alexametrics
23.4 C
Bojonegoro
Wednesday, August 17, 2022

Laba Bank Sampah Disantunkan Keluarga Tidak Mampu

- Advertisement -

SAMPAH jika tak segera ditangani dengan serius akan menjadi bom waktu. Produksi sampah rumah tangga terus meningkat. Yuli Fitriana bergerak mengajak masyarakat untuk menabung sampah menjadi pundi-pundi rupiah.

Sampah plastik terlihat berserakan di lantai bangunan sederhana di Dusun Serning, Desa Selorejo, Kecamatan Baureno. Di sebelahnya terlihat sampah organik yang difermentasi untuk diolah menjadi pupuk organik.

Hampir setiap hari terlihat warga setempat mengirim sampah ke lokasi atau bank sampah. Lokasinya baru pindah karena dampak konflik politik desa. ’’Ini tempatnya baru pindah, biasa ada dinamika politik desa,’’ kata Yuli Fitriana, penggerak bank sampah Desa Selorejo.

Perempuan berjilbab itu menceritakan, awal berdirinya bank sampah pada 17 Maret 2016. Saat itu berawal komunitasnya yang peduli sampah. Memiliki gagasan menciptakan desa bebas dari sampah.

Baca Juga :  Masuk Kemarau, Waspada Kekeringan dan Kebakaran

Sebab, rumah tangga setiap hari memproduksi sampah. Belum lagi ketika setelah acara hajatan, sampah menumpuk. Pasti banyak sampah terbuang berserakan. Melihat itu, dia bersama komunitasnya bertekad mendirikan bank sampah.

- Advertisement -

’’Awalnya kami datang ke warga untuk memberi pengertian tentang bank sampah,’’ cerita perempuan jebolan Universitas Muhammadiyah Malang itu.

Saat tahun pertama, jumlah nasabah masih kurang dari 100 orang. Gerakan yang konsisten, saat ini jumlah nasabahnya mencapai 500 orang. Omzetnya juga bervariasi. Tergantung dari tabungan sampahnya.

Ada yang menjadi nasabah bank sampah sejak awal hingga saat ini, namun tabungan hasil dari sampah baru terkumpul Rp 7.000. Ada juga yang rajin menabung sampah setelah dikalkulasi hingga setahun, tabungannya mencapai Rp 7 juta.

’’Ya namanya orang banyak, harus sabar,’’ tutur ibu tiga anak tersebut.

Baca Juga :  Sajian Dance yang Sangat Enerjik

Selain nasabah rumah tangga, bank sampah itu juga bekerja sama dengan pesantren dan sekolah yang memiliki produktivitas lebih besar dibanding nasabah rumah tangga. Terkait sampah plastik, Yuli tidak langsung menjualnya dalam bentuk sampah.

Namun, dibuat kerajinan dengan berbagai bentuk. Sehingga mudah untuk dipasarkan. Dan akan memiliki nilai jual yang lebih tinggi. Sedangkan, sampah organik yang diolah menjadi pupuk selama ini tidak dijual.

Sebaliknya, diberikan kepada warga yang bersedia memanfaatkannya untuk pupuk organik. Berjalannya bank sampah terus mendapat tantangan. Tapi dengan tekad misi sosial, membuat tetap komitmen dan terus berjalan.

Karena laba dari bank sampah bukan untuk kepentingan pribadi. Sebaliknya untuk santunan kepada keluarga tidak mampu. Sehingga, saat ini banyak pemuda desa berempati dan bergabung menjadi penggerak bank sampah.

SAMPAH jika tak segera ditangani dengan serius akan menjadi bom waktu. Produksi sampah rumah tangga terus meningkat. Yuli Fitriana bergerak mengajak masyarakat untuk menabung sampah menjadi pundi-pundi rupiah.

Sampah plastik terlihat berserakan di lantai bangunan sederhana di Dusun Serning, Desa Selorejo, Kecamatan Baureno. Di sebelahnya terlihat sampah organik yang difermentasi untuk diolah menjadi pupuk organik.

Hampir setiap hari terlihat warga setempat mengirim sampah ke lokasi atau bank sampah. Lokasinya baru pindah karena dampak konflik politik desa. ’’Ini tempatnya baru pindah, biasa ada dinamika politik desa,’’ kata Yuli Fitriana, penggerak bank sampah Desa Selorejo.

Perempuan berjilbab itu menceritakan, awal berdirinya bank sampah pada 17 Maret 2016. Saat itu berawal komunitasnya yang peduli sampah. Memiliki gagasan menciptakan desa bebas dari sampah.

Baca Juga :  Uji Coba Jargas di Rumah Warga

Sebab, rumah tangga setiap hari memproduksi sampah. Belum lagi ketika setelah acara hajatan, sampah menumpuk. Pasti banyak sampah terbuang berserakan. Melihat itu, dia bersama komunitasnya bertekad mendirikan bank sampah.

- Advertisement -

’’Awalnya kami datang ke warga untuk memberi pengertian tentang bank sampah,’’ cerita perempuan jebolan Universitas Muhammadiyah Malang itu.

Saat tahun pertama, jumlah nasabah masih kurang dari 100 orang. Gerakan yang konsisten, saat ini jumlah nasabahnya mencapai 500 orang. Omzetnya juga bervariasi. Tergantung dari tabungan sampahnya.

Ada yang menjadi nasabah bank sampah sejak awal hingga saat ini, namun tabungan hasil dari sampah baru terkumpul Rp 7.000. Ada juga yang rajin menabung sampah setelah dikalkulasi hingga setahun, tabungannya mencapai Rp 7 juta.

’’Ya namanya orang banyak, harus sabar,’’ tutur ibu tiga anak tersebut.

Baca Juga :  Sekolah di Malo Sempat Ada Kendala

Selain nasabah rumah tangga, bank sampah itu juga bekerja sama dengan pesantren dan sekolah yang memiliki produktivitas lebih besar dibanding nasabah rumah tangga. Terkait sampah plastik, Yuli tidak langsung menjualnya dalam bentuk sampah.

Namun, dibuat kerajinan dengan berbagai bentuk. Sehingga mudah untuk dipasarkan. Dan akan memiliki nilai jual yang lebih tinggi. Sedangkan, sampah organik yang diolah menjadi pupuk selama ini tidak dijual.

Sebaliknya, diberikan kepada warga yang bersedia memanfaatkannya untuk pupuk organik. Berjalannya bank sampah terus mendapat tantangan. Tapi dengan tekad misi sosial, membuat tetap komitmen dan terus berjalan.

Karena laba dari bank sampah bukan untuk kepentingan pribadi. Sebaliknya untuk santunan kepada keluarga tidak mampu. Sehingga, saat ini banyak pemuda desa berempati dan bergabung menjadi penggerak bank sampah.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/