alexametrics
26.2 C
Bojonegoro
Tuesday, May 17, 2022

Perjuangan Andik Santoso Menjadi Guru Honorer di Sekolah Pedalaman

Sekolah pedalaman tidak hanya di luar Jawa. Guru honorer asal Kecamatan Sukorame Kabupaten Lamongan, Andik Santoso mengisahkan sangat beratnya menjadi guru di sekolah pedalaman yang masuk wilayah Kabupaten Jombang.

M. GAMAL AYATULLAH, Radar Lamongan, Lamongan

Menuju SDN Jipurapah 2 di Dusun Kedungdendeng Desa Jipurapah Kecamatan Plandaan Kabupaten Jombang membutuhkan perjuangan. Kondisi jalannya berlumpur di tengah hutan dan juga harus melewati tiga sungai tanpa jembatan sepanjang sekitar 10 kilometer.

‘’Selama mengajar 16 tahun di sekolah itu saya sudah menghabiskan 10 sepeda motor,’’ ungkap Andik Santoso. Saking sulitnya kondisi jalan, menurut Andik, sepeda motor yang digunakan harus dimodifikasi seperti sepeda motor tril.

‘’Butuh waktu sekitar 1 jam untuk melewati jalan tersebut. Padahal kalau jalan biasa hanya butuh seperempat jam saja,’’ tukasnya. Andik mengaku mulai mengajar langsung di sekolah itu pada 2006.

Dia bersedia mengajar di sekolah terpencil itu karena memang sejak kecil ikut neneknya di desa tempat berdirinya sekolah itu. Setelah menginjak SMP sampai SMA, dia pindah mengikuti orangtuanya di Desa Kedungkumpul Kecamatan Sukorame Kabupaten Lamongan.

Baca Juga :  Konsultasikan Jabatan Direktur RSUDĀ 

Setelah lulus SMA, dia tersentuh ketika melihat sekolah di desa neneknya, tempat masa kecilnya. Tidak ada yang mau menjadi guru di sekolah yang sangat terisolasi tersebut. Sehingga dia terpanggil untuk membantu mengajar di sekolah tersebut. ‘’Dari ibukota kecamatan jaraknya 27 kilometer dan yang 10 kilometer medannya sangat berat,’’ ungkapnya.

Andik mengaku setiap hari berangkat dari rumahnya di Kecamatan Sukorame Lamongan sejak pukul 06.00. Sampai sekolah paling cepat pukul 07.00. Tapi sering hingga pukul 07.30. Lokasi sekolahnya perbatasan dengan wilayah Kecamatan Sukorame Lamongan. ‘’Kalau dari rumah di Sukorame lebih dekat daripada dari ibukota Kecamatan Plandaan,’’ ujarnya.

Pria yang masih bujang itu mengaku mengajar kelas 1 yang jumlah muridnya hanya 5 siswa. Untuk kelas lainya juga minim siswanya. Misalnya, kelas 2 hanya 7 siswa. Total siswa kelas 1 hingga 6, hanya berjumlah 37 siswa. ‘’Muridnya hanya dari desa itu saja,’’ ungkapnya.

Tidak dia saja yang bersedia mengabdi menjadi guru di sekolah tersebut. Tetapi ada dua guru PNS dan empat honorer termasuk dirinya. ‘’Tiga guru honorer yang lain, dulunya murid saya. Setelah lulus SLTA, ikut membantu mengajar,’’ katanya sambil tersenyum.

Baca Juga :  Lamongan Raih Nilai Tertinggi dari KPK

Andik sangat menyadari kalau mengajar di sekolah itu merupakan pengabdian. Karena pulang pergi butuh dua liter BBM. Sedangkan gajinya hanya Rp 350 ribu per bulan. ‘’Kalau dihitung jelas tidak cukup dengan gaji segitu,’’ tukasnya.

Namun dia mengaku tetap menjalani pekerjaannya itu sambil mencari tambahan penghasilan. Misalnya, dengan mencari burung, kayu bakar, atau entung jati saat pulang dari sekolah. Hasil penjualannya bisa untuk menambah penghasilan.

‘’Kalau soal makan tidak terlalu khawatir. Warga desa bergantian memberi makan kami,’’ ungkapnya tersenyum.

Saat musim hujan seperti saat ini, semakin berat perjuangannya menuju sekolah. Karena jalan menjadi berlumpur. Bahkan kadangkala harus dipanggul, dibantu warga yang lewat. ‘’Sehingga saya harus berangkat lebih pagi, agar tidak kesiangan sampai di sekolah,’’ tukasnya.

Sekolah pedalaman tidak hanya di luar Jawa. Guru honorer asal Kecamatan Sukorame Kabupaten Lamongan, Andik Santoso mengisahkan sangat beratnya menjadi guru di sekolah pedalaman yang masuk wilayah Kabupaten Jombang.

M. GAMAL AYATULLAH, Radar Lamongan, Lamongan

Menuju SDN Jipurapah 2 di Dusun Kedungdendeng Desa Jipurapah Kecamatan Plandaan Kabupaten Jombang membutuhkan perjuangan. Kondisi jalannya berlumpur di tengah hutan dan juga harus melewati tiga sungai tanpa jembatan sepanjang sekitar 10 kilometer.

‘’Selama mengajar 16 tahun di sekolah itu saya sudah menghabiskan 10 sepeda motor,’’ ungkap Andik Santoso. Saking sulitnya kondisi jalan, menurut Andik, sepeda motor yang digunakan harus dimodifikasi seperti sepeda motor tril.

‘’Butuh waktu sekitar 1 jam untuk melewati jalan tersebut. Padahal kalau jalan biasa hanya butuh seperempat jam saja,’’ tukasnya. Andik mengaku mulai mengajar langsung di sekolah itu pada 2006.

Dia bersedia mengajar di sekolah terpencil itu karena memang sejak kecil ikut neneknya di desa tempat berdirinya sekolah itu. Setelah menginjak SMP sampai SMA, dia pindah mengikuti orangtuanya di Desa Kedungkumpul Kecamatan Sukorame Kabupaten Lamongan.

Baca Juga :  Khawatir Pagu Tidak Terpenuhi

Setelah lulus SMA, dia tersentuh ketika melihat sekolah di desa neneknya, tempat masa kecilnya. Tidak ada yang mau menjadi guru di sekolah yang sangat terisolasi tersebut. Sehingga dia terpanggil untuk membantu mengajar di sekolah tersebut. ‘’Dari ibukota kecamatan jaraknya 27 kilometer dan yang 10 kilometer medannya sangat berat,’’ ungkapnya.

Andik mengaku setiap hari berangkat dari rumahnya di Kecamatan Sukorame Lamongan sejak pukul 06.00. Sampai sekolah paling cepat pukul 07.00. Tapi sering hingga pukul 07.30. Lokasi sekolahnya perbatasan dengan wilayah Kecamatan Sukorame Lamongan. ‘’Kalau dari rumah di Sukorame lebih dekat daripada dari ibukota Kecamatan Plandaan,’’ ujarnya.

Pria yang masih bujang itu mengaku mengajar kelas 1 yang jumlah muridnya hanya 5 siswa. Untuk kelas lainya juga minim siswanya. Misalnya, kelas 2 hanya 7 siswa. Total siswa kelas 1 hingga 6, hanya berjumlah 37 siswa. ‘’Muridnya hanya dari desa itu saja,’’ ungkapnya.

Tidak dia saja yang bersedia mengabdi menjadi guru di sekolah tersebut. Tetapi ada dua guru PNS dan empat honorer termasuk dirinya. ‘’Tiga guru honorer yang lain, dulunya murid saya. Setelah lulus SLTA, ikut membantu mengajar,’’ katanya sambil tersenyum.

Baca Juga :  Banjir Meluas : 1.691 Rumah Tergenang

Andik sangat menyadari kalau mengajar di sekolah itu merupakan pengabdian. Karena pulang pergi butuh dua liter BBM. Sedangkan gajinya hanya Rp 350 ribu per bulan. ‘’Kalau dihitung jelas tidak cukup dengan gaji segitu,’’ tukasnya.

Namun dia mengaku tetap menjalani pekerjaannya itu sambil mencari tambahan penghasilan. Misalnya, dengan mencari burung, kayu bakar, atau entung jati saat pulang dari sekolah. Hasil penjualannya bisa untuk menambah penghasilan.

‘’Kalau soal makan tidak terlalu khawatir. Warga desa bergantian memberi makan kami,’’ ungkapnya tersenyum.

Saat musim hujan seperti saat ini, semakin berat perjuangannya menuju sekolah. Karena jalan menjadi berlumpur. Bahkan kadangkala harus dipanggul, dibantu warga yang lewat. ‘’Sehingga saya harus berangkat lebih pagi, agar tidak kesiangan sampai di sekolah,’’ tukasnya.

Artikel Terkait

Most Read

Korsleting Listrik, Rumah Ludes

DBH Migas 2019 Tak Capai Target

Artikel Terbaru

/