alexametrics
24 C
Bojonegoro
Wednesday, May 25, 2022

Ubah Batok Kelapa Jadi Kerajinan, Produksi Tempat HP hingga Wadah Tisu

BOJONEGORO – Sepintas dari pinggir Jalan Raya Desa Ngampel, Kecamatan Kota, terdapat warung menjual es kelapa muda. Warung ini terasa teduh, dengan hamparan tanaman padi di belakangnya. Duduk dan beristirahat di warung sederhana milik Rianto ini pasti merasa heran. Di meja terdapat tempat tisu yang unik karena berbahan batok (kulit) kelapa. Batok ini sebenarnya menjadi limbah penjualan es degan (kelapa muda). Namun, di tangan Rianto, batok dipoles menjadi kerajinan tangan yang penuh karya.

Di setiap sisi tempat tisu, ditempeli sisa parutan batok kelapa agar penyambungan lebih kuat. “Kalau mau lebih bersih dan licin nanti tinggal di ampelas saja,” ucapnya kepada Jawa Pos Radar Bojonegoro.  

Dengan cekatan, jari-jemari Rianto memperbaiki bagian-bagian batok yang rusak. Tak hanya tempat tisu. Ternyata, lelaki berambut tipis ini juga membuat tempat handphone dan cangkir kopi. Semua berbahan batok kelapa.

Baca Juga :  Kesulitan Akses, Sewa Jeep Usung Tiang Listrik ke Desa Tanpa Listrik

Agar lebih menarik, olahan batok tempat handphone, dia berikan ornamen kecil berupa keris. Mungil dan berliuk-liuk seperti replika keris. Rapi dan melekat erat pada olahan batok kelapa itu.

Setiap pelanggan yang datang untuk minum di tempat selalu menanyakan hal serupa. “Kok nggak dijual pak?,” ucap Rianto menirukan beberapa masyarakat yang singgah di warungnya tersebut.

Namun, Rianto memastikan, jika kerajinan tangan tersebut hanya dikonsumsi sendiri. Padahal, jika dilihat dari ketelatenan dan kerapian olahan batok kelapa tersebut, sebenarnya layak jual. 

Sembari menikmati semilir angin, Rianto memperlihatkan kerajinan-kerajinan kreasinya. Rianto memerkan hasil buatannya yang lain. Seperti tempat lampu. “Ini biasanya saya buat untuk ngusir lalat yang mengerubungi gula. Tapi juga bisa dibuat lampu belajar,” jelasnya. 

Rianto mengakui setiap kerajinan dibuat memiliki tingkat kerumitan sendiri. Seperti tempat lampu lebih banyak bagian-bagian sambungan untuk bisa digantung ataupun diletakkan di meja. 

Baca Juga :  Polisi Awasi Kampanye Hitam via Medsos, Ini Kata Kapolres Bojonegoro

Dia membuat kerajinan ini biasanya seraya menunggu pelanggan datang. Mengutak-atik batok kelapa untuk dijadikan pajangan. “Di rumah lebih banyak lagi. Ada juga tempat bawang untuk istri,” jelasnya.

“Sekarang kalau di warung hanya perbaiki sedikit-sedikit saja. Sudah capek,” akunya sambil tertawa. 

Warga tinggal di Kelurahan Ngorowo, Kecamatan Kota, itu mengaku jika semangat membuat, dalam dua jam saja kreasi bisa selesai. Agar kerajinannya lebih mengilap, dia masih menggunakan lem G. 

Untuk pembuatan kerajinan, Rianto hanya memilih kelapa sudah tua karena struktur batok-nya lebih keras. Serta, batok-nya lebih cokelat. Jika menggunakan batok kelapa masih muda, lama-kelamaan akan mengerut. Dan hasilnya jadi tidak maksimal. 

“Jadi selama ini cari kelapa tua untuk dijadikan kerajinan,” ucapnya.

CHAHYA SYLVIANITA/RDR.BJN

BOJONEGORO – Sepintas dari pinggir Jalan Raya Desa Ngampel, Kecamatan Kota, terdapat warung menjual es kelapa muda. Warung ini terasa teduh, dengan hamparan tanaman padi di belakangnya. Duduk dan beristirahat di warung sederhana milik Rianto ini pasti merasa heran. Di meja terdapat tempat tisu yang unik karena berbahan batok (kulit) kelapa. Batok ini sebenarnya menjadi limbah penjualan es degan (kelapa muda). Namun, di tangan Rianto, batok dipoles menjadi kerajinan tangan yang penuh karya.

Di setiap sisi tempat tisu, ditempeli sisa parutan batok kelapa agar penyambungan lebih kuat. “Kalau mau lebih bersih dan licin nanti tinggal di ampelas saja,” ucapnya kepada Jawa Pos Radar Bojonegoro.  

Dengan cekatan, jari-jemari Rianto memperbaiki bagian-bagian batok yang rusak. Tak hanya tempat tisu. Ternyata, lelaki berambut tipis ini juga membuat tempat handphone dan cangkir kopi. Semua berbahan batok kelapa.

Baca Juga :  Bendera Hitam Masih Terpasang

Agar lebih menarik, olahan batok tempat handphone, dia berikan ornamen kecil berupa keris. Mungil dan berliuk-liuk seperti replika keris. Rapi dan melekat erat pada olahan batok kelapa itu.

Setiap pelanggan yang datang untuk minum di tempat selalu menanyakan hal serupa. “Kok nggak dijual pak?,” ucap Rianto menirukan beberapa masyarakat yang singgah di warungnya tersebut.

Namun, Rianto memastikan, jika kerajinan tangan tersebut hanya dikonsumsi sendiri. Padahal, jika dilihat dari ketelatenan dan kerapian olahan batok kelapa tersebut, sebenarnya layak jual. 

Sembari menikmati semilir angin, Rianto memperlihatkan kerajinan-kerajinan kreasinya. Rianto memerkan hasil buatannya yang lain. Seperti tempat lampu. “Ini biasanya saya buat untuk ngusir lalat yang mengerubungi gula. Tapi juga bisa dibuat lampu belajar,” jelasnya. 

Rianto mengakui setiap kerajinan dibuat memiliki tingkat kerumitan sendiri. Seperti tempat lampu lebih banyak bagian-bagian sambungan untuk bisa digantung ataupun diletakkan di meja. 

Baca Juga :  Tuban Zona Merah Tanpa Penutupan Lokasi Wisata

Dia membuat kerajinan ini biasanya seraya menunggu pelanggan datang. Mengutak-atik batok kelapa untuk dijadikan pajangan. “Di rumah lebih banyak lagi. Ada juga tempat bawang untuk istri,” jelasnya.

“Sekarang kalau di warung hanya perbaiki sedikit-sedikit saja. Sudah capek,” akunya sambil tertawa. 

Warga tinggal di Kelurahan Ngorowo, Kecamatan Kota, itu mengaku jika semangat membuat, dalam dua jam saja kreasi bisa selesai. Agar kerajinannya lebih mengilap, dia masih menggunakan lem G. 

Untuk pembuatan kerajinan, Rianto hanya memilih kelapa sudah tua karena struktur batok-nya lebih keras. Serta, batok-nya lebih cokelat. Jika menggunakan batok kelapa masih muda, lama-kelamaan akan mengerut. Dan hasilnya jadi tidak maksimal. 

“Jadi selama ini cari kelapa tua untuk dijadikan kerajinan,” ucapnya.

CHAHYA SYLVIANITA/RDR.BJN

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/