alexametrics
28.3 C
Bojonegoro
Tuesday, May 17, 2022

Sistem Zonasi, Tempat Kos Sepi

BOJONEGORO – Siswa ngekos kini mulai jarang. Siswa dari kecamatan pinggiran yang sekolah di kawasan kota mulai berkurang. Ini sejak diterapkan sistem zonasi dalam penerimaan peserta didik baru (PPDB) tahun ini.

Imbasnya, hari pertama sekolah kemarin (15/7) tempat kos atau kos-kosan di sekitar SMA/SMK di Kecamatan Kota kini melompong. Bisnis yang dulunya menggiurkan itu, kini terancam menurun pendapatannya. Bahkan, mitra ojek daring juga ikut merasakan hal yang sama. 

Budi, salah satu pemilik kos putri di Jalan HOS Cokroaminoto depan SMAN 2 Bojonegoro mengatakan, sangat terasa penurunan penyewa kos. Biasanya, tiap tahun ajaran baru, setidaknya 10 siswa SMA menyewa kamar kos. 

Tetapi, semenjak ada sistem zonasi, hanya tiga siswa baru yang menyewa kos. Ia pun hanya bisa pasrah, karena memang sudah jadi aturan pemerintah. Padahal, biasanya awal tahun pelajaran baru, banyak siswa baru ngekos.

“Kami ya enggak bisa apa-apa. Tapi untungnya kami juga punya usaha-usaha lain, seperti fotokopian,” katanya kepada Jawa Pos Radar Bojonegoro.

Baca Juga :  Pencemaran Limbah Air dari Bengawan Solo dan Muncul Baru di Ngawi

Budi memprediksi tahun depan, sekitar 10 kamar kos yang disewakan tak akan terpenuhi apabila sistem zonasi masih diterapkan. Karena saat ini, yang masih ngekos merupakan siswa menginjak kelas 11 dan 12. 

Dia pun belum memikirkan strategi ke depannya untuk memoles bisnis kos-kosannya itu. Sebab, rumah kos dan rumah pribadinya jadi satu bangunan. Dia masih ragu untuk menyewakan kosnya untuk kalangan karyawan.

“Karena kosnya gabung dengan rumah saya. Jadi tiap jam 10 malam pintu depan sudah saya kunci. Sedangkan, kalau menerima karyawan kan enggak bisa diberi aturan jam malam seperti itu,” jelasnya.

Terpisah, Sigit Wahyudi pemilik kos di Jalan Kolonel Sugiono menerangkan, selama ini penyewa kosnya dari kalangan siswa cukup sedikit. Seringkali yang ngekos kalangan karyawan. Biasanya hanya 3 sampai 4 siswa saja yang ngekos di tempatnya. 

“Karena harga sewa bulanan kami cukup tinggi. Yakni Rp 700 ribu. Jadi paling sering karyawan yang ngekos,” katanya.

Baca Juga :  Bermula Mencarikan Madu Asli untuk Mertuanya Sakit

Dampak zonasi, tak hanya dirasakan pemilik kos-kosan. Tapi, juga beberapa mitra ojek daring ada sedikit pendapatan harian turun. Ferdi Ilhami, salah satu ojek daring mengatakan, penurunannya tak signifikan. Karena ia menilai warga Bojonegoro semakin nyaman memanfaatkan ojek daring untuk kebutuhan sehari-hari. 

“Antar-antar siswa SMP atau SMA ke sekolah kemungkinan menurun. Tapi kalau siswa SD pasti masih lancar. Selain antar jemput, jasa beli makanan dan kirim barang mulai ramai,” bebernya.

Susanto, mitra ojek daring lainnya mengungkapkan, bahwa tanpa zonasi itu pun pendapatan harian ojek daring sulit untuk stabil. Karena jumlah mitra ojek dari berbagai aplikasi terus bertambah. Saat ini diperkirakan lebih dari 200 driver. Katanya, Rp 100.000 per hari sudah cukup ngoyo. 

“Jadinya, jam kerja di jalan harus ditambah biar bisa dapat hasil yang lumayan. Biasanya tiap harinya narik hingga malam,” jelasnya.

BOJONEGORO – Siswa ngekos kini mulai jarang. Siswa dari kecamatan pinggiran yang sekolah di kawasan kota mulai berkurang. Ini sejak diterapkan sistem zonasi dalam penerimaan peserta didik baru (PPDB) tahun ini.

Imbasnya, hari pertama sekolah kemarin (15/7) tempat kos atau kos-kosan di sekitar SMA/SMK di Kecamatan Kota kini melompong. Bisnis yang dulunya menggiurkan itu, kini terancam menurun pendapatannya. Bahkan, mitra ojek daring juga ikut merasakan hal yang sama. 

Budi, salah satu pemilik kos putri di Jalan HOS Cokroaminoto depan SMAN 2 Bojonegoro mengatakan, sangat terasa penurunan penyewa kos. Biasanya, tiap tahun ajaran baru, setidaknya 10 siswa SMA menyewa kamar kos. 

Tetapi, semenjak ada sistem zonasi, hanya tiga siswa baru yang menyewa kos. Ia pun hanya bisa pasrah, karena memang sudah jadi aturan pemerintah. Padahal, biasanya awal tahun pelajaran baru, banyak siswa baru ngekos.

“Kami ya enggak bisa apa-apa. Tapi untungnya kami juga punya usaha-usaha lain, seperti fotokopian,” katanya kepada Jawa Pos Radar Bojonegoro.

Baca Juga :  Bermula Mencarikan Madu Asli untuk Mertuanya Sakit

Budi memprediksi tahun depan, sekitar 10 kamar kos yang disewakan tak akan terpenuhi apabila sistem zonasi masih diterapkan. Karena saat ini, yang masih ngekos merupakan siswa menginjak kelas 11 dan 12. 

Dia pun belum memikirkan strategi ke depannya untuk memoles bisnis kos-kosannya itu. Sebab, rumah kos dan rumah pribadinya jadi satu bangunan. Dia masih ragu untuk menyewakan kosnya untuk kalangan karyawan.

“Karena kosnya gabung dengan rumah saya. Jadi tiap jam 10 malam pintu depan sudah saya kunci. Sedangkan, kalau menerima karyawan kan enggak bisa diberi aturan jam malam seperti itu,” jelasnya.

Terpisah, Sigit Wahyudi pemilik kos di Jalan Kolonel Sugiono menerangkan, selama ini penyewa kosnya dari kalangan siswa cukup sedikit. Seringkali yang ngekos kalangan karyawan. Biasanya hanya 3 sampai 4 siswa saja yang ngekos di tempatnya. 

“Karena harga sewa bulanan kami cukup tinggi. Yakni Rp 700 ribu. Jadi paling sering karyawan yang ngekos,” katanya.

Baca Juga :  Iskandar Laporkan Istrinya karena Selingkuh

Dampak zonasi, tak hanya dirasakan pemilik kos-kosan. Tapi, juga beberapa mitra ojek daring ada sedikit pendapatan harian turun. Ferdi Ilhami, salah satu ojek daring mengatakan, penurunannya tak signifikan. Karena ia menilai warga Bojonegoro semakin nyaman memanfaatkan ojek daring untuk kebutuhan sehari-hari. 

“Antar-antar siswa SMP atau SMA ke sekolah kemungkinan menurun. Tapi kalau siswa SD pasti masih lancar. Selain antar jemput, jasa beli makanan dan kirim barang mulai ramai,” bebernya.

Susanto, mitra ojek daring lainnya mengungkapkan, bahwa tanpa zonasi itu pun pendapatan harian ojek daring sulit untuk stabil. Karena jumlah mitra ojek dari berbagai aplikasi terus bertambah. Saat ini diperkirakan lebih dari 200 driver. Katanya, Rp 100.000 per hari sudah cukup ngoyo. 

“Jadinya, jam kerja di jalan harus ditambah biar bisa dapat hasil yang lumayan. Biasanya tiap harinya narik hingga malam,” jelasnya.

Artikel Terkait

Most Read

Baru Coret Satu Pemain

Harga Sembako ­Mulai Naik

Warga Berebut Ikan Mabuk 

Artikel Terbaru

/