alexametrics
25 C
Bojonegoro
Monday, June 27, 2022

Desak Pemkab Segera Perbaiki Jembatan Ngasem

Radar Bojonegoro – DPRD Bojonegoro mendesak dinas pekerjaan umum bina marga dan penataan ruang (DPU BMPR) setempat segera memperbaiki jembatan Ngasem. Sebab, jembatan menghubungkan Kecamatan Ngasem dengan Kecamatan Dander itu memiliki peran vital. Kerusakan ini tentu berdampak ekonomi warga sekitar. Anggota DPRD Bojonegoro Fauzan mendorong pemkab segera menangani Jembatan Ngasem.

Apalagi dengan APBD Bojonegoro tinggi. Jambatan itu tidak hanya akses bagi warga Kecamatan Ngasem. Namun, dari Kecamatan Dander, Ngam bon dan sekitarnya. ‘’Kami mendorong pemkab segera memperbaiki,’’ katanya kemarin (15/3).

Menurut Fauzan, jembatan dengan panjang sekitar 52 meter itu dibangun pada 2014, saat itu anggarannya sekitar Rp 5,7 miliar. Namun, baru berumur sekitar tujuh tahun sudah ambles, dan kini ditutup. Untuk menguji kelayakan bangunan diperlukan identifikasi, dan perlu uji forensik. ‘’Yang jelas kami mendesak segera dibangun,’’ tandas politikus asal Kecamatan Ngasem itu.

Kaur Perencanaan Desa/Kecamatan Ngasem Nuri Mahfudin menambahkan, dampak penutupan Jembatan Ngasem akibat longsor membuat warga khususnya Desa Ngasem ingin ke kota harus memutar. Melalui jalan alternatif dengan jarak dan waktu tempuh bertambah. Akses kendaraan roda dua terpaksa melalui jalan tembus antardesa. Namun, aksesnya kurang memadai. Sedangkan kendaraan roda empat dan truk harus lewat Kecamatan Kalitidu.

Baca Juga :  Pemdes Kalangan Butuh Data Akurat Lahan Terdampak

“Kalau dari Desa Ngasem untuk ke kota via Kecamatan Kalitidu jarak tempuh bertambah 25 kilometer dengan waktu tempuh sekitar 30 menit. Dari sebelumnya hanya 22 kilometer jika melalui jembatan,” ungkapnya.

Nuri mengaku kerusakan jembatan juga berpengaruh pada sektor ekonomi. Di Desa Ngasem terdapat dua pasar dalam sehari. Pertama, Pasar Peteng (petang) yang buka mulai pukul 03.00 dini hari. Kedua, Pasar Desa Ngasem yang buka mulai 06.00 pagi. Bagi pedagang pasar dari luar Desa Ngasem aksesnya tambah jauh ketika akan berjualan. Sedangkan pedangang dari Desa Ngasem sendiri kesulitan ketika akan kulakan ke kota. “Tentunya membutuhkan biaya transportasi tambahan,” ujarnya.

Menurut Nuri, kerusakan jembatan baru pertama terjadi. Bahkan sebelum dibangun pada 2014, belum pernah terjadi jembatan rusak hingga ditutup total. “Sepengetahuan saya kalau yang dulu pakai rel belum pernah rusak parah. Berdasar dari keterangan orang tua terdahulu,” tandasnya.

Pihaknya meminta pemkab segera melakukan perbaikan. Karena warga Desa Ngasem dan sekitarnya yang biasanya melalui akses jembatan tersebut pasti merasakan kesulitan saat akan melakukan aktivitas. Kades Sedangharjo Kecamatan Ngasem Yus Karyanto mengatakan dampak penutupan jembatan membuat warganya harus memutar melalui jalan poros desa untuk pergi ke fasilitas pelayanan publik. Seperti puskesmas, pasar, maupun kantor kecamatan. “Memutar sekitar 15 menit,” ujarnya.

Baca Juga :  Jika Kedelai Rp 11.500, Produsen Tahu Bakal Mogok

Yus menjelaskan, kondisi jalan poros desa yang dijadikan jalan alternatif kurang baik. Sehingga diberlakukan pembatasan kendaraan melintas. Hanya kendaraan roda dua dan roda empat berukuran kecil yang diperbolehkan melintas. “Arah timur belok ke kiri jalan poros Desa Sendangharjo tembus Desa Kolong,” ujarnya.

Pihaknya akan melakukan perbaikan darurat pada jalan alternatif. Selain itu memberikan petunjuk arah agar pengendara melintas tak kebingungan. Yus menambahkan terdapat dua rumah warga terdampak longsornya tebing di sekitar Jembatan Ngasem.

Masing-masing di utara dan selatan jalan. Sementara itu, Kepala DPU BMPR Bojonegoro Retno Wulandari mengatakan, berjanji akan segera memperbaikinya, tahun ini sudah teranggarkan untuk penanganan. Selain itu, tahun ini juga masuk tahap perencanaan pembangunan. ‘’Jembatan Ngasen ini masih tahap perencanaan, tahun ini sudah teranggarkan penanganan,’’ katanya terpisah. (irv)

Radar Bojonegoro – DPRD Bojonegoro mendesak dinas pekerjaan umum bina marga dan penataan ruang (DPU BMPR) setempat segera memperbaiki jembatan Ngasem. Sebab, jembatan menghubungkan Kecamatan Ngasem dengan Kecamatan Dander itu memiliki peran vital. Kerusakan ini tentu berdampak ekonomi warga sekitar. Anggota DPRD Bojonegoro Fauzan mendorong pemkab segera menangani Jembatan Ngasem.

Apalagi dengan APBD Bojonegoro tinggi. Jambatan itu tidak hanya akses bagi warga Kecamatan Ngasem. Namun, dari Kecamatan Dander, Ngam bon dan sekitarnya. ‘’Kami mendorong pemkab segera memperbaiki,’’ katanya kemarin (15/3).

Menurut Fauzan, jembatan dengan panjang sekitar 52 meter itu dibangun pada 2014, saat itu anggarannya sekitar Rp 5,7 miliar. Namun, baru berumur sekitar tujuh tahun sudah ambles, dan kini ditutup. Untuk menguji kelayakan bangunan diperlukan identifikasi, dan perlu uji forensik. ‘’Yang jelas kami mendesak segera dibangun,’’ tandas politikus asal Kecamatan Ngasem itu.

Kaur Perencanaan Desa/Kecamatan Ngasem Nuri Mahfudin menambahkan, dampak penutupan Jembatan Ngasem akibat longsor membuat warga khususnya Desa Ngasem ingin ke kota harus memutar. Melalui jalan alternatif dengan jarak dan waktu tempuh bertambah. Akses kendaraan roda dua terpaksa melalui jalan tembus antardesa. Namun, aksesnya kurang memadai. Sedangkan kendaraan roda empat dan truk harus lewat Kecamatan Kalitidu.

Baca Juga :  Layu sebelum Dipanen

“Kalau dari Desa Ngasem untuk ke kota via Kecamatan Kalitidu jarak tempuh bertambah 25 kilometer dengan waktu tempuh sekitar 30 menit. Dari sebelumnya hanya 22 kilometer jika melalui jembatan,” ungkapnya.

Nuri mengaku kerusakan jembatan juga berpengaruh pada sektor ekonomi. Di Desa Ngasem terdapat dua pasar dalam sehari. Pertama, Pasar Peteng (petang) yang buka mulai pukul 03.00 dini hari. Kedua, Pasar Desa Ngasem yang buka mulai 06.00 pagi. Bagi pedagang pasar dari luar Desa Ngasem aksesnya tambah jauh ketika akan berjualan. Sedangkan pedangang dari Desa Ngasem sendiri kesulitan ketika akan kulakan ke kota. “Tentunya membutuhkan biaya transportasi tambahan,” ujarnya.

Menurut Nuri, kerusakan jembatan baru pertama terjadi. Bahkan sebelum dibangun pada 2014, belum pernah terjadi jembatan rusak hingga ditutup total. “Sepengetahuan saya kalau yang dulu pakai rel belum pernah rusak parah. Berdasar dari keterangan orang tua terdahulu,” tandasnya.

Pihaknya meminta pemkab segera melakukan perbaikan. Karena warga Desa Ngasem dan sekitarnya yang biasanya melalui akses jembatan tersebut pasti merasakan kesulitan saat akan melakukan aktivitas. Kades Sedangharjo Kecamatan Ngasem Yus Karyanto mengatakan dampak penutupan jembatan membuat warganya harus memutar melalui jalan poros desa untuk pergi ke fasilitas pelayanan publik. Seperti puskesmas, pasar, maupun kantor kecamatan. “Memutar sekitar 15 menit,” ujarnya.

Baca Juga :  Suka Bikin Tutorial Rias

Yus menjelaskan, kondisi jalan poros desa yang dijadikan jalan alternatif kurang baik. Sehingga diberlakukan pembatasan kendaraan melintas. Hanya kendaraan roda dua dan roda empat berukuran kecil yang diperbolehkan melintas. “Arah timur belok ke kiri jalan poros Desa Sendangharjo tembus Desa Kolong,” ujarnya.

Pihaknya akan melakukan perbaikan darurat pada jalan alternatif. Selain itu memberikan petunjuk arah agar pengendara melintas tak kebingungan. Yus menambahkan terdapat dua rumah warga terdampak longsornya tebing di sekitar Jembatan Ngasem.

Masing-masing di utara dan selatan jalan. Sementara itu, Kepala DPU BMPR Bojonegoro Retno Wulandari mengatakan, berjanji akan segera memperbaikinya, tahun ini sudah teranggarkan untuk penanganan. Selain itu, tahun ini juga masuk tahap perencanaan pembangunan. ‘’Jembatan Ngasen ini masih tahap perencanaan, tahun ini sudah teranggarkan penanganan,’’ katanya terpisah. (irv)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/