alexametrics
29.2 C
Bojonegoro
Tuesday, June 28, 2022

Daerah Bisa Ajukan Dana Penanganan Kekeringan

BOJONEGORO – Pemerintah daerah tak sendirian dalam menangani kekeringan di wilayahnya.

Pemerintah pusat melalui Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyediakan dana untuk membantu menangani kekeringan untuk seluruh Indonesia.

”Kami menyediakan dana Rp 150 miliar untuk seluruh wilayah Indonesia. Jika kurang  bisa ditambah,’’ ujar Kepala BNPB Willem Rampangilei di sela-sela kunjungan ke Bojonegoro kemarin.

Dia menegaskan kembali soal ketersediaan dana yang bisa diakses oleh seluruh daerah. Untuk saat ini, dia mengaku dana tersebut cukup untuk menangani kekeringan.

Salah satunya membantu penyaluran air bersih. Bahkan, jika diperlukan juga bisa melakukan hujan buatan.

Namun, sampai saat ini kondisi kekeringan dan dampaknya masih bisa diatasi. ’’Karena, menurut perkiraan, kekeringan tahun ini tak separah tahun-tahun sebelumnya,’’ tambah dia.

Puncak kekeringan, dia sebut pada 2015 lalu, yang disebut kemarau ekstrem. Selain memang musim kemarau, juga ditambah dampak El Nino.

Sehingga, dengan kemarau yang tidak begitu ekstrem, penanganan masih bisa mungkin dilakukan dengan sumber daya daerah.

”Yang harus diperhatikan adalah suplai air bersih pada warga jangan sampai terhenti. Ini juga perintah presiden,’’ terangnya.

Catatan BNPB kemarau di Indonesia saat ini terjadi di seluruh Jawa, yakni Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur.

Kemudian juga di Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Nusa Tenggara Timur (NTT). Namun, sejauh ini dia menyebut masih bisa dikendalikan.

Baca Juga :  Kunjunagn Bupati: TPQ, Pondasi Pendidikan Karakter

Bila daerah sudah tidak mampu, bisa mengakses dana dari pusat dengan catatan sudah ditetapkan keadaan darurat kekeringan di daerah yang  bersangkutan.

’’Untuk menanggulangi harus ada sinergi antara pemerintah, masyarakat, dan pihak lain,’’ katanya.

Pihaknya berkunjung ke Bojonegoro karena Kota Ledre ini menjadi salah satu ikon penanganan bencana oleh daerah yang cukup baik.

Dia menyebut, di BNPB nama Bojonegoro sering disebut sebagai daerah yang berhasil mengelola bencana.

Untuk kekeringan misalnya, Pemkab Bojonegoro cerdas memanfaatkan potensi dan bisa menyiasati kekurangan.

”Karena tak bisa mengandalkan sumur bor, mereka buat embung. Ada sekitar 500 embung yang sudah dibuat itu bagus untuk ketersediaan air,’’ ungkapnya.

Karena itu, dia ingin melihat langsung kondisi di lapangan,  bagaimana mengelola kekeringan dengan sumber daya di daerah.

”Dari tahun ke tahun penanganan kekeringan semakin baik dan meningkat. Langkah cerdas yang dibuat Bojonegoro bisa dikembangkan,’’ tandasnya.

Sementara, Bupati Bojonegoro Suyoto menyatakan, untuk sementara ini masalah kekeringan di Bojonegoro belum bisa hilang seratus persen.

Sebab, ada beberapa wilayah kondisinya parah dan butuh penanganan khusus. Upaya pembuatan embung oleh pemkab dilakukan sebagai pilihan terakhir. ”Karena berkali-kali kita coba membuat sumur bor gagal,’’ terangnya.

Baca Juga :  Tryout SMP Selesai, MKKS Berharap Nilai Diumumkan

Upaya terus dilakukan, salah satunya dengan menggandeng banyak pihak. Pemkab, menggandeng Perhutani untuk memanfaatkan lahannya sebagai embung misalnya.

Juga pihak lain yang bisa diajak kerja sama menangani kekeringan. Sebab, kekeringan seolah tak pernah habis.

Satu desa tertangani tahun ini, tahun depan ada desa baru yang terdampak kekeringan. ”Ini mungkin akibat penggundulan hutan secara masal pada 1990-an lalu,’’ katanya.

Rombongan kepala BNPB diterima bupati di rumah dinas. Setelah beramah tamah beberapa saat, rombongan langsung meninjau ke lapangan. Salah satunya di Kecamatan Kanor.

Diberitakan sebelumnya, kemarau mulai menyebabkan kekeringan dan rawan air bersih.

Sedikitnya enam desa di tiga kecamatan sudah mengajukan bantuan air bersih ke pemkab. BPBD Bojonegoro menjadwalkan mulai Sabtu 16 September besok mulai dropping air. 

Enam desa itu adalah empat desa di Kecamatan Ngraho yakni Desa Nganti, Luwihaji, Jumok Sugihwaras.

Kemudian masing-masing satu desa di Kecamatan Kepohbaru yakni Desa Pejok dan Desa Gamongan, Kecamatan Tambakrejo. Dimungkinkan ada desa-desa lain yang menyusul.

Dua armada truk tangki disiagakan dengan kapasitas masing-masing 6.000 liter. Hanya, tidak menutup kemungkinan jika permintaan bertambah, armada yang disiagakan juga ditambah.

BOJONEGORO – Pemerintah daerah tak sendirian dalam menangani kekeringan di wilayahnya.

Pemerintah pusat melalui Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyediakan dana untuk membantu menangani kekeringan untuk seluruh Indonesia.

”Kami menyediakan dana Rp 150 miliar untuk seluruh wilayah Indonesia. Jika kurang  bisa ditambah,’’ ujar Kepala BNPB Willem Rampangilei di sela-sela kunjungan ke Bojonegoro kemarin.

Dia menegaskan kembali soal ketersediaan dana yang bisa diakses oleh seluruh daerah. Untuk saat ini, dia mengaku dana tersebut cukup untuk menangani kekeringan.

Salah satunya membantu penyaluran air bersih. Bahkan, jika diperlukan juga bisa melakukan hujan buatan.

Namun, sampai saat ini kondisi kekeringan dan dampaknya masih bisa diatasi. ’’Karena, menurut perkiraan, kekeringan tahun ini tak separah tahun-tahun sebelumnya,’’ tambah dia.

Puncak kekeringan, dia sebut pada 2015 lalu, yang disebut kemarau ekstrem. Selain memang musim kemarau, juga ditambah dampak El Nino.

Sehingga, dengan kemarau yang tidak begitu ekstrem, penanganan masih bisa mungkin dilakukan dengan sumber daya daerah.

”Yang harus diperhatikan adalah suplai air bersih pada warga jangan sampai terhenti. Ini juga perintah presiden,’’ terangnya.

Catatan BNPB kemarau di Indonesia saat ini terjadi di seluruh Jawa, yakni Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur.

Kemudian juga di Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Nusa Tenggara Timur (NTT). Namun, sejauh ini dia menyebut masih bisa dikendalikan.

Baca Juga :  Enam Bulan, 59 Orang Tewas di Jalan

Bila daerah sudah tidak mampu, bisa mengakses dana dari pusat dengan catatan sudah ditetapkan keadaan darurat kekeringan di daerah yang  bersangkutan.

’’Untuk menanggulangi harus ada sinergi antara pemerintah, masyarakat, dan pihak lain,’’ katanya.

Pihaknya berkunjung ke Bojonegoro karena Kota Ledre ini menjadi salah satu ikon penanganan bencana oleh daerah yang cukup baik.

Dia menyebut, di BNPB nama Bojonegoro sering disebut sebagai daerah yang berhasil mengelola bencana.

Untuk kekeringan misalnya, Pemkab Bojonegoro cerdas memanfaatkan potensi dan bisa menyiasati kekurangan.

”Karena tak bisa mengandalkan sumur bor, mereka buat embung. Ada sekitar 500 embung yang sudah dibuat itu bagus untuk ketersediaan air,’’ ungkapnya.

Karena itu, dia ingin melihat langsung kondisi di lapangan,  bagaimana mengelola kekeringan dengan sumber daya di daerah.

”Dari tahun ke tahun penanganan kekeringan semakin baik dan meningkat. Langkah cerdas yang dibuat Bojonegoro bisa dikembangkan,’’ tandasnya.

Sementara, Bupati Bojonegoro Suyoto menyatakan, untuk sementara ini masalah kekeringan di Bojonegoro belum bisa hilang seratus persen.

Sebab, ada beberapa wilayah kondisinya parah dan butuh penanganan khusus. Upaya pembuatan embung oleh pemkab dilakukan sebagai pilihan terakhir. ”Karena berkali-kali kita coba membuat sumur bor gagal,’’ terangnya.

Baca Juga :  Sebagai Putra Daerah, Debby Terpilih Caleg DPR RI

Upaya terus dilakukan, salah satunya dengan menggandeng banyak pihak. Pemkab, menggandeng Perhutani untuk memanfaatkan lahannya sebagai embung misalnya.

Juga pihak lain yang bisa diajak kerja sama menangani kekeringan. Sebab, kekeringan seolah tak pernah habis.

Satu desa tertangani tahun ini, tahun depan ada desa baru yang terdampak kekeringan. ”Ini mungkin akibat penggundulan hutan secara masal pada 1990-an lalu,’’ katanya.

Rombongan kepala BNPB diterima bupati di rumah dinas. Setelah beramah tamah beberapa saat, rombongan langsung meninjau ke lapangan. Salah satunya di Kecamatan Kanor.

Diberitakan sebelumnya, kemarau mulai menyebabkan kekeringan dan rawan air bersih.

Sedikitnya enam desa di tiga kecamatan sudah mengajukan bantuan air bersih ke pemkab. BPBD Bojonegoro menjadwalkan mulai Sabtu 16 September besok mulai dropping air. 

Enam desa itu adalah empat desa di Kecamatan Ngraho yakni Desa Nganti, Luwihaji, Jumok Sugihwaras.

Kemudian masing-masing satu desa di Kecamatan Kepohbaru yakni Desa Pejok dan Desa Gamongan, Kecamatan Tambakrejo. Dimungkinkan ada desa-desa lain yang menyusul.

Dua armada truk tangki disiagakan dengan kapasitas masing-masing 6.000 liter. Hanya, tidak menutup kemungkinan jika permintaan bertambah, armada yang disiagakan juga ditambah.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

Delapan Incumbent Kalah Suara

PT DESI Bakal Dilarang Beroperasi

Matangkan Persiapan

Rudjito – Zaenuri Divonis 4 Tahun


/