alexametrics
27.2 C
Bojonegoro
Tuesday, May 24, 2022

Hujan di Bawah Berita

HUJAN begitu syahdu bagi yang menikmatinya. Begitu merindu bagi yang menyukainya. Hujan menjadi berkah bagi petani yang menantinya. Sawah-sawah tadah hujan yang dahaga mulai basah dan berair.
Namun, hujan juga membuat kedinginan bagi badan yang tak mampu menerimanya. Hujan juga membawa  petaka bagi yang melanggarnya. Hujan membawa banjir, bagi masyarakat yang tak peduli kedatangan musim hujan.
Hujan juga membawa inspirasi bagi penulis-penulis hebat. Tere Liye menulis buku berjudul Hujan. Buku bersampul biru muda itu dengan gaya bahasa ringan dan mudah dipahami. Setidaknya, tidak ada orang yang tahu kapan musim panas akan berakhir. Hujan pun tidak kunjung turun membasahi bumi. Hal-hal tersebut mampu melambungkan imajinasi dari pembaca buku Hujan ini.
Saya juga lagi menikmati buku Hujan di Bawah Bantal. Buku ini koleksi sudah lama sekali. Bahkan, kutaruh di meja kantor hingga dibaca oleh teman sampai tuntas. Buku ditulis El Hadiansyah ini memberi kekuatan pada isinya.
Apapun itu, hujan membawa keseimbangan alam bagi sesamanya. Seperti di kawasan Kalianyar, Kecamatan Kapas, tadi malam (13/11), hujan terasa berkah bagi alam. Tak deras tapi bergemericik sejak petang hingga malam. Hujan malam ini melarutkan bintang-bintang untuk bersembunyi.
Klunting, siang itu pada 31 Oktober 2021, seorang redaktur mengirim pesan pendek. Ia menanyakan kesiapan petugas di daerah menghadapi musim peralihan dengan fenomena La Nina. Terutama kewaspadaan masyarakat di daerah aliran sungai (DAS) Bengawan Solo.  
Pertengahan Oktober lalu, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengirimkan sinyal adanya kewaspadaan cuaca ekstrem. Berupa hujan deras disertai angin kencang rentan terjadi sore menjelang malam.
Byar, belum lama dari pesan itu, hujan deras begitu menderas di sejumlah wilayah Bojonegoro. Hampir saban hari, hujan deras. Debit air Bengawan Solo pun menjadi naik. Air pasang dengan arus deras. Debit memang belum memasuki alarm siaga, namun arus tren naik.
Dan petaka itu terjadi 3 November lalu. Perahu tenggelam di penyeberangan akses Rengel, Tuban menghubungkan Desa Semambung, Kanor, Bojonegoro. Perahu diprediksi (berdasar video amatir) ada 19 penumpang dengan tujuh atau delapan motor. Sepuluh penumpang selamat. Lima korban ditemukan meninggal dunia dan empat korban belum ditemukan.
Petaka perahu penyeberangan tenggelam atau terbalik ini bukan kali pertama. Di Bojonegoro sudah terjadi empat kejadian memilukan ini. Seakan siklus 10 tahunan. Berdasar data dan dokumen dimiliki Jawa Pos Radar Bojonegoro, di awali 27 Maret 2011 di penyeberangan Kelurahan Ledok Kulon-Desa Trucuk.
Kejadian memilukan terjadi 2 Mei 2011. Perahu penyeberangan Desa Padang Trucuk menuju Desa Sukoharjo, Kalitidu itu mengangkut 31 penumpang. Berlanjut 27 Juni 2011 perahu penyeberangan mengangkut 16 penumpang di Desa/Kecamatan Kanor.
Belum hilang dalam ingatan kejadian kubah masjid terbang setelah disapu hujan disertai angin kencang. Bencana angin terjadi di Desa Sidomulyo, Kedungadem itu juga merusak beberapa rumah warga setempat.
Dan kejadian duka menimpa dua pengendara tewas setelah tertimpa pohon. Kejadian Kamis siang (11/11) terjadi di jalan kecamatan persisnya di Desa Pohwates, Kecamatan Kepohbaru, itu cukup menduka. Dua korban tewas itu dinyatakan kecelakaan tunggal, tentu tidak mendapat asuransi. Lantas, atas bencana ini, kepada siapa keluarga mengeluh?
Semua di atas tentang berita-berita hujan. Berdasar dokumen Satu Data Bojonegoro, pada 2018 ada 71 kejadian cuaca ekstrem berupa angin kencang atau puting beliung. Pada 2019 ada 287 kejadian. Dan selama 2020 ada 55 kejadian.
Setidaknya hujan mengingatkan atas mitigasi sejak awal. Edukasi bencana setidaknya perlu digalakkkan sejak dini. Perlu dimasukkan dalam kurikulum pendidikan. Sudah sepatutnya anak-anak jenjang SD/MI mendapat pelajaran tentang bencana. Mendapat edukasi kewaspadaan dan pencegahan bencana. Semua bencana, karena tidak hanya musim hujan saja bencana datang. Terlebih sejak SD/MI sudah mendapat pelajaran berenang. Lulus, harus bisa berenang. Mitigasi ini setidaknya jejak awal agar penanganan bencana tidak hanya terjadi ketika petaka sudah tiba.
Tere Liye dalam bukunya Hujan, menceritakan tokoh utama Esok dan Lail. Dua sosok ini dipertemukan setelah gunung meletus pada tahun 2042. Efek letusan gunung yang dahsyat membuat seisi bumi menyisihkan manusia. Dan tersisa sekitar 10 persen manusia.
Nah, musim hujan ini semoga kita tidak tersisih. Sebaliknya saling menguatkan.

Baca Juga :  Musisi Kafe Resah Karena Ada Pembatasan Lagi

Khorij Zaenal Asrori
Wartawan di Jawa Pos Radar Bojonegoro

HUJAN begitu syahdu bagi yang menikmatinya. Begitu merindu bagi yang menyukainya. Hujan menjadi berkah bagi petani yang menantinya. Sawah-sawah tadah hujan yang dahaga mulai basah dan berair.
Namun, hujan juga membuat kedinginan bagi badan yang tak mampu menerimanya. Hujan juga membawa  petaka bagi yang melanggarnya. Hujan membawa banjir, bagi masyarakat yang tak peduli kedatangan musim hujan.
Hujan juga membawa inspirasi bagi penulis-penulis hebat. Tere Liye menulis buku berjudul Hujan. Buku bersampul biru muda itu dengan gaya bahasa ringan dan mudah dipahami. Setidaknya, tidak ada orang yang tahu kapan musim panas akan berakhir. Hujan pun tidak kunjung turun membasahi bumi. Hal-hal tersebut mampu melambungkan imajinasi dari pembaca buku Hujan ini.
Saya juga lagi menikmati buku Hujan di Bawah Bantal. Buku ini koleksi sudah lama sekali. Bahkan, kutaruh di meja kantor hingga dibaca oleh teman sampai tuntas. Buku ditulis El Hadiansyah ini memberi kekuatan pada isinya.
Apapun itu, hujan membawa keseimbangan alam bagi sesamanya. Seperti di kawasan Kalianyar, Kecamatan Kapas, tadi malam (13/11), hujan terasa berkah bagi alam. Tak deras tapi bergemericik sejak petang hingga malam. Hujan malam ini melarutkan bintang-bintang untuk bersembunyi.
Klunting, siang itu pada 31 Oktober 2021, seorang redaktur mengirim pesan pendek. Ia menanyakan kesiapan petugas di daerah menghadapi musim peralihan dengan fenomena La Nina. Terutama kewaspadaan masyarakat di daerah aliran sungai (DAS) Bengawan Solo.  
Pertengahan Oktober lalu, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengirimkan sinyal adanya kewaspadaan cuaca ekstrem. Berupa hujan deras disertai angin kencang rentan terjadi sore menjelang malam.
Byar, belum lama dari pesan itu, hujan deras begitu menderas di sejumlah wilayah Bojonegoro. Hampir saban hari, hujan deras. Debit air Bengawan Solo pun menjadi naik. Air pasang dengan arus deras. Debit memang belum memasuki alarm siaga, namun arus tren naik.
Dan petaka itu terjadi 3 November lalu. Perahu tenggelam di penyeberangan akses Rengel, Tuban menghubungkan Desa Semambung, Kanor, Bojonegoro. Perahu diprediksi (berdasar video amatir) ada 19 penumpang dengan tujuh atau delapan motor. Sepuluh penumpang selamat. Lima korban ditemukan meninggal dunia dan empat korban belum ditemukan.
Petaka perahu penyeberangan tenggelam atau terbalik ini bukan kali pertama. Di Bojonegoro sudah terjadi empat kejadian memilukan ini. Seakan siklus 10 tahunan. Berdasar data dan dokumen dimiliki Jawa Pos Radar Bojonegoro, di awali 27 Maret 2011 di penyeberangan Kelurahan Ledok Kulon-Desa Trucuk.
Kejadian memilukan terjadi 2 Mei 2011. Perahu penyeberangan Desa Padang Trucuk menuju Desa Sukoharjo, Kalitidu itu mengangkut 31 penumpang. Berlanjut 27 Juni 2011 perahu penyeberangan mengangkut 16 penumpang di Desa/Kecamatan Kanor.
Belum hilang dalam ingatan kejadian kubah masjid terbang setelah disapu hujan disertai angin kencang. Bencana angin terjadi di Desa Sidomulyo, Kedungadem itu juga merusak beberapa rumah warga setempat.
Dan kejadian duka menimpa dua pengendara tewas setelah tertimpa pohon. Kejadian Kamis siang (11/11) terjadi di jalan kecamatan persisnya di Desa Pohwates, Kecamatan Kepohbaru, itu cukup menduka. Dua korban tewas itu dinyatakan kecelakaan tunggal, tentu tidak mendapat asuransi. Lantas, atas bencana ini, kepada siapa keluarga mengeluh?
Semua di atas tentang berita-berita hujan. Berdasar dokumen Satu Data Bojonegoro, pada 2018 ada 71 kejadian cuaca ekstrem berupa angin kencang atau puting beliung. Pada 2019 ada 287 kejadian. Dan selama 2020 ada 55 kejadian.
Setidaknya hujan mengingatkan atas mitigasi sejak awal. Edukasi bencana setidaknya perlu digalakkkan sejak dini. Perlu dimasukkan dalam kurikulum pendidikan. Sudah sepatutnya anak-anak jenjang SD/MI mendapat pelajaran tentang bencana. Mendapat edukasi kewaspadaan dan pencegahan bencana. Semua bencana, karena tidak hanya musim hujan saja bencana datang. Terlebih sejak SD/MI sudah mendapat pelajaran berenang. Lulus, harus bisa berenang. Mitigasi ini setidaknya jejak awal agar penanganan bencana tidak hanya terjadi ketika petaka sudah tiba.
Tere Liye dalam bukunya Hujan, menceritakan tokoh utama Esok dan Lail. Dua sosok ini dipertemukan setelah gunung meletus pada tahun 2042. Efek letusan gunung yang dahsyat membuat seisi bumi menyisihkan manusia. Dan tersisa sekitar 10 persen manusia.
Nah, musim hujan ini semoga kita tidak tersisih. Sebaliknya saling menguatkan.

Baca Juga :  Sidang Dakwaan Kasus Cukai

Khorij Zaenal Asrori
Wartawan di Jawa Pos Radar Bojonegoro

Artikel Terkait

Most Read

2021, Tahun Transformasi Bukopin Baru

Suka Tari Banyuwangi

Pulang, Santri Gontor Sehat

Artikel Terbaru


/