alexametrics
32.7 C
Bojonegoro
Monday, August 8, 2022

Cermin Berembun hingga Kardus Senilai Rp 1 M

JOGJAKARTA selalu menyimpan sejuta keistimewaan dan cerita baru pada setiap event yang digelar. Berikut catatan wartawan Jawa Pos Radar Tuban  Yudha Satria Aditama yang mengikuti perjalanan ke daerah istimewa tersebut bersama Pertamina Hulu Energi (PHE) Tuban East Java (TEJ) 12 – 14 Agustus.

Bagi penggemar seni, tentu tidak asing dengan Artjog. Salah satu event pameran karya seni terbesar di Indonesia yang rutin digelar tiap tahun di Jogjakarta. Tahun ini, Jogja Art Festival digelar 25 Juli – 25 Agustus. Beruntung, saat kunjungan bersama PHE TEJ ke Kota Gudeg pada Selasa (13/8), Artjog masih berlangsung. Bertempat di Museum Nasional Jogja, Jalan Prof. Ki Amri Yahya 1, Kelurahan Pakuncen, Kecamatan Wirobrajan, terpajang ratusan karya seni mengagumkan dari 39 seniman kelas dunia dari Indonesia hingga manca negara.

Mulai karya seni dua dimensi maupun tiga dimensi berupa instalasi. Artjog MMXIX tahun ini mengangkat tema Common Space atau Ruang Bersama. Tema tersebut diintepretasikan berdasarkan sudut pandang masing-masing seniman. Bagi orang awam, tak jarang yang menganggap beberapa karya seni tersebut aneh dan di luar nalar.

Begitu masuk teras museum, pengunjung disambut sejumlah instalasi karya seni tiga dimensi yang menggambarkan tentang alam. Memasuki lorong indoor lantai satu, mata para penikmat seni disuguhi dengan sejumlah gantungan kulit kuda kering. Lengkap dengan kulit cokelat dan rambut kepala. Kulit kuda tersebut merupakan instalasi karya seni dari Ugo Untoro, seniman dari Purbalingga, Jawa Tengah.

Masih di lorong yang sama, terdapat lukisan berbentuk kuda yang terbuat dari potongan kardus bekas. Beberapa kardus bekas disusun hingga membentuk sebuah kuda setinggi sekitar satu setengah meter. Potongan kardus tersebut ditempel pada kanvas ukuran 2 x 3 m dan dipajang di salah satu sisi dinding lorong. ‘’Lukisan ini sudah terjual satu miliar,’’ terang salah satu penjaga lukisan tersebut.

Baca Juga :  Punya Banyak Koleksi Radio dan Antena

Wow, siapa pun yang mendengar awalnya pasti tidak percaya. Wajar jika ada pertanyaan kedua untuk memastikan pendengaran para pengunung tidak salah. Ternyata memang benar, lukisan tersebut resmi dibeli seorang kolektor seharga dua mobil sport. Wajar jika panitia sangat ketat dan melarang pengunjung menyentuh karya seni apa pun yang dipajang dalam tempat tersebut.

Anang, salah satu penjaga lukisan mengatakan, kalau ada karya seni rusak, sepenuhnya tanggung jawab panitia. Sebab, lukisan yang sudah laku terjual ke kolektor baru boleh di bawah pulang setelah Artjog selesai digelar. Karena itu tak heran jika satu karya seni bisa dijaga lebih dari satu orang. Pengunjung boleh mengambil foto, tapi ditegur jika menyentuh mahakarya seni tersebut.

Di setiap karya, terdapat tulisan penjelasan terkait maksud sang seniman di balik seni rupa tersebut. Ugo, seniman pembuat lukisan kardus menulis bahwa karyanya tersebut tak lepas dari kecintaannya terhadap kuda hingga salah satu kudanya mati karena kecelakaan. Dari situ sering muncul ide untuk membuat karya seni. Tertulis, sebagian besar karya ciptaan Ugo merupakan instalasi seni rupa yang berbahan dari kulit kuda yang sering dibeli di tempat jagal.

Pemandangan yang sangat menarik lainnya adalah cermin berembun. Ukurannya 2 x 2,5 m. Sebagian besar permukaan cermin tersebut berembun. Seperti efek dari uap air dingin. Namun, siapa sangka, cermin berembun tersebut juga salah satu karya yang dipamerkan dalam festival seni rupa yang dibuat Fika Ria Santika. Bahkan, karya yang dipajang dalam satu ruang khusus tersebut menjadi salah satu spot favorit para turis asing untuk memotretnya.

Tertulis, karya cermin buatan seniman yang lahir di Padang Panjang, Sumatera Barat tersebut terinspirasi dari lingkungan alam. Dengan tema Alam Takambang Jadi Guru (falsafah Minang), sering menjadi gagasan besar Fika dalam membuat sejumlah karya. ‘’Karya ini menampilkan sebuah siklus kehidupan alami yang berada di sekeliling kita, di alam yang kita huni bersama. Ia terus bergerak dan terus hidup,’’ tulis sang seniman dalam keterangan karya seni tersebut.

Baca Juga :  Sambil Sujud, Seniman: Kami Lapar!

Surya, panitia Artjog lain menuturkan, seluruh karya seni yang dipamerkan tersebut dijual. Siapa pun kolektor yang tertarik membeli, bisa langsung negosiasi dengan pemilik karya. Selanjutnya, setelah ada perjanjian hitam di atas putih, karya yang dibeli akan diantar ke rumah sang kolektor setelah acara selesai. Ketika berkunjung kemarin, sudah ada belasan karya seni yang terjual. Seluruhnya unik dan memiliki arti yang menarik untuk didalami.

Sebagian besar karya yang dipajang di Musem Nasional Jogja tersebut tergolong outsider art atau karya non-mainstream. Tuban sebenarnya memiliki sejumlah seniman outsider art yang patut diperhitungkan. Antara lain Joko Wahono dan Imam Sucahyo. Dua seniman senior tersebut banyak mengisi pameran-pameran besar nasional dan internasional di tanah air.

Sayangnya, mereka kurang mendapat tempat di tanah kelahirannya. Joko cs bersama Dewan Kesenian Tuban (DKT) sebenarnya sudah beberapa kali menggelar pameran seni rupa sejak 2015. Pameran tersebut juga memajang sejumlah karya outsider art. Karena tidak punya tempat yang representatif, pameran mereka dibuka cuma-cuma atau tanpa tiket masuk untuk pengunjung.

Di Artjog, satu orang harus membeli tiket Rp 50 ribu. Sebagian uang tiket tersebut untuk para seniman yang ikut memamerkan karya. Sebagian lagi untuk event organizer-nya. Pemasukan lain dari pemerintah daerah setempat dan sejumlah sponsor. ‘’Untuk karya, seniman Tuban sudah bisa diadu. Sayangnya untuk sarana dan prasarana sangat belum mencukupi,’’ kata Ketua DKT Joko Wahono. (bersambung)

JOGJAKARTA selalu menyimpan sejuta keistimewaan dan cerita baru pada setiap event yang digelar. Berikut catatan wartawan Jawa Pos Radar Tuban  Yudha Satria Aditama yang mengikuti perjalanan ke daerah istimewa tersebut bersama Pertamina Hulu Energi (PHE) Tuban East Java (TEJ) 12 – 14 Agustus.

Bagi penggemar seni, tentu tidak asing dengan Artjog. Salah satu event pameran karya seni terbesar di Indonesia yang rutin digelar tiap tahun di Jogjakarta. Tahun ini, Jogja Art Festival digelar 25 Juli – 25 Agustus. Beruntung, saat kunjungan bersama PHE TEJ ke Kota Gudeg pada Selasa (13/8), Artjog masih berlangsung. Bertempat di Museum Nasional Jogja, Jalan Prof. Ki Amri Yahya 1, Kelurahan Pakuncen, Kecamatan Wirobrajan, terpajang ratusan karya seni mengagumkan dari 39 seniman kelas dunia dari Indonesia hingga manca negara.

Mulai karya seni dua dimensi maupun tiga dimensi berupa instalasi. Artjog MMXIX tahun ini mengangkat tema Common Space atau Ruang Bersama. Tema tersebut diintepretasikan berdasarkan sudut pandang masing-masing seniman. Bagi orang awam, tak jarang yang menganggap beberapa karya seni tersebut aneh dan di luar nalar.

Begitu masuk teras museum, pengunjung disambut sejumlah instalasi karya seni tiga dimensi yang menggambarkan tentang alam. Memasuki lorong indoor lantai satu, mata para penikmat seni disuguhi dengan sejumlah gantungan kulit kuda kering. Lengkap dengan kulit cokelat dan rambut kepala. Kulit kuda tersebut merupakan instalasi karya seni dari Ugo Untoro, seniman dari Purbalingga, Jawa Tengah.

Masih di lorong yang sama, terdapat lukisan berbentuk kuda yang terbuat dari potongan kardus bekas. Beberapa kardus bekas disusun hingga membentuk sebuah kuda setinggi sekitar satu setengah meter. Potongan kardus tersebut ditempel pada kanvas ukuran 2 x 3 m dan dipajang di salah satu sisi dinding lorong. ‘’Lukisan ini sudah terjual satu miliar,’’ terang salah satu penjaga lukisan tersebut.

Baca Juga :  Budi Satria Maulana, Petani Gaul Ajak Bertani lewat Medsos

Wow, siapa pun yang mendengar awalnya pasti tidak percaya. Wajar jika ada pertanyaan kedua untuk memastikan pendengaran para pengunung tidak salah. Ternyata memang benar, lukisan tersebut resmi dibeli seorang kolektor seharga dua mobil sport. Wajar jika panitia sangat ketat dan melarang pengunjung menyentuh karya seni apa pun yang dipajang dalam tempat tersebut.

Anang, salah satu penjaga lukisan mengatakan, kalau ada karya seni rusak, sepenuhnya tanggung jawab panitia. Sebab, lukisan yang sudah laku terjual ke kolektor baru boleh di bawah pulang setelah Artjog selesai digelar. Karena itu tak heran jika satu karya seni bisa dijaga lebih dari satu orang. Pengunjung boleh mengambil foto, tapi ditegur jika menyentuh mahakarya seni tersebut.

Di setiap karya, terdapat tulisan penjelasan terkait maksud sang seniman di balik seni rupa tersebut. Ugo, seniman pembuat lukisan kardus menulis bahwa karyanya tersebut tak lepas dari kecintaannya terhadap kuda hingga salah satu kudanya mati karena kecelakaan. Dari situ sering muncul ide untuk membuat karya seni. Tertulis, sebagian besar karya ciptaan Ugo merupakan instalasi seni rupa yang berbahan dari kulit kuda yang sering dibeli di tempat jagal.

Pemandangan yang sangat menarik lainnya adalah cermin berembun. Ukurannya 2 x 2,5 m. Sebagian besar permukaan cermin tersebut berembun. Seperti efek dari uap air dingin. Namun, siapa sangka, cermin berembun tersebut juga salah satu karya yang dipamerkan dalam festival seni rupa yang dibuat Fika Ria Santika. Bahkan, karya yang dipajang dalam satu ruang khusus tersebut menjadi salah satu spot favorit para turis asing untuk memotretnya.

Tertulis, karya cermin buatan seniman yang lahir di Padang Panjang, Sumatera Barat tersebut terinspirasi dari lingkungan alam. Dengan tema Alam Takambang Jadi Guru (falsafah Minang), sering menjadi gagasan besar Fika dalam membuat sejumlah karya. ‘’Karya ini menampilkan sebuah siklus kehidupan alami yang berada di sekeliling kita, di alam yang kita huni bersama. Ia terus bergerak dan terus hidup,’’ tulis sang seniman dalam keterangan karya seni tersebut.

Baca Juga :  CJH Dijadwalkan Pulang 12 September

Surya, panitia Artjog lain menuturkan, seluruh karya seni yang dipamerkan tersebut dijual. Siapa pun kolektor yang tertarik membeli, bisa langsung negosiasi dengan pemilik karya. Selanjutnya, setelah ada perjanjian hitam di atas putih, karya yang dibeli akan diantar ke rumah sang kolektor setelah acara selesai. Ketika berkunjung kemarin, sudah ada belasan karya seni yang terjual. Seluruhnya unik dan memiliki arti yang menarik untuk didalami.

Sebagian besar karya yang dipajang di Musem Nasional Jogja tersebut tergolong outsider art atau karya non-mainstream. Tuban sebenarnya memiliki sejumlah seniman outsider art yang patut diperhitungkan. Antara lain Joko Wahono dan Imam Sucahyo. Dua seniman senior tersebut banyak mengisi pameran-pameran besar nasional dan internasional di tanah air.

Sayangnya, mereka kurang mendapat tempat di tanah kelahirannya. Joko cs bersama Dewan Kesenian Tuban (DKT) sebenarnya sudah beberapa kali menggelar pameran seni rupa sejak 2015. Pameran tersebut juga memajang sejumlah karya outsider art. Karena tidak punya tempat yang representatif, pameran mereka dibuka cuma-cuma atau tanpa tiket masuk untuk pengunjung.

Di Artjog, satu orang harus membeli tiket Rp 50 ribu. Sebagian uang tiket tersebut untuk para seniman yang ikut memamerkan karya. Sebagian lagi untuk event organizer-nya. Pemasukan lain dari pemerintah daerah setempat dan sejumlah sponsor. ‘’Untuk karya, seniman Tuban sudah bisa diadu. Sayangnya untuk sarana dan prasarana sangat belum mencukupi,’’ kata Ketua DKT Joko Wahono. (bersambung)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/