alexametrics
27.6 C
Bojonegoro
Tuesday, May 24, 2022

Karena Suka, Akhirnya Terus Belajar

MOTOR-motor tua yang dikoleksi Hananto Utomo tidak hanya sebagai pajangan di rumah. Dia sering bepergian ke luar kota dengan motor antik tersebut tanpa takut mogok di jalan.

Puluhan motor antik berjajar di setiap sudut rumahnya. Ada yang mangkrak. Ada pula yang kondisinya normal. Namun, sebagian koleksi motor yang diparkir di halaman rumah itu dibiarkan berdebu.

’’Tiap koleksi motor antik saya berfungsi semua. Banyak juga yang mati tidak bisa jalan, jadinya proses untuk merestorasi itu satu per satu,’’ tutur pemilik koleksi motor antik itu, Hananto Utomo.

Di dalam rumahnya, masih ada motor-motor antik lagi yang tak kalah gagahnya. Di ruang tengah dipajang dua motor gede (moge) merek BSA keluaran tahun 1950-an. Kondisinya masih kinclong dan bisa jalan.

’’Selain motor BSA itu, saya juga lagi merestorasi motor BMW, tapi belum selesai,’’ tutur pria yang akrab disapa Uuk tersebut.

Samping rumahnya juga ada gudang yang berisi motor-motor antik miliknya. Onderdil motor pun menumpuk di segala sisi ruangan.

Baca Juga :  Jembatan Glendeng Mulai Dibuka

Uuk mencintai otomotif sejak duduk di bangku SMA. Dia kepincut dengan motor-motor antik dan menjadi kolektor sejak 1989. Di rumahnya, ada Norton, BMW, Triumph, BSA, Lambretta, Radex, DKW keluaran Eropa. Juga Suzuki B120, Yamaha YAS1, dan Yamaha RX Twins.

’’Di rumah sudah seperti bengkel, semuanya saya lakukan sendiri. Jadi saya memahami ciri-ciri motor keluaran Eropa, Amerika, maupun Jepang. Motor yang sudah mangkrak pun bisa saya fungsikan kembali,’’ jelas pria 51 tahun itu.

Mesin bubut serta semua perkakas untuk keperluan otomotif ada di teras rumah.

Berkat keahlian otodidaknya itu, Uuk sering menjadi guru tamu di salah satu SMK di Bojonegoro. “Karena suka, akhirnya terus belajar,” tuturnya.

Uuk pernah menjual koleksinya. Motor yang dijual itu ternyata akhirnya kembali ke tangannya lagi. Namun, Uuk menyimpan motor-motor favoritnya. Motor-motor tersebut tidak akan dia jual kepada siapapun.

Salah satu koleksi tertua dan favoritnya, BSA keluaran 1941. Motor itu kondisinya normal dan orderdilnya 90 persen orisinal. “Dulu saya belinya Rp 2,5 juta tahun 90-an, kalau sekarang sudah ada yang nawar di atas Rp 100 juta,” tutur jelas pria yang tinggal di Desa Sukorejo, Kecamatan Bojonegoro  itu.

Baca Juga :  Pantai Kelapa Terus Berbenah

Banyak cara untuk mendapatkan motor-motor antik tersebut. Uuk pernah keliling beberapa kota di Indonesia untuk mencari barang incarannya. Namun, terkadang dia mendapatkan informasi tentang motor antik dari komunitas sesama pecinta moge.

“Berbeda dengan sekarang ini, saya sekarang bisa mendapatkan motor antik dengan cara lebih mudah dengan memanfaatkan teknologi komunikasi,” ujarnya.

Sebagian motor antik itu digunakannya untuk touring. Uuk mengaku pernah touring ke  Makassar, Manado, Banjarmasin, Aceh, Bali, Bandung, Lampung, dan Jakarta.

Selama menjadi kolektor motor antik, Uuk merasa penyakit motor hanya ada dua. Jika tidak kelistrikan, maka karburator. Apabila tertarik menjadi kolektor moge antik, maka perlu banyak belajar seputar kelistrikan. Motor antik masih serba manual. Berbeda dengan motor keluaran terbaru yang kelistrikannya makin canggih.

MOTOR-motor tua yang dikoleksi Hananto Utomo tidak hanya sebagai pajangan di rumah. Dia sering bepergian ke luar kota dengan motor antik tersebut tanpa takut mogok di jalan.

Puluhan motor antik berjajar di setiap sudut rumahnya. Ada yang mangkrak. Ada pula yang kondisinya normal. Namun, sebagian koleksi motor yang diparkir di halaman rumah itu dibiarkan berdebu.

’’Tiap koleksi motor antik saya berfungsi semua. Banyak juga yang mati tidak bisa jalan, jadinya proses untuk merestorasi itu satu per satu,’’ tutur pemilik koleksi motor antik itu, Hananto Utomo.

Di dalam rumahnya, masih ada motor-motor antik lagi yang tak kalah gagahnya. Di ruang tengah dipajang dua motor gede (moge) merek BSA keluaran tahun 1950-an. Kondisinya masih kinclong dan bisa jalan.

’’Selain motor BSA itu, saya juga lagi merestorasi motor BMW, tapi belum selesai,’’ tutur pria yang akrab disapa Uuk tersebut.

Samping rumahnya juga ada gudang yang berisi motor-motor antik miliknya. Onderdil motor pun menumpuk di segala sisi ruangan.

Baca Juga :  Waspada! Covid Varian Baru Rentan Menginfeksi Anak dan Remaja

Uuk mencintai otomotif sejak duduk di bangku SMA. Dia kepincut dengan motor-motor antik dan menjadi kolektor sejak 1989. Di rumahnya, ada Norton, BMW, Triumph, BSA, Lambretta, Radex, DKW keluaran Eropa. Juga Suzuki B120, Yamaha YAS1, dan Yamaha RX Twins.

’’Di rumah sudah seperti bengkel, semuanya saya lakukan sendiri. Jadi saya memahami ciri-ciri motor keluaran Eropa, Amerika, maupun Jepang. Motor yang sudah mangkrak pun bisa saya fungsikan kembali,’’ jelas pria 51 tahun itu.

Mesin bubut serta semua perkakas untuk keperluan otomotif ada di teras rumah.

Berkat keahlian otodidaknya itu, Uuk sering menjadi guru tamu di salah satu SMK di Bojonegoro. “Karena suka, akhirnya terus belajar,” tuturnya.

Uuk pernah menjual koleksinya. Motor yang dijual itu ternyata akhirnya kembali ke tangannya lagi. Namun, Uuk menyimpan motor-motor favoritnya. Motor-motor tersebut tidak akan dia jual kepada siapapun.

Salah satu koleksi tertua dan favoritnya, BSA keluaran 1941. Motor itu kondisinya normal dan orderdilnya 90 persen orisinal. “Dulu saya belinya Rp 2,5 juta tahun 90-an, kalau sekarang sudah ada yang nawar di atas Rp 100 juta,” tutur jelas pria yang tinggal di Desa Sukorejo, Kecamatan Bojonegoro  itu.

Baca Juga :  Temukan Emas hingga Uang Kuno

Banyak cara untuk mendapatkan motor-motor antik tersebut. Uuk pernah keliling beberapa kota di Indonesia untuk mencari barang incarannya. Namun, terkadang dia mendapatkan informasi tentang motor antik dari komunitas sesama pecinta moge.

“Berbeda dengan sekarang ini, saya sekarang bisa mendapatkan motor antik dengan cara lebih mudah dengan memanfaatkan teknologi komunikasi,” ujarnya.

Sebagian motor antik itu digunakannya untuk touring. Uuk mengaku pernah touring ke  Makassar, Manado, Banjarmasin, Aceh, Bali, Bandung, Lampung, dan Jakarta.

Selama menjadi kolektor motor antik, Uuk merasa penyakit motor hanya ada dua. Jika tidak kelistrikan, maka karburator. Apabila tertarik menjadi kolektor moge antik, maka perlu banyak belajar seputar kelistrikan. Motor antik masih serba manual. Berbeda dengan motor keluaran terbaru yang kelistrikannya makin canggih.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/