alexametrics
24 C
Bojonegoro
Wednesday, May 25, 2022

Pastikan Varian Virus, Tunggu Penelitian ITD Unair

Radar Lamongan – RSUD dr Soegiri Lamongan pekan lalu mengirimkan beberapa sampel hasil tes polymerase chain reaction (PCR) dari pasien Covid-19 yang dirawat ke Institute Tropical Disease (ITD) Unair Surabaya. Sampel pasien yang dikirim itu hasil tes PCR-nya di bawah angka 25, yang diduga mengarah pada gejala terinfeksi virus korona varian terbaru.

Direktur RSUD dr Soegiri Lamongan dr Moh Chaidir Annas mengatakan, pihaknya belum bisa memastikan apakah sampel hasil tes PCR yang dikirim benar-benar bermuatan virus korona varian terbaru.

‘’Kita sedang memeriksakan ke ITD Unair dan hasilnya belum keluar. Jadi belum diketahui varian baru atau lama itu. Saya kurang hafal ada sampel-sampel dari berapa pasien yang kami kirimkan. Yang jelas, pasien dengan hasil PCR rendah kita kirim ke sana untuk dilakukan penelitian. Apakah itu varian baru atau tidak,’’ paparnya kepada Jawa Pos Radar Lamongan kemarin (14/6).

Baca Juga :  Suporter Desak Manajemen Evaluasi Total

Dia menuturkan, selain hasil tes PCR di bawah angka 25, ada enam kriteria gejala lain pada pasien Covid-19 aktif yang harus segera ditindaklanjuti. Se perti penularan virus yang terjadi sangat cepat serta meskipun sudah divaksin Covid-19, justru terinfeksi oleh virus tersebut.

‘’Ada enam kriterianya. Ada juga kriteria untuk anak-anak. Terutama bila CT value-nya di bawah 25, langsung kita kirim ke Unair untuk dilakukan penelitian. Dengan adanya kriteria tersebut, setiap varian virus punya ciri khas. Berapa tingkat fatality rate-nya, lalu penularannya cepat tapi tidak berbahaya. Sementara ini yang sedang berkembang di dunia sudah ketemu beberapa varian,’’ tuturnya.

Annas mengatakan, berdasarkan informasi dari ITD Unair, butuh waktu tujuh hingga sepuluh hari untuk meneliti sampel hasil tes PCR. ‘’Kita sudah kirim minggu lalu. Mudah-mudahan minggu ini sudah bisa kita terima hasilnya. Apakah sampel dari Lamongan ini sesuai dengan varian itu atau tidak. Itu kita tetap harus waspada dan taat prokes (protokol kesehatan),’’ imbuhnya.

Baca Juga :  Dipaksa Minum Arak, Duda Setubuhi Siswi 14 Tahun

Annas juga belum bisa menyimpulkan secara detail penyebab naiknya angka pemakaian bed occupation ratio (BOR) di Fasilitas Isolasi dan Layanan Covid-19 sejak dua pekan lalu. ‘’Ini mungkin dampak-dampak dari interaksi masyarakat yang sangat intens beberapa minggu lalu. Seperti ada momen mudik, kemudian ada masyarakat Lamongan yang merantau. Ternyata di lokasi yang ditinggali kondisinya zona merah. Lalu pulang ke rumah Lamongan sudah terinfeksi,’’ jelasnya.

Radar Lamongan – RSUD dr Soegiri Lamongan pekan lalu mengirimkan beberapa sampel hasil tes polymerase chain reaction (PCR) dari pasien Covid-19 yang dirawat ke Institute Tropical Disease (ITD) Unair Surabaya. Sampel pasien yang dikirim itu hasil tes PCR-nya di bawah angka 25, yang diduga mengarah pada gejala terinfeksi virus korona varian terbaru.

Direktur RSUD dr Soegiri Lamongan dr Moh Chaidir Annas mengatakan, pihaknya belum bisa memastikan apakah sampel hasil tes PCR yang dikirim benar-benar bermuatan virus korona varian terbaru.

‘’Kita sedang memeriksakan ke ITD Unair dan hasilnya belum keluar. Jadi belum diketahui varian baru atau lama itu. Saya kurang hafal ada sampel-sampel dari berapa pasien yang kami kirimkan. Yang jelas, pasien dengan hasil PCR rendah kita kirim ke sana untuk dilakukan penelitian. Apakah itu varian baru atau tidak,’’ paparnya kepada Jawa Pos Radar Lamongan kemarin (14/6).

Baca Juga :  Pagu PPDB SMAN dan SMKN Tidak Terpenuhi

Dia menuturkan, selain hasil tes PCR di bawah angka 25, ada enam kriteria gejala lain pada pasien Covid-19 aktif yang harus segera ditindaklanjuti. Se perti penularan virus yang terjadi sangat cepat serta meskipun sudah divaksin Covid-19, justru terinfeksi oleh virus tersebut.

‘’Ada enam kriterianya. Ada juga kriteria untuk anak-anak. Terutama bila CT value-nya di bawah 25, langsung kita kirim ke Unair untuk dilakukan penelitian. Dengan adanya kriteria tersebut, setiap varian virus punya ciri khas. Berapa tingkat fatality rate-nya, lalu penularannya cepat tapi tidak berbahaya. Sementara ini yang sedang berkembang di dunia sudah ketemu beberapa varian,’’ tuturnya.

Annas mengatakan, berdasarkan informasi dari ITD Unair, butuh waktu tujuh hingga sepuluh hari untuk meneliti sampel hasil tes PCR. ‘’Kita sudah kirim minggu lalu. Mudah-mudahan minggu ini sudah bisa kita terima hasilnya. Apakah sampel dari Lamongan ini sesuai dengan varian itu atau tidak. Itu kita tetap harus waspada dan taat prokes (protokol kesehatan),’’ imbuhnya.

Baca Juga :  Dipaksa Minum Arak, Duda Setubuhi Siswi 14 Tahun

Annas juga belum bisa menyimpulkan secara detail penyebab naiknya angka pemakaian bed occupation ratio (BOR) di Fasilitas Isolasi dan Layanan Covid-19 sejak dua pekan lalu. ‘’Ini mungkin dampak-dampak dari interaksi masyarakat yang sangat intens beberapa minggu lalu. Seperti ada momen mudik, kemudian ada masyarakat Lamongan yang merantau. Ternyata di lokasi yang ditinggali kondisinya zona merah. Lalu pulang ke rumah Lamongan sudah terinfeksi,’’ jelasnya.

Artikel Terkait

Most Read

Harus Jadi Benteng Pengaruh Radikalisme

PC NA Brondong Kunjungi Radar Bojonegoro

Jadi Penikmat Keindahan Pantai

Ebol Hengkang, Ade Tjantra Merapat 

Artikel Terbaru


/