alexametrics
26 C
Bojonegoro
Saturday, May 21, 2022

Sekarang Tak Punya Rumah, Dijual saat Melahirkan

DASRI termasuk perempuan sabar dan penuh ujian. Keterbatasan ekonomi, hingga rumahnya dijual untuk proses persalinan. Kesedihan bertambah, putrinya menderita hidrosefalus.

Rumah sederhana di Dusun Wotrangkul, Desa Klopoduwur, Kecamatan Banjarejo, itu tampak kesedihan dari luarnya. Dinding kayu menghitam. Tak pernah tersentuh cat.

Memasuki rumahnya semakin terenyuh, berlantaikan tanah. Tepat ruang tamu terdapat perempuan berbaju hijau. Dialah Dasri. Seketika berjalan menuju anaknya yang terbaring di ranjang kayu. Usia putrinya berusia enam bulan. Siti Masiroh, nama putrinya. Usianya yang masih balita ini, Siti Masiroh menderita hidrosefalus atau pembesaran kepala.

Dasri menceritakan, anak bungsunya mengalami kelainan sejak usia satu bulan. Hanya sampai saat ini belum pernah mendapatkan pelayanan kesehatan di rumah sakit (RS) karena keterbatasan ekonomi.

Sehingga selama ini dirinya hanya merawat anaknya di rumah. Hingga akhirnya, Siti Masiroh semakin parah. Dengan kata-kata pelan, Dasri memastikan selama ini dirinya tidak pernah mendapatkan program bantuan sosial. Seperti kartu Indonesia sehat (KIS), bantuan pangan non tunai (BPNT), bahkan program keluarga harapan (PKH). Sehingga, pembiayan untuk berobat semua harus dia lakukan sendiri. Sedangkan, suaminya hanya bekerja serabutan.

Baca Juga :  Seru Bersama BPJS Ketenagakerjaan Bojonegoro

Lebih miris lagi, menurut Dasri, saat ini dirinya terancam tidak memiliki rumah. Sebab, rumah yang dia tempati saat ini sudah dia jual. ’’Rumah saya ini sudah terjual seharga Rp 14,5 juta karena dulu saat lahiran butuh uang untuk biaya operasi,’’ sedihnya.

’’Dulu lahirnya operasi Caesar jadi butuh biaya mahal,’’ lanjut Dasri kepada Jawa Pos Radar Bojonegoro.

Sekarang dia bersama keluarga masih bingung akan tinggal ke mana nantinya. Padahal sang anak, Siti Masiroh, yang menderita hidrosefalus masih belum bisa dirujuk. Sebab masih menunggu KIS terlebih dahulu.

Dasri, saat ini bingung. Pertama, rumah sudah dijual dan dua bulan lagi akan diambil pembeli. Kesedihan berikutnya adalah kondisi sang anak yang perlu penanganan medis.

’’Katanya biayanya mahal. Siapa yang kuat. Kemarin waktu lahiran saja harus jual rumah. Sekarang sudah tidak ada yang dijual lagi,’’ ucapnya dengan raut kesedihan.

Baca Juga :  Biar Kekinian, Remaja Kerek Jasa Transportasi Online di Blora

Dasri berharap, ada keajaiban bagi anaknya. Asalkan bisa sembuh dia sudah bersyukur. Lebih-lebih ada dermawan atau uluran tangan pemerintah bisa membantu keuangan keluarganya.

’’Yang penting anak saya. Bisa sembuh sudah bersyukur,’’ harapnya.

Wakil Bupati Blora Arief Rohman meminta dinas kesehatan (dinkes) bisa mengawal pengobatan Siti Masiroh. Sedangkan dinas sosial, pemberdayaan perempuan, dan perlindungan anak (dinsos P3A) diminta mengusahakan bantuan sosial agar bisa masuk basis data terpadu (BDT).

Usai menyambangi Siti Masiroh, Wabup juga meminta Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) diminta bisa membantu pengembalian rumahnya agar tidak jadi diambil pembelinya.

’’Kita ajak beberapa OPD (organisasi perangkat daerah) terkait untuk datang ke sini memberikan bantuan. Alhamdulillah permasalahan dihadapi keluarga Bu Dasri bisa mendapatkan jalan keluar. Mohon doanya agar adik Siti Masiroh bisa segera sembuh dan rumahnya bisa tetap ditempati,’’ jelasnya.

Kepala desa setempat juga diminta berkomunikasi dengan pembeli rumahnya. Dan, akan mengganti uangnya agar rumah bisa tetap ditempati. Selama pengobatan Siti Masiroh, nanti pemenuhan kebutuhan ekonomi keluarganya juga akan bantu.

DASRI termasuk perempuan sabar dan penuh ujian. Keterbatasan ekonomi, hingga rumahnya dijual untuk proses persalinan. Kesedihan bertambah, putrinya menderita hidrosefalus.

Rumah sederhana di Dusun Wotrangkul, Desa Klopoduwur, Kecamatan Banjarejo, itu tampak kesedihan dari luarnya. Dinding kayu menghitam. Tak pernah tersentuh cat.

Memasuki rumahnya semakin terenyuh, berlantaikan tanah. Tepat ruang tamu terdapat perempuan berbaju hijau. Dialah Dasri. Seketika berjalan menuju anaknya yang terbaring di ranjang kayu. Usia putrinya berusia enam bulan. Siti Masiroh, nama putrinya. Usianya yang masih balita ini, Siti Masiroh menderita hidrosefalus atau pembesaran kepala.

Dasri menceritakan, anak bungsunya mengalami kelainan sejak usia satu bulan. Hanya sampai saat ini belum pernah mendapatkan pelayanan kesehatan di rumah sakit (RS) karena keterbatasan ekonomi.

Sehingga selama ini dirinya hanya merawat anaknya di rumah. Hingga akhirnya, Siti Masiroh semakin parah. Dengan kata-kata pelan, Dasri memastikan selama ini dirinya tidak pernah mendapatkan program bantuan sosial. Seperti kartu Indonesia sehat (KIS), bantuan pangan non tunai (BPNT), bahkan program keluarga harapan (PKH). Sehingga, pembiayan untuk berobat semua harus dia lakukan sendiri. Sedangkan, suaminya hanya bekerja serabutan.

Baca Juga :  Menengok Gaya Busana HJB ke 343, Anggun Dengan Kebaya Hijau

Lebih miris lagi, menurut Dasri, saat ini dirinya terancam tidak memiliki rumah. Sebab, rumah yang dia tempati saat ini sudah dia jual. ’’Rumah saya ini sudah terjual seharga Rp 14,5 juta karena dulu saat lahiran butuh uang untuk biaya operasi,’’ sedihnya.

’’Dulu lahirnya operasi Caesar jadi butuh biaya mahal,’’ lanjut Dasri kepada Jawa Pos Radar Bojonegoro.

Sekarang dia bersama keluarga masih bingung akan tinggal ke mana nantinya. Padahal sang anak, Siti Masiroh, yang menderita hidrosefalus masih belum bisa dirujuk. Sebab masih menunggu KIS terlebih dahulu.

Dasri, saat ini bingung. Pertama, rumah sudah dijual dan dua bulan lagi akan diambil pembeli. Kesedihan berikutnya adalah kondisi sang anak yang perlu penanganan medis.

’’Katanya biayanya mahal. Siapa yang kuat. Kemarin waktu lahiran saja harus jual rumah. Sekarang sudah tidak ada yang dijual lagi,’’ ucapnya dengan raut kesedihan.

Baca Juga :  Blora Gelar Festival Kelor

Dasri berharap, ada keajaiban bagi anaknya. Asalkan bisa sembuh dia sudah bersyukur. Lebih-lebih ada dermawan atau uluran tangan pemerintah bisa membantu keuangan keluarganya.

’’Yang penting anak saya. Bisa sembuh sudah bersyukur,’’ harapnya.

Wakil Bupati Blora Arief Rohman meminta dinas kesehatan (dinkes) bisa mengawal pengobatan Siti Masiroh. Sedangkan dinas sosial, pemberdayaan perempuan, dan perlindungan anak (dinsos P3A) diminta mengusahakan bantuan sosial agar bisa masuk basis data terpadu (BDT).

Usai menyambangi Siti Masiroh, Wabup juga meminta Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) diminta bisa membantu pengembalian rumahnya agar tidak jadi diambil pembelinya.

’’Kita ajak beberapa OPD (organisasi perangkat daerah) terkait untuk datang ke sini memberikan bantuan. Alhamdulillah permasalahan dihadapi keluarga Bu Dasri bisa mendapatkan jalan keluar. Mohon doanya agar adik Siti Masiroh bisa segera sembuh dan rumahnya bisa tetap ditempati,’’ jelasnya.

Kepala desa setempat juga diminta berkomunikasi dengan pembeli rumahnya. Dan, akan mengganti uangnya agar rumah bisa tetap ditempati. Selama pengobatan Siti Masiroh, nanti pemenuhan kebutuhan ekonomi keluarganya juga akan bantu.

Artikel Terkait

Most Read

Maksimalkan Bursa Transfer

Pemain Asing Jadi Perhatian

Artikel Terbaru


/