alexametrics
22.7 C
Bojonegoro
Wednesday, June 29, 2022

Mereka Pun Bisa Bersinar

BOJONEGORO – Pada tahun ajaran 2017/2018, salah satu SMP di Bojonegoro yang diresmikan menjadi sekolah inklusi ialah SMPN 7 Bojonegoro. Sekolah tersebut diminta untuk menerima siswa ABK dan tidak boleh menolaknya. Kepala sekolah dan beberapa guru sudah didiklat oleh Dinas Pendidikan Bojonegoro. Awalnya memang sulit untuk beradaptasi dengan adanya siswa ABK di SMPN 7 Bojonegoro, namun perlahan mulai terbiasa.

Kepala SMPN 7 Bojonegoro Ahmadi mengatakan bahwa sekolah yang dipimpinnya sejak tahun ajaran ini harus menerima siswa ABK yang ingin mendaftar. Sebab, sudah diatur di Perbup Nomor 38 Tahun 2013 tentang Penyelenggaraan Pendidikan Inklusif di Bojonegoro. ’’Kami siap tidak siap harus melaju, demi terciptanya iklim yang egaliter di dunia pendidikan. Sebab, semua anak harus sekolah,” ujarnya. Sehingga, pada tahun ajaran ini, SMPN 7 Bojonegoro memasukkan satu siswa ABK tunanetra. ’’Di sekolah kami ada satu ABK asal Sumberrejo namanya Hafid, kelas 7A,” ujarnya.

Ahmadi juga menyebutkan, semenjak diterapkan sebagai sekolah inklusi, SMPN 7 Bojonegoro membentuk tim khusus untuk merumuskan kurikulum bagi siswa ABK tersebut. SDM yang dimanfaatkan merupakan guru-guru yang sudah ada, sehingga ada yang ditunjuk sebagai pendamping ahli dan khusus. Sebab, perlakuan guru terhadap ABK sangat berbeda. ’’Ini baru ada ABK tunanetra, belum lagi kalau ada ABK kelas lainnya,”ujarnya. Jadi, imbuh dia, perlu adanya adaptasi dari pihak guru juga.

Siswa ABK tunanetra tentu saat ulangan harus dibacakan dengan gurunya. Saat diajar juga perlu dibuatkan buku penghubung. Sehingga, saat di rumah, catatan dari guru bisa dibacakan ornag tuanya. Ahmadi mengungkapkan, anak ABK yang sekarang bersekolah di tempatnya sangat istimewa. ’’Hafid itu anaknya cerdas dan mudah bergaul dengan teman sekelasnya, ingatannya pun sangat kuat, sehingga secara intelegensi tidak ada masalah,” ujarnya. Teman-teman Hafid juga bisa menerimanya dengan baik. Walau awalnya sempat canggung, tetapi perlahan terbiasa dan bisa bercanda bersama.

Baca Juga :  Jelang Penutupan, Umbul-Umbul Bendera Sudah Siap Di Pasang

Wali kelas Hafid, Edi Sutikno, juga mengungkapkan, nilai-nilai ulangan Hafid dibanding teman sekelasnya termasuk yang tertinggi. Sehingga, menurut Edi, tidak ada masalah dalam proses pembelajaran Hafid di kelas. Hafid pun di kelas selalu bawa laptop yang sudah didesain khusus huruf braile, sehingga dia mencatat menggunakan laptop tersebut. ’’Hafid itu nilai ulangan seperti IPA dan PKN tertinggi, jadi dia itu cerdas. Selain itu, Hafid juga punya banyak prestasi sejak SD,” katanya.

Sementara itu, saat istirahat, Hafid  Ahmad Arrasyid menyempatkan waktu untuk bercerita kesan dia bersekolah di sekolah reguler. Dari raut wajahnya, Hafid sangat semringah. Dia bercerita dengan canda tawa dan memang dia sendiri yang ingin bersekolah di SMP reguler usai lulus dari SLB Putra Harapan. ’’Iya, saya pokoknya ingin sekolah di SMP reguler,” ujarnya. Berhubung orang tua Hafid juga guru di SMPN 7 Bojonegoro dan sudah diresmikan sebagai sekolah inklusi, akhirnya Hafid bisa bersekolah di SMP reguler.

Hafid juga merupakan atlet catur yang tergabung dalam Percasi Bojonegoro. Dia pernah meraih juara saat paralympic melawan sesama tunanetra di tingkat provinsi dan kerap ikut kejurkab dengan lawan anak normal. Selain jago bermain catur, Hafid juga sangat hobi bermain musik serta menyanyi. ’’Saya biasanya main piano, gitar, drum, dan menyanyi,” ujarnya. Tidak ada hal yang bisa menghalangi langkah Hafid. Kata bapaknya, Abdul Munip, Hafid di rumah juga bisa bersepeda di area dekat rumahnya. Jadi, Hafid sangat mudah mengobservasi lingkungan sekitarnya dan peka dengan orang-orang di sekitarnya.

Terpisah, ada pembina kesenian pantomim di Bojonegoro yang menggabungkan anak ABK dan anak biasa berkarya bersama. Pria tersebut bernama Mustakim, pria asal Desa Pacul, Kecamatan Kota Bojonegoro, itu sudah merintis kelompok pantomim ‘Ekspresif’ sejak 10 tahun yang lalu. Jadi, sebelum Bojonegoro menerapkan kabupaten inklusif, Mustakim sudah melakukan inklusi dalam kelompok pantomimnya. ’’Saya sudah rintis kelompok pantomim Ekspresif selama 10 tahun, pelan namun pasti,” ujarnya.

Baca Juga :  Ganti Sistem Produksi Garam, Petani Terbentur Modal

Ada rasa yang kurang pas ketika Mustakim melihat ABK di-bully oleh teman sebayanya yang normal. Sehingga, dari situlah dia merangkul anak-anak ABK untuk berkarya dan berani pentas pantomim. Mustakim mengatakan, mendidik ABK kelas B yakni tunawicara dan tunarungu. ’’Karena kelas B yang memang saat itu ada banyak di sekitar saya,” ujarnya. Dia pun belajar bahasa isyarat agar bisa berinteraksi dengan mereka. ’’Butuh waktu dua bulan saya belajar bahasa isyarat dan waktu enam bulan untuk menumbuhkan rasa percaya diri mereka untuk pentas,” ujarnya. Hingga pada akhirnya, karya mereka dipentaskan di Gedung Perak 10 tahun silam.

Setelah itu, Mustakim perlahan-lahan mencampur anak didiknya yang normal dengan ABK sehingga tercipta bahasa kesepakatan. Karena memang butuh kesepakatan untuk mereka mampu berkomunikasi dengan baik. ’’Sebelumnya, ABK itu takut komunikasi dengan orang normal dan yang normal kerap menyepelekan. Tetapi, perlahan sudah bisa cair suasananya,” ujarnya. Bahkan, pantomim kelas nasional seperti Septian Dwi Cahyo sangat mengapresiasi pergerakan Mustakim tersebut. Saat ini ada 30-50 anggota dalam kelompok pantomim Ekspresif.

Dalam waktu dekat, kelompok pantomim Ekspresif akan menampilkan karya yang sangat segar. Mereka mengangkat naskah wayang berjudul ‘Anoman Obong’ ditampilkan secara pantomim. Rencananya mereka juga akan tur Jawa Timur mulai bulan depan. ’’Kami akan tur ke Tuban dan Jember. Sebenarnya ada banyak kota yang menawarkan, namun kami terkendala dana yang sangat terbatas,” katanya.

BOJONEGORO – Pada tahun ajaran 2017/2018, salah satu SMP di Bojonegoro yang diresmikan menjadi sekolah inklusi ialah SMPN 7 Bojonegoro. Sekolah tersebut diminta untuk menerima siswa ABK dan tidak boleh menolaknya. Kepala sekolah dan beberapa guru sudah didiklat oleh Dinas Pendidikan Bojonegoro. Awalnya memang sulit untuk beradaptasi dengan adanya siswa ABK di SMPN 7 Bojonegoro, namun perlahan mulai terbiasa.

Kepala SMPN 7 Bojonegoro Ahmadi mengatakan bahwa sekolah yang dipimpinnya sejak tahun ajaran ini harus menerima siswa ABK yang ingin mendaftar. Sebab, sudah diatur di Perbup Nomor 38 Tahun 2013 tentang Penyelenggaraan Pendidikan Inklusif di Bojonegoro. ’’Kami siap tidak siap harus melaju, demi terciptanya iklim yang egaliter di dunia pendidikan. Sebab, semua anak harus sekolah,” ujarnya. Sehingga, pada tahun ajaran ini, SMPN 7 Bojonegoro memasukkan satu siswa ABK tunanetra. ’’Di sekolah kami ada satu ABK asal Sumberrejo namanya Hafid, kelas 7A,” ujarnya.

Ahmadi juga menyebutkan, semenjak diterapkan sebagai sekolah inklusi, SMPN 7 Bojonegoro membentuk tim khusus untuk merumuskan kurikulum bagi siswa ABK tersebut. SDM yang dimanfaatkan merupakan guru-guru yang sudah ada, sehingga ada yang ditunjuk sebagai pendamping ahli dan khusus. Sebab, perlakuan guru terhadap ABK sangat berbeda. ’’Ini baru ada ABK tunanetra, belum lagi kalau ada ABK kelas lainnya,”ujarnya. Jadi, imbuh dia, perlu adanya adaptasi dari pihak guru juga.

Siswa ABK tunanetra tentu saat ulangan harus dibacakan dengan gurunya. Saat diajar juga perlu dibuatkan buku penghubung. Sehingga, saat di rumah, catatan dari guru bisa dibacakan ornag tuanya. Ahmadi mengungkapkan, anak ABK yang sekarang bersekolah di tempatnya sangat istimewa. ’’Hafid itu anaknya cerdas dan mudah bergaul dengan teman sekelasnya, ingatannya pun sangat kuat, sehingga secara intelegensi tidak ada masalah,” ujarnya. Teman-teman Hafid juga bisa menerimanya dengan baik. Walau awalnya sempat canggung, tetapi perlahan terbiasa dan bisa bercanda bersama.

Baca Juga :  Jelang Penutupan, Umbul-Umbul Bendera Sudah Siap Di Pasang

Wali kelas Hafid, Edi Sutikno, juga mengungkapkan, nilai-nilai ulangan Hafid dibanding teman sekelasnya termasuk yang tertinggi. Sehingga, menurut Edi, tidak ada masalah dalam proses pembelajaran Hafid di kelas. Hafid pun di kelas selalu bawa laptop yang sudah didesain khusus huruf braile, sehingga dia mencatat menggunakan laptop tersebut. ’’Hafid itu nilai ulangan seperti IPA dan PKN tertinggi, jadi dia itu cerdas. Selain itu, Hafid juga punya banyak prestasi sejak SD,” katanya.

Sementara itu, saat istirahat, Hafid  Ahmad Arrasyid menyempatkan waktu untuk bercerita kesan dia bersekolah di sekolah reguler. Dari raut wajahnya, Hafid sangat semringah. Dia bercerita dengan canda tawa dan memang dia sendiri yang ingin bersekolah di SMP reguler usai lulus dari SLB Putra Harapan. ’’Iya, saya pokoknya ingin sekolah di SMP reguler,” ujarnya. Berhubung orang tua Hafid juga guru di SMPN 7 Bojonegoro dan sudah diresmikan sebagai sekolah inklusi, akhirnya Hafid bisa bersekolah di SMP reguler.

Hafid juga merupakan atlet catur yang tergabung dalam Percasi Bojonegoro. Dia pernah meraih juara saat paralympic melawan sesama tunanetra di tingkat provinsi dan kerap ikut kejurkab dengan lawan anak normal. Selain jago bermain catur, Hafid juga sangat hobi bermain musik serta menyanyi. ’’Saya biasanya main piano, gitar, drum, dan menyanyi,” ujarnya. Tidak ada hal yang bisa menghalangi langkah Hafid. Kata bapaknya, Abdul Munip, Hafid di rumah juga bisa bersepeda di area dekat rumahnya. Jadi, Hafid sangat mudah mengobservasi lingkungan sekitarnya dan peka dengan orang-orang di sekitarnya.

Terpisah, ada pembina kesenian pantomim di Bojonegoro yang menggabungkan anak ABK dan anak biasa berkarya bersama. Pria tersebut bernama Mustakim, pria asal Desa Pacul, Kecamatan Kota Bojonegoro, itu sudah merintis kelompok pantomim ‘Ekspresif’ sejak 10 tahun yang lalu. Jadi, sebelum Bojonegoro menerapkan kabupaten inklusif, Mustakim sudah melakukan inklusi dalam kelompok pantomimnya. ’’Saya sudah rintis kelompok pantomim Ekspresif selama 10 tahun, pelan namun pasti,” ujarnya.

Baca Juga :  Pendamping Desa - PNS Ikut Seleksi PPK

Ada rasa yang kurang pas ketika Mustakim melihat ABK di-bully oleh teman sebayanya yang normal. Sehingga, dari situlah dia merangkul anak-anak ABK untuk berkarya dan berani pentas pantomim. Mustakim mengatakan, mendidik ABK kelas B yakni tunawicara dan tunarungu. ’’Karena kelas B yang memang saat itu ada banyak di sekitar saya,” ujarnya. Dia pun belajar bahasa isyarat agar bisa berinteraksi dengan mereka. ’’Butuh waktu dua bulan saya belajar bahasa isyarat dan waktu enam bulan untuk menumbuhkan rasa percaya diri mereka untuk pentas,” ujarnya. Hingga pada akhirnya, karya mereka dipentaskan di Gedung Perak 10 tahun silam.

Setelah itu, Mustakim perlahan-lahan mencampur anak didiknya yang normal dengan ABK sehingga tercipta bahasa kesepakatan. Karena memang butuh kesepakatan untuk mereka mampu berkomunikasi dengan baik. ’’Sebelumnya, ABK itu takut komunikasi dengan orang normal dan yang normal kerap menyepelekan. Tetapi, perlahan sudah bisa cair suasananya,” ujarnya. Bahkan, pantomim kelas nasional seperti Septian Dwi Cahyo sangat mengapresiasi pergerakan Mustakim tersebut. Saat ini ada 30-50 anggota dalam kelompok pantomim Ekspresif.

Dalam waktu dekat, kelompok pantomim Ekspresif akan menampilkan karya yang sangat segar. Mereka mengangkat naskah wayang berjudul ‘Anoman Obong’ ditampilkan secara pantomim. Rencananya mereka juga akan tur Jawa Timur mulai bulan depan. ’’Kami akan tur ke Tuban dan Jember. Sebenarnya ada banyak kota yang menawarkan, namun kami terkendala dana yang sangat terbatas,” katanya.

Artikel Terkait

Most Read

Tak Mau Jadi Mahasiswi Kupu

Pasar Elektronik Lesu

Artikel Terbaru


/