alexametrics
25.2 C
Bojonegoro
Sunday, August 14, 2022

Musim Tanam Mundur, Harga Beras Turun 

- Advertisement -

LAMONGAN, Radar Lamongan –  Musim tanam petani mundur. Jika biasanya awal Desember mulai tanam, maka kini belum bisa dilakukan karena lahan pertanian masih mengering. 

‘’Kalau estimasi kita, Desember awal bisa tanam, tapi mundur karena musim kemarau lebih panjang,” kata Sekretaris Dinas Tanaman Pangan dan Holtikultura Lamongan, Anton Sujarwo. 

Menurut dia, musim tanam dimulai ketika sudah ada hujan. Saat ini, intensitas hujan belum tinggi. Akibatnya, kondisi embung dan waduk belum cukup untuk memenuhi kebutuhan air pertanian. 

Anton memerkirakan musim tanam mundur hingga awal Januari. Namun, dia mengklaim kondisi cadangan beras di Lamongan aman. Beberapa petani di wilayah bantaran Bengawan sudah panen. Jika beras itu untuk konsumsi warga Lamongan, maka dipastikan cukup sampai panen Maret depan. Jika beras dijual ke tengkulak luar kota, maka diperkirakan kebutuhan masih mengandalkan luar kota untuk beberapa jenis. 

Baca Juga :  Api Porprov Dikirab Melewati 10 Kecamatan

Kasi Irigasi Dinas PU Sumber Daya Air Lamongan, Lutfi, menjelaskan, waduk dan embung sebenarnya mulai terisi. Namun, masih 50 persen karena intensitas hujan belum tinggi. Cadangan air itu mulai digunakan mengisi lahan pertanian warga. Namun, belum optimal. Idealnya satu embung bisa mencukupi sekitar 8 hektare lahan pertanian. Karena volume masih kurang, maka hanya bisa mencukupi setengahnya. “Agak mundur memang dari rencana tapi ini sudah biasa,” jelasnya. 

- Advertisement -

Sementara  itu, Basuki, salah satu pedagang beras mengatakan, cadangan beras di pasar masih aman. Khususnya kualitas kw premium dan medium yang paling tinggi permintaannya. Bahkan ada penurunan harga. Sebelumnya harga beras kualitas premium dibanderol Rp 8.700 per kilogram (kg). Sekarang Rp 8.500 per kg. Sedangkan jenis medium harganya Rp 8 ribu per kg, lebih murah dari sebelumnya Rp 8.500 per kg. 

Baca Juga :  Memperkuat Muhammadiyah Melalui Amal Usaha Politik

Turunnya harga beras itu karena pasokan dari luar kota cukup banyak. “Kita ada kiriman dari Bojonegoro dan Nganjuk. Kalau beras produksi Lamongan harganya tinggi sebab kualitasnya lebih baik,” ujarnya. (rka/yan) 

LAMONGAN, Radar Lamongan –  Musim tanam petani mundur. Jika biasanya awal Desember mulai tanam, maka kini belum bisa dilakukan karena lahan pertanian masih mengering. 

‘’Kalau estimasi kita, Desember awal bisa tanam, tapi mundur karena musim kemarau lebih panjang,” kata Sekretaris Dinas Tanaman Pangan dan Holtikultura Lamongan, Anton Sujarwo. 

Menurut dia, musim tanam dimulai ketika sudah ada hujan. Saat ini, intensitas hujan belum tinggi. Akibatnya, kondisi embung dan waduk belum cukup untuk memenuhi kebutuhan air pertanian. 

Anton memerkirakan musim tanam mundur hingga awal Januari. Namun, dia mengklaim kondisi cadangan beras di Lamongan aman. Beberapa petani di wilayah bantaran Bengawan sudah panen. Jika beras itu untuk konsumsi warga Lamongan, maka dipastikan cukup sampai panen Maret depan. Jika beras dijual ke tengkulak luar kota, maka diperkirakan kebutuhan masih mengandalkan luar kota untuk beberapa jenis. 

Baca Juga :  BPKAD Jalan, Komisi A Minta Ditunda

Kasi Irigasi Dinas PU Sumber Daya Air Lamongan, Lutfi, menjelaskan, waduk dan embung sebenarnya mulai terisi. Namun, masih 50 persen karena intensitas hujan belum tinggi. Cadangan air itu mulai digunakan mengisi lahan pertanian warga. Namun, belum optimal. Idealnya satu embung bisa mencukupi sekitar 8 hektare lahan pertanian. Karena volume masih kurang, maka hanya bisa mencukupi setengahnya. “Agak mundur memang dari rencana tapi ini sudah biasa,” jelasnya. 

- Advertisement -

Sementara  itu, Basuki, salah satu pedagang beras mengatakan, cadangan beras di pasar masih aman. Khususnya kualitas kw premium dan medium yang paling tinggi permintaannya. Bahkan ada penurunan harga. Sebelumnya harga beras kualitas premium dibanderol Rp 8.700 per kilogram (kg). Sekarang Rp 8.500 per kg. Sedangkan jenis medium harganya Rp 8 ribu per kg, lebih murah dari sebelumnya Rp 8.500 per kg. 

Baca Juga :  Memperkuat Muhammadiyah Melalui Amal Usaha Politik

Turunnya harga beras itu karena pasokan dari luar kota cukup banyak. “Kita ada kiriman dari Bojonegoro dan Nganjuk. Kalau beras produksi Lamongan harganya tinggi sebab kualitasnya lebih baik,” ujarnya. (rka/yan) 

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/