alexametrics
30.6 C
Bojonegoro
Friday, May 20, 2022

Seminggu, Sebelas Pasangan Bukan Muhrim Diamankan

BOJONEGORO – Satpol PP gencar razia di sejumlah kos-kosan. Diuga sejumlah lokasi kos menjadi tempat prostitusi. Salah satu penyebabnya, kos-kosan dinilai aman dan harganya terjangkau.  “Memang saat ini lebih banyak ditemui di tempat kos,” kata Kabid Penegakan Perundang-undangan Satpol PP Bojonegoro, Yopi Rahmat Selasa (14/11).

Yopi menjelaskan, tempat kos di Bojonegoro memang rentan digunakan sebagai wahana kegiatan prostitusi.

Selain pengawasan rendah, lokasi tempat kos sangat sulit diperhatikan. Sebab, hampir menyerupai rumah biasa. Kondisi ini menjadikan para pelaku tindak prostitusi lebih nyaman. 

Selasa (14/11), pihak satpol sudah mengamankan sebanyak 4 pasangan yang bukan muhrim di kos. Razia dilakukan tempat kos di Kelurahan Ledok Wetan dan kawasan Pondok Pinang. 

Baca Juga :  Pasangan Pelajar Terjaring Razia Kos

Dalam sepekan ini, satpol mengamankan sebanyak 11 pasangan. Yakni, pada Rabu-Kamis  (8-9/11) sebanyak 7 pasangan ditangkap. 

“Sebelumnya kita amankan 3 pasang, 4 pasang dan hari ini (kemarin) kembali 4 pasang,” imbuh dia. 

Dikonfirmasi lebih dalam, Yopi menjelaskan, kecenderungan pelaku prostitusi memilih tempat kos sebagai tempat indehoi karena alasan ekonomi.

Di tempat kos, biaya dikeluarkan lebih murah. Selain itu, ada opsi shorttime di mana para pengunjung bisa keluar dari kos kapanpun.

Untuk biaya short time, dari data dihimpun, biaya kos perjam mencapai Rp 60 ribu sampai Rp 70 ribu. Fakta itu diperkuat dengan mudahnya penghuni memesan tempat. 

 “Harusnya lebih selektif pada para penyewa. Agar tidak digunakan untuk hal-hal negatif,” imbuh dia. 

Baca Juga :  Tiga Bulan, 10 Korban Tewas Tenggelam

Sementara itu, Kepala Satpol PP Bojonegoro, Achmad Gunawan sangat menyayangkan dengan masih kerapnya ditemukan tempat kos plus-plus.

Dia mengimbau agar para pemilik kos tidak hanya fokus pada keuntungan ekonomi, melainkan juga mempertimbangkan norma hukum dan agama.

“Selain melanggar kedua norma tersebut, juga melanggar perda tentang trantibum,” pungkas dia.

BOJONEGORO – Satpol PP gencar razia di sejumlah kos-kosan. Diuga sejumlah lokasi kos menjadi tempat prostitusi. Salah satu penyebabnya, kos-kosan dinilai aman dan harganya terjangkau.  “Memang saat ini lebih banyak ditemui di tempat kos,” kata Kabid Penegakan Perundang-undangan Satpol PP Bojonegoro, Yopi Rahmat Selasa (14/11).

Yopi menjelaskan, tempat kos di Bojonegoro memang rentan digunakan sebagai wahana kegiatan prostitusi.

Selain pengawasan rendah, lokasi tempat kos sangat sulit diperhatikan. Sebab, hampir menyerupai rumah biasa. Kondisi ini menjadikan para pelaku tindak prostitusi lebih nyaman. 

Selasa (14/11), pihak satpol sudah mengamankan sebanyak 4 pasangan yang bukan muhrim di kos. Razia dilakukan tempat kos di Kelurahan Ledok Wetan dan kawasan Pondok Pinang. 

Baca Juga :  PDIP Terusik Pesan WA 

Dalam sepekan ini, satpol mengamankan sebanyak 11 pasangan. Yakni, pada Rabu-Kamis  (8-9/11) sebanyak 7 pasangan ditangkap. 

“Sebelumnya kita amankan 3 pasang, 4 pasang dan hari ini (kemarin) kembali 4 pasang,” imbuh dia. 

Dikonfirmasi lebih dalam, Yopi menjelaskan, kecenderungan pelaku prostitusi memilih tempat kos sebagai tempat indehoi karena alasan ekonomi.

Di tempat kos, biaya dikeluarkan lebih murah. Selain itu, ada opsi shorttime di mana para pengunjung bisa keluar dari kos kapanpun.

Untuk biaya short time, dari data dihimpun, biaya kos perjam mencapai Rp 60 ribu sampai Rp 70 ribu. Fakta itu diperkuat dengan mudahnya penghuni memesan tempat. 

 “Harusnya lebih selektif pada para penyewa. Agar tidak digunakan untuk hal-hal negatif,” imbuh dia. 

Baca Juga :  Tiga Kepala Dinas Dikandangkan

Sementara itu, Kepala Satpol PP Bojonegoro, Achmad Gunawan sangat menyayangkan dengan masih kerapnya ditemukan tempat kos plus-plus.

Dia mengimbau agar para pemilik kos tidak hanya fokus pada keuntungan ekonomi, melainkan juga mempertimbangkan norma hukum dan agama.

“Selain melanggar kedua norma tersebut, juga melanggar perda tentang trantibum,” pungkas dia.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/