alexametrics
29.2 C
Bojonegoro
Monday, June 27, 2022

Tol Masuk Review RTRW Jatim

BOJONEGORO, Radar Bojonegoro – Rencana pembangunan tol melintas di Bojonegoro semakin matang. Setelah tercantum dalam Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 80 Tahun 2019, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Timur juga mulai memasukkan dalam dokumen review rencana tata ruang wilayah (RTRW).
Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Jawa Timur M. Rudy Ermawan Yulianto mengakui adanya rencana pembangunan tol melintas Bojonegoro, meliputi Ngawi-Bojonegoro-Tuban-Lamongan-Gresik. Rencana tersebut muncul di program percepatan pembangunan Gerbangkertosusila (Gresik, Bangkalan, Mojokerto, Surabaya, Sidoarjo, dan Lamongan) dan tercantum dalam Perpres Nomor 80/2019.
Sehingga, turunannya nanti akan dimasukkan dalam rencana pembangunan jangka menengah nasional (RPJMN). Kemudian di tingkat provinsi akan dimasukkan dalam dokumen RTRW. ‘’Review RTRW nanti juga dimasukkan,’’ ujarnya kepada Jawa Pos Radar Bojonegoro kemarin (15/1).
Dia menuturkan, konsep pembangunan tol itu untuk percepatan pembangunan untuk daerah tertinggal. Sehingga, Gerbangkertosusila ini menjadi angin segar untuk percepatan pembangunan di Jawa Timur.
Meski begitu, pihaknya belum berani menyampaikan terkait teknis pembangunannya. Karena sebelum menjadi program, harus tertuang dulu dalam RPJMN dan RTRW Provinsi Jatim. ‘’Diupayakan masuk RPJMN,’’ tegasnya.
Setelah tertuang dalam rencana pembangunan itu, akan segera ditindaklanjuti dengan rencana teknis realisasi kegiatan. Setelah itu baru membuat tahapan pengerjaan dan instansi yang akan menanganinya secara teknis.
Asisten 2 Bidang Perekonomian Pemkab Bojonegoro I Nyoman Sudana menyambut baik rencana tol tersebut. Dia menjelaskan, adanya tol itu akan berdampak baik bagi ekonomi Bojonegoro. “Terutama jika banyak pintu masuk dan keluarnya di Bojonegoro,” ujarnya.
Mantan kepala bappeda itu melanjutkan, yang akan mengalami peningkatan banyak sektor. Pariwisata, perdagangan, hingga pendidikan.
Menurutnya, proyek tol Bojonegoro itu sebenarnya sudah lama. Namun, saat ini lebih spesifik lagi. Sebab, sudah masuk dalam perpres. “Artinya masuk program prioritas lima tahun kedepan,” ujarnya.
Wakil Ketua DPRD Sukur Priyanto mengatakan, adanya tol melintas di Bojonegoro dipastikan membawa banyak dampak postif. Salah satunya peningkatan ekonomi. Tentu, ditandai transportasi menjadi lebih mudah. Arus barang masuk dan keluar Bojonegoro lebih lancar.
‘’Itu akan mendatangkan investor di Bojonegoro. Lapangan kerja akan terbuka,’’ jelasnya.
Banyaknya lapangan kerja itu akan membuat ekonomi semakin bergeliat. Sebab, pendapatan warga juga akan meningkat.
Namun, lanjut Sukur, seperti jalan tol lainnya, dampak buruk juga ada. Meskipun kecil. Yakni, sejumlah usaha kecil biasanya ramai karena banyak mampir jadi sepi. Sebab, pengendara banyak pilih lewat tol. ‘’Itu sudah banyak terjadi di daerah lain yang dilintasi tol,’’ ujarnya.
Untuk mengantisipasi hal itu, perlu dilakukan penataan. Warga Bojonegoro harus diberikan tempat khusus membuka sektor usaha di kawasan tol. ‘’Sehingga, ekonomi warga tetap bergeliat,’’ jelasnya.
Menurut Sukur, jalan tol yang bakal melintas di Ngawi-Bojonegoro-Tuban-Lamongan-Gresik, masih cukup lama. Diperkirakan baru siap dibangun 3 atau 4 tahun lagi. ‘’Kalau dua tahun saya rasa tidak mungkin,’’ jelasnya.

Baca Juga :  Urungkan Jembatan Sementara, Bangun Ulang Jembatan Cincin

BOJONEGORO, Radar Bojonegoro – Rencana pembangunan tol melintas di Bojonegoro semakin matang. Setelah tercantum dalam Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 80 Tahun 2019, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Timur juga mulai memasukkan dalam dokumen review rencana tata ruang wilayah (RTRW).
Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Jawa Timur M. Rudy Ermawan Yulianto mengakui adanya rencana pembangunan tol melintas Bojonegoro, meliputi Ngawi-Bojonegoro-Tuban-Lamongan-Gresik. Rencana tersebut muncul di program percepatan pembangunan Gerbangkertosusila (Gresik, Bangkalan, Mojokerto, Surabaya, Sidoarjo, dan Lamongan) dan tercantum dalam Perpres Nomor 80/2019.
Sehingga, turunannya nanti akan dimasukkan dalam rencana pembangunan jangka menengah nasional (RPJMN). Kemudian di tingkat provinsi akan dimasukkan dalam dokumen RTRW. ‘’Review RTRW nanti juga dimasukkan,’’ ujarnya kepada Jawa Pos Radar Bojonegoro kemarin (15/1).
Dia menuturkan, konsep pembangunan tol itu untuk percepatan pembangunan untuk daerah tertinggal. Sehingga, Gerbangkertosusila ini menjadi angin segar untuk percepatan pembangunan di Jawa Timur.
Meski begitu, pihaknya belum berani menyampaikan terkait teknis pembangunannya. Karena sebelum menjadi program, harus tertuang dulu dalam RPJMN dan RTRW Provinsi Jatim. ‘’Diupayakan masuk RPJMN,’’ tegasnya.
Setelah tertuang dalam rencana pembangunan itu, akan segera ditindaklanjuti dengan rencana teknis realisasi kegiatan. Setelah itu baru membuat tahapan pengerjaan dan instansi yang akan menanganinya secara teknis.
Asisten 2 Bidang Perekonomian Pemkab Bojonegoro I Nyoman Sudana menyambut baik rencana tol tersebut. Dia menjelaskan, adanya tol itu akan berdampak baik bagi ekonomi Bojonegoro. “Terutama jika banyak pintu masuk dan keluarnya di Bojonegoro,” ujarnya.
Mantan kepala bappeda itu melanjutkan, yang akan mengalami peningkatan banyak sektor. Pariwisata, perdagangan, hingga pendidikan.
Menurutnya, proyek tol Bojonegoro itu sebenarnya sudah lama. Namun, saat ini lebih spesifik lagi. Sebab, sudah masuk dalam perpres. “Artinya masuk program prioritas lima tahun kedepan,” ujarnya.
Wakil Ketua DPRD Sukur Priyanto mengatakan, adanya tol melintas di Bojonegoro dipastikan membawa banyak dampak postif. Salah satunya peningkatan ekonomi. Tentu, ditandai transportasi menjadi lebih mudah. Arus barang masuk dan keluar Bojonegoro lebih lancar.
‘’Itu akan mendatangkan investor di Bojonegoro. Lapangan kerja akan terbuka,’’ jelasnya.
Banyaknya lapangan kerja itu akan membuat ekonomi semakin bergeliat. Sebab, pendapatan warga juga akan meningkat.
Namun, lanjut Sukur, seperti jalan tol lainnya, dampak buruk juga ada. Meskipun kecil. Yakni, sejumlah usaha kecil biasanya ramai karena banyak mampir jadi sepi. Sebab, pengendara banyak pilih lewat tol. ‘’Itu sudah banyak terjadi di daerah lain yang dilintasi tol,’’ ujarnya.
Untuk mengantisipasi hal itu, perlu dilakukan penataan. Warga Bojonegoro harus diberikan tempat khusus membuka sektor usaha di kawasan tol. ‘’Sehingga, ekonomi warga tetap bergeliat,’’ jelasnya.
Menurut Sukur, jalan tol yang bakal melintas di Ngawi-Bojonegoro-Tuban-Lamongan-Gresik, masih cukup lama. Diperkirakan baru siap dibangun 3 atau 4 tahun lagi. ‘’Kalau dua tahun saya rasa tidak mungkin,’’ jelasnya.

Baca Juga :  Urungkan Jembatan Sementara, Bangun Ulang Jembatan Cincin

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/