alexametrics
31.6 C
Bojonegoro
Wednesday, May 25, 2022

Tingkatkan Pelayanan, Tarif Air Minum Disesuaikan

PERUMDA (Perusahaan Umum Daerah) Air Minum Tirta Lestari Tuban terus mengoptimalisasi pelayanan terhadap seluruh pelanggan di Tuban Bumi Wali. Selama 24 jam non-stop, air bersih selalu mengalir. Puluhan pompa injeksi sebagai water balance setiap saat beroperasi tanpa henti. Salah satu alat vital itu mendapatkan perawatan agar selalu berfungi demi pelayanan prima dan maksimal. Hal ini ditopang kesiapsiagaan petugas selama 24 jam on call demi percepatan pelayanan gangguan dan lainnya.

Demi semakin lebih meningkatkan pelayanan, Perumda Air Minum Tirta Lestari Kabupaten Tuban melakukan penyesuaian tarif pemakaian air. Seluruh kelompok mengalami penyesuaian harga. Ini berlaku mulai rekening Agustus  dan dibayar mulai September 2019. Penyesuaian ini mengacu Perbup Nomor 18 Tahun 2019 tentang Tarif Air Minum, Pemasangan Sambungan Baru, Balik Nama, dan Denda Pelanggaran pada Perusahaan Umum Daerah Air Minum Tirta Lestari Tuban.

Selama ini, tarif yang berlaku mengacu pada Perbup 9 Tahun 2014 tentang Tarif Air Minum, Pemasangan Sambungan Baru, Balik Nama, dan Denda Pelanggaran pada Perusahaan Daerah Air Minum.  ‘’Jadi lima tahun baru melakukan penyesuaian tarif. Sebab kalau tidak segera menyesuaikan tarif, dikhawatirkan pelayanan turun (kurang maksimal),’’ kata Direktur Perumda Air Minum Tirta Lestari Tuban Slamet Riyadi kepada Jawa Pos Radar Tuban.

Disampaikan dia, penyesuaian semua kelompok ini hanya naik sekitar 38 persen dari tarif sebelumnya. Misalnya pada tarif air minum kelompok II A Blok I dengan kebutuhan dasar 0-10 M3 per bulannya. Kategori ini diperuntukkan di antaranya rumah tangga, yayasan sosial, lembaga sosial, sekolah negeri swasta, pondok pesantren, pelayanan kesehatan. Yakni dari tarif Rp 2.250 per M3 (atau Rp 27.000 per bulan per 10 M3) menjadi Rp 3.100 per M3 (Rp 37.500 per bulan per 10 M3). Total tarif per bulan itu sudah termasuk biaya pemeliharaan meter dan biaya administrasi rekening.

Baca Juga :  PKB Belum Tentukan Ketua DPRD Sementara

Dijelaskan Slamet Riyadi, penyesuaian tarif kebutuhan dasar di atas sudah sesuai dengan Permendagri Nomor 71 Tahun 2016 tentang Perhitungan dan Penetapan Tarif Air Minum. Dalam peraturan itu diamanatkan tarif kebutuhan dasar (0-10 M3), nominal tarif (per bulannya) tidak boleh melampaui 4 persen dari UMK (Upah Minumum Kabupaten) Tuban Rp 2.333.640. Atas dasar di atas dan dengan diberlakukannya tarif baru Rp 37.500 per bulan per 10 M3, maka nominal itu hanya 1,6 persen dari UMK. Sehingga tarif itu jauh di bawah ketentuan maksimum 4 persen dari UMK.

‘’Jadi prinsipnya (penyesuaian tarif) ini sudah sesuai dengan rambu-rambu (Permendagri, Perda dan Perbup) dan prinsip keterjangkauan membayar. Tarif baru ini berlaku mulai rekening Agustus 2019 dan dibayar bulan September,’’ tegasnya.

Lebih lanjut dia menyampaikan, penyesuaian tarif ini prinsipnya ingin lebih meningkatkan pelayanan yang selama ini telah berjalan 24 jam tanpa henti. Hal ini seiring dengan bertambahnya konsumen. Selain itu juga percepatan pengaduan yang segera cepat tertangani. Salah satunya mengantisipasi sebelum terjadi kerusakan alat dengan pemeliharaan percepatan.

Baca Juga :  Syamsul Pertanyakan Penerima Uang

‘’Sekarang pemeliharaan semakin lama semakin berat. Kalau dulu tepian jalan itu hanya tanah, kini sudah diaspal bahkan dicor. Tentu hal ini pekerjaan yang ekstra perlu segera tertangani. Dan percepatan penanganan kebocoran pipa segera teratasi. Ini demi mempertahankan pelayaan terbaik. Sehingga ada keseimbangan peningkatan pelayanan dengan penyesuaian tarif ini,’’ jelasnya.

Perlu diketahui, lanjut Slamet Riyadi, kondisi pelayanan air minum tidak seperti perusahaan listrik yang langsung auto nyala. Namun di Perumda Air Minum Tira Lestari, setiap listrik usai padam, air tidak bisa langsung mengalir seratus persen. Karena seluruh pompa beroperasi dalam proses loading pengisian untuk kebutuhan utama masyarakat terlebih dahulu. Setelah penuh baru dialirkan ke konsumen. ‘’Setiap bulan kebutuhan pembayaran listrik (pompa injeksi) sekitar Rp 800 juta,’’ tuturnya. 

Sementara untuk kondisi jaringan yang rusak, kini Perumda Air Minum Tirta Lestari telah melakukan sistem zonasi. Sehingga air bisa terus mengalir. Kecuali saat transmisi terputus total atau listrik padam total. Sedangkan untuk pembacaan meteran telah menggunakan teknologi canggih. Petugas pelaporan meteran langsung datang sesuai dengan titik kordinat dan hasilnya masuk ke server. Sehingga keakurasian data terjamin. Terkecuali rumahnya tutup, petugas wajib memberikan laporan berupa dokumentasi yang disertai waktunya. (zak/wid)

PERUMDA (Perusahaan Umum Daerah) Air Minum Tirta Lestari Tuban terus mengoptimalisasi pelayanan terhadap seluruh pelanggan di Tuban Bumi Wali. Selama 24 jam non-stop, air bersih selalu mengalir. Puluhan pompa injeksi sebagai water balance setiap saat beroperasi tanpa henti. Salah satu alat vital itu mendapatkan perawatan agar selalu berfungi demi pelayanan prima dan maksimal. Hal ini ditopang kesiapsiagaan petugas selama 24 jam on call demi percepatan pelayanan gangguan dan lainnya.

Demi semakin lebih meningkatkan pelayanan, Perumda Air Minum Tirta Lestari Kabupaten Tuban melakukan penyesuaian tarif pemakaian air. Seluruh kelompok mengalami penyesuaian harga. Ini berlaku mulai rekening Agustus  dan dibayar mulai September 2019. Penyesuaian ini mengacu Perbup Nomor 18 Tahun 2019 tentang Tarif Air Minum, Pemasangan Sambungan Baru, Balik Nama, dan Denda Pelanggaran pada Perusahaan Umum Daerah Air Minum Tirta Lestari Tuban.

Selama ini, tarif yang berlaku mengacu pada Perbup 9 Tahun 2014 tentang Tarif Air Minum, Pemasangan Sambungan Baru, Balik Nama, dan Denda Pelanggaran pada Perusahaan Daerah Air Minum.  ‘’Jadi lima tahun baru melakukan penyesuaian tarif. Sebab kalau tidak segera menyesuaikan tarif, dikhawatirkan pelayanan turun (kurang maksimal),’’ kata Direktur Perumda Air Minum Tirta Lestari Tuban Slamet Riyadi kepada Jawa Pos Radar Tuban.

Disampaikan dia, penyesuaian semua kelompok ini hanya naik sekitar 38 persen dari tarif sebelumnya. Misalnya pada tarif air minum kelompok II A Blok I dengan kebutuhan dasar 0-10 M3 per bulannya. Kategori ini diperuntukkan di antaranya rumah tangga, yayasan sosial, lembaga sosial, sekolah negeri swasta, pondok pesantren, pelayanan kesehatan. Yakni dari tarif Rp 2.250 per M3 (atau Rp 27.000 per bulan per 10 M3) menjadi Rp 3.100 per M3 (Rp 37.500 per bulan per 10 M3). Total tarif per bulan itu sudah termasuk biaya pemeliharaan meter dan biaya administrasi rekening.

Baca Juga :  Ajukan Formasi 184 CPNS, dan 484 PPPK

Dijelaskan Slamet Riyadi, penyesuaian tarif kebutuhan dasar di atas sudah sesuai dengan Permendagri Nomor 71 Tahun 2016 tentang Perhitungan dan Penetapan Tarif Air Minum. Dalam peraturan itu diamanatkan tarif kebutuhan dasar (0-10 M3), nominal tarif (per bulannya) tidak boleh melampaui 4 persen dari UMK (Upah Minumum Kabupaten) Tuban Rp 2.333.640. Atas dasar di atas dan dengan diberlakukannya tarif baru Rp 37.500 per bulan per 10 M3, maka nominal itu hanya 1,6 persen dari UMK. Sehingga tarif itu jauh di bawah ketentuan maksimum 4 persen dari UMK.

‘’Jadi prinsipnya (penyesuaian tarif) ini sudah sesuai dengan rambu-rambu (Permendagri, Perda dan Perbup) dan prinsip keterjangkauan membayar. Tarif baru ini berlaku mulai rekening Agustus 2019 dan dibayar bulan September,’’ tegasnya.

Lebih lanjut dia menyampaikan, penyesuaian tarif ini prinsipnya ingin lebih meningkatkan pelayanan yang selama ini telah berjalan 24 jam tanpa henti. Hal ini seiring dengan bertambahnya konsumen. Selain itu juga percepatan pengaduan yang segera cepat tertangani. Salah satunya mengantisipasi sebelum terjadi kerusakan alat dengan pemeliharaan percepatan.

Baca Juga :  PPDB SMA-SMK: Pagu Tertinggi SMKN 2 Bojonegoro

‘’Sekarang pemeliharaan semakin lama semakin berat. Kalau dulu tepian jalan itu hanya tanah, kini sudah diaspal bahkan dicor. Tentu hal ini pekerjaan yang ekstra perlu segera tertangani. Dan percepatan penanganan kebocoran pipa segera teratasi. Ini demi mempertahankan pelayaan terbaik. Sehingga ada keseimbangan peningkatan pelayanan dengan penyesuaian tarif ini,’’ jelasnya.

Perlu diketahui, lanjut Slamet Riyadi, kondisi pelayanan air minum tidak seperti perusahaan listrik yang langsung auto nyala. Namun di Perumda Air Minum Tira Lestari, setiap listrik usai padam, air tidak bisa langsung mengalir seratus persen. Karena seluruh pompa beroperasi dalam proses loading pengisian untuk kebutuhan utama masyarakat terlebih dahulu. Setelah penuh baru dialirkan ke konsumen. ‘’Setiap bulan kebutuhan pembayaran listrik (pompa injeksi) sekitar Rp 800 juta,’’ tuturnya. 

Sementara untuk kondisi jaringan yang rusak, kini Perumda Air Minum Tirta Lestari telah melakukan sistem zonasi. Sehingga air bisa terus mengalir. Kecuali saat transmisi terputus total atau listrik padam total. Sedangkan untuk pembacaan meteran telah menggunakan teknologi canggih. Petugas pelaporan meteran langsung datang sesuai dengan titik kordinat dan hasilnya masuk ke server. Sehingga keakurasian data terjamin. Terkecuali rumahnya tutup, petugas wajib memberikan laporan berupa dokumentasi yang disertai waktunya. (zak/wid)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/