alexametrics
26.8 C
Bojonegoro
Friday, May 20, 2022

Hirup Bau Busuk Ikan, Kandungan H2S dan SO2 Tinggi

PACIRAN –  Penyelidikan tentang kematian dua nelayan di kapal Bunga Mekar yang mengangkut ikan pirek terus dilakukan. Setelah Rabu (12/12) tim olah tempat kejadian perkara yang datang, kemarin (13/12) giliran tim Puslabfor Cabang Surabaya milik Mabes Polri serta Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit (BBTKLPP) Surabaya.

Kasatreskim Polres Lamongan, AKP Norman Wahyu Hidayat, mengatakan, tim olah TKP tak bisa mengambil sample salah satu ikan untuk dites. Alasannya, baunya sangat menyengat. Meski sudah membawa tabung oksigen, anggotanya tak tahan dengan bau ikan di boks.

‘’Tim Puslabfor Cabang Surabaya milik Mabes Polri. Setelah melakukan pengecekan, udara di dalam boks ikan tersebut keluar 1.960 ppm H2S dan 2.320 ppm SO2,’’ tuturnya.

Gas hidrogen sulfide dan sulfur dioksida sangat berbahaya bagi pernapasan dan kesehatan.  ‘’Untuk sample ikannya, sudah dibawa Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit  Surabaya,’’ ujar  Norman.

Hasil uji laboratorium diperkirakan baru diketahu empat hari hingga seminggu lagi. ‘’Kalau sudah ada hasilnya, pasti nanti akan saya beritahu secepatnya kandungan tersebut,’’ imbuh mantan kasatreskrim Polresta Sidoarjo tersebut.

Seperti diberitakan, dua ABK yang tewas itu, Kashuri, 39, dan Andi, 30, keduanya beralamatkan Kelurahan Blimbing, Kecamatan Paciran. Dua nelayan tersebut ikut melaut di kapal Bunga Mekar. Selain keduanya, nelayan yang menjadi ABK adalah Rizki Kurniawan, 22; Abdul Rochman, 23; Sutikno, 43; dan Agung Setiyawan, 28. Mereka juga warga Kelurahan Blimbing.

Baca Juga :  Banjir, Hasil Tambak di Lamongan Turun

Kapal yang dinahkodai Ansori, 48, tersebut tiba di TPI Brondong sekitar pukul 16.00 (11/12). Kapal milik Sloji 45, asal Kelurahan Blimbing itu ingin bongkar muatan.

Andi lalu menuju tempat boks penyimpanan ikan pirek. Namun, dia tiba – tiba pingsan. Abdul Rochman yang tak jauh dari boks itu, mengetahuinya. Dia meminta Ansori untuk menolong Andi. Ansori mendekat dan ikut pingsan.

Agung Setiyawan lalu berniat menolong Andi dan Ansori. Namun, dia juga ikut pingsan.  Kashuri juga bergegas mendekati boks. Dia berhasil menaikkan Ansori dan Agung Setiyawan.

Saat hendak mengangkat Andi, dia pingsan. Sutikno yang melihat kejadian itu, mencoba menolong. Namun, dia juga ikut pin­gsan.

Baca Juga :  KMU Eye Hospital, Rumah Sakit Mata Pertama di Kabupaten Lamongan

Abdul Rochman lalu memilih meminta bantuan warga sekitar. Andi dan Kashuri akhirnya dilarikan ke PKU Blimbing, Paciran. Namun, keduanya dinyatakan sudah meninggal dunia.

Sementara Ansori, Sutikno, dan Agung dibawa ke RS. KH. Abdurrahman Syamsuri Paciran. Mereka lalu dirujuk ke RSUD Dr Koesma Tuban.

Sementara itu, kondisi Ansori, Sutikno, dan Agung kemarin membaik. ‘’Dari tiga pasien yang dirawat, dua di antaranya sudah diizinkan untuk pulang,’’ kata Direktur RSUD Dr R Koesma Tuban, Saiful Hadi.

Satu pasien lagi, lanjut dia,  masih harus mendapatkan perawatan. Sebab, kondisinya belum sepenuhnya pulih. ‘’Kondisi kesehatannya memang sudah mulai membaik. Tapi belum diizinkan pulang,’’ katanya tanpa menyebut identitas yang bersangkutan.

Menurut  Saiful, saat masuk RSUD, ketiganya sempat mengalami kritis. Beruntung, para korban yang diduga menghirup gas beracun dari bau busuk ikan dalam kapal tersebut tidak terlambat dirujuk.

Sehingga, pasien mendapat penanganan secara intensif. ‘’Saat masuk (RSUD) ada yang dalam kondisi tidak sadarkan diri,’’ ujarnya kepada Jawa Pos Radar Tuban.

PACIRAN –  Penyelidikan tentang kematian dua nelayan di kapal Bunga Mekar yang mengangkut ikan pirek terus dilakukan. Setelah Rabu (12/12) tim olah tempat kejadian perkara yang datang, kemarin (13/12) giliran tim Puslabfor Cabang Surabaya milik Mabes Polri serta Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit (BBTKLPP) Surabaya.

Kasatreskim Polres Lamongan, AKP Norman Wahyu Hidayat, mengatakan, tim olah TKP tak bisa mengambil sample salah satu ikan untuk dites. Alasannya, baunya sangat menyengat. Meski sudah membawa tabung oksigen, anggotanya tak tahan dengan bau ikan di boks.

‘’Tim Puslabfor Cabang Surabaya milik Mabes Polri. Setelah melakukan pengecekan, udara di dalam boks ikan tersebut keluar 1.960 ppm H2S dan 2.320 ppm SO2,’’ tuturnya.

Gas hidrogen sulfide dan sulfur dioksida sangat berbahaya bagi pernapasan dan kesehatan.  ‘’Untuk sample ikannya, sudah dibawa Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit  Surabaya,’’ ujar  Norman.

Hasil uji laboratorium diperkirakan baru diketahu empat hari hingga seminggu lagi. ‘’Kalau sudah ada hasilnya, pasti nanti akan saya beritahu secepatnya kandungan tersebut,’’ imbuh mantan kasatreskrim Polresta Sidoarjo tersebut.

Seperti diberitakan, dua ABK yang tewas itu, Kashuri, 39, dan Andi, 30, keduanya beralamatkan Kelurahan Blimbing, Kecamatan Paciran. Dua nelayan tersebut ikut melaut di kapal Bunga Mekar. Selain keduanya, nelayan yang menjadi ABK adalah Rizki Kurniawan, 22; Abdul Rochman, 23; Sutikno, 43; dan Agung Setiyawan, 28. Mereka juga warga Kelurahan Blimbing.

Baca Juga :  Lepas Mahkota Duta Pariwisata

Kapal yang dinahkodai Ansori, 48, tersebut tiba di TPI Brondong sekitar pukul 16.00 (11/12). Kapal milik Sloji 45, asal Kelurahan Blimbing itu ingin bongkar muatan.

Andi lalu menuju tempat boks penyimpanan ikan pirek. Namun, dia tiba – tiba pingsan. Abdul Rochman yang tak jauh dari boks itu, mengetahuinya. Dia meminta Ansori untuk menolong Andi. Ansori mendekat dan ikut pingsan.

Agung Setiyawan lalu berniat menolong Andi dan Ansori. Namun, dia juga ikut pingsan.  Kashuri juga bergegas mendekati boks. Dia berhasil menaikkan Ansori dan Agung Setiyawan.

Saat hendak mengangkat Andi, dia pingsan. Sutikno yang melihat kejadian itu, mencoba menolong. Namun, dia juga ikut pin­gsan.

Baca Juga :  Banjir, Hasil Tambak di Lamongan Turun

Abdul Rochman lalu memilih meminta bantuan warga sekitar. Andi dan Kashuri akhirnya dilarikan ke PKU Blimbing, Paciran. Namun, keduanya dinyatakan sudah meninggal dunia.

Sementara Ansori, Sutikno, dan Agung dibawa ke RS. KH. Abdurrahman Syamsuri Paciran. Mereka lalu dirujuk ke RSUD Dr Koesma Tuban.

Sementara itu, kondisi Ansori, Sutikno, dan Agung kemarin membaik. ‘’Dari tiga pasien yang dirawat, dua di antaranya sudah diizinkan untuk pulang,’’ kata Direktur RSUD Dr R Koesma Tuban, Saiful Hadi.

Satu pasien lagi, lanjut dia,  masih harus mendapatkan perawatan. Sebab, kondisinya belum sepenuhnya pulih. ‘’Kondisi kesehatannya memang sudah mulai membaik. Tapi belum diizinkan pulang,’’ katanya tanpa menyebut identitas yang bersangkutan.

Menurut  Saiful, saat masuk RSUD, ketiganya sempat mengalami kritis. Beruntung, para korban yang diduga menghirup gas beracun dari bau busuk ikan dalam kapal tersebut tidak terlambat dirujuk.

Sehingga, pasien mendapat penanganan secara intensif. ‘’Saat masuk (RSUD) ada yang dalam kondisi tidak sadarkan diri,’’ ujarnya kepada Jawa Pos Radar Tuban.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/