat ngalah meski tidak kalah.

Setiap daerah kini mulai menonjolkan kelokalannya. Seperti di Blora, mereka tengah berbangga dengan ajaran samin. Termasuk mengenakan pakaian khasnya. 

————————-

AMRULLAH AM., Blora 

————————

MENDUNG masih mengintai kawasan perkotaan Blora. Namun, segera pergi setelah cahaya surya datang. Tak begitu lama mendung muncul lagi. Kompleks perkantoran di Pemkab Blora tampak berbeda hari itu. 

Tak banyak orang mengenakan pakaian dinas resmi. Justru mereka mengenakan pakaian hitam-hitam. Tidak sedang berkabung. Namun, mereka mengenakan pakaian khas warga Samin. Para abdi negara itu mengenakan pakaian serbahitam. Celana komprang dan pakaian hitam mirip pakaian perguruan silat.

Bagi yang laki-laki memakai ikat kepalanya. Setiap tanggal 15 memang para pegawai di lingkungan Pemkab Blora diwajibkan menggunakan pakaian kebesaran masyarakat samin. 

Baca Juga :  Perempuan Berdaya, Indonesia Maju

Kepala Bagian Organisasi Tata Laksana (Ortala) Riyatno mengatakan, seragam samin awalnya dipakai sebulan sekali pada hari Kamis minggu ketiga. Dan kini diubah menjadi setiap tanggal 15. Menurutnya perubahan jadwal pemakaian seragam samin ini akan ditetapkan dengan adanya peraturan bupati (perbup).

Pemakaian seragam samin ini bukan hanya sebagai simbol saja. Melainkan, nilai-nilai ajaran Samin Surasentiko harus benar-benar diejawantahkan. Terutama bagi kalangan PNS.

Jariman, penganut ajaran Sikep di Desa Tanduran, Kecamatan Kedungtuban, mengatakan, samin sejatinya merupakan laku kebajikan mudah dipahami. Hanya tataran praksis kehidupan sehari-hari, tidak mudah memahami kode etik-moral yang digariskan.

‘’Diarani Samin, merga sing takon ya wong, sing njawab yo wong. Dadi pada-pada, sami-sami amin,’’ ujar dia dengan logat khas bahasa Jawa. Dari kalimat itu terdapat makna bahwa masyarakat samin itu setara. Mereka tak membedakan kasta satu sama lain. 

Baca Juga :  Keragaman dalam Balutan Merah Putih

Lasiyo, tertua masyarakat Samin di Desa Klopoduwur Kecamatan Banjarejo mengatakan, salah satu ajaran moyangnya itu adalah hidup rukun dengan sesama. Tidak boleh memiliki sifat dengki ataupun iri pada saudaranya sendiri. 

Mendalami ajaran Sedulur Sikep, termasuk menggunakan pakaian itu, adalah hal yang sederhana saja. Tidak bersifat berlebihan. Bahkan, harus bersifat ngalah meski tidak kalah.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/