alexametrics
29.8 C
Bojonegoro
Sunday, August 14, 2022

Penjaga Tambang Berpistol Edarkan SS

- Advertisement -

TUBAN, Radar Tuban – Utomo, pengedar sabu-sabu (SS) bersenjata api diringkus penyidik Badan Narkotika Nasional Kabupaten (BNNK) Tuban. Penangkapan penjaga tambang pasir ilegal tersebut berkat pengembangan kasus pengguna SS bernama Pandi dan Rohman yang lebih dulu ditangkap BNNK Tuban.

Barang bukti yang disita dari pengedar dan dua konsumennya tersebut, 4 poket SS seberat 2,65 gram lengkap dengan seperangkat alat penghisap. Barang bukti lain, 1 unit sepeda motor trail Honda CRF 150, uang tunai jutaan rupiah, 4 unit ponsel, slip bukti transfer hasil transaksi senilai belasan juta, dan timbangan SS. Dari tangan sang pengedar yang beridentitas warga Desa Wolutengah, Kecamatan Kerek itu diamankan dua pistol air soft gun kaliber 6 mm dan 4 mm.

Baca Juga :  Balai Rehabilitasi Bukan untuk Bandar

Kepala BNNK Tuban AKBP I Made Arjana dalam ekspos pengungkapan kasus tersebut menerangkan, berdasarkan pengakuan Utomo, pistol tersebut dibeli seharga Rp 3 juta dari seseorang di Bojonegoro. Terkait kepemilikan senjata api tersebut, kata Made, tersangka beralasan untuk membela diri ketika menjaga tambang ilegal di Kecamatan Kerek. ‘’Masih kami dalami apakah pistol ini berizin atau tidak,’’ tegas perwira berpangkat melati dua di pundak itu.

Mantan kepala BNNK Kabupaten Malang ini menjelaskan, Pandi merupakan warga Sokogunung, Kecamatan Kenduruan yang bekerja sebagai operator alat berat di tambang Desa Merkawang, Kecamatan Tambakboyo. Sementara Rohman, warga Desa Sumberarum, Kecamatan Kerek adalah pekerja serabutan. Diduga mereka  saling kenal dari jual-beli hasil tambang ilegal. ‘’Setelah dites urine, ketiganya positif narkoba,’’ kata Made.

Baca Juga :  Jackpot! Komplotan Pemeras Juga Positif Menggunakan SS

Perwira kelahiran Bali ini memastikan, pistol tersangka aktif dan bisa menembus tubuh manusia. Sementara satu pistol lainnya masih dalam lidik karena saat diamankan tanpa magazine. Jika terbukti membawa senjata ilegal, Utomo bisa dijerat pasal berlapis. Salah satu pasal yang dikenakan Undang-Undang Darurat Nomor 12 Tahun 1955 tentang kepemilikan senjata. ‘’Kami juga amankan puluhan peluru dari gotri milik tersangka,’’ ujar dia.

- Advertisement -

Made membeberkan, Utomo merupakan pengedar yang terkoneksi dengan bandar dari Mojokerto. Setiap zat psikotropika yang didapat dari bandar di kota tersebut dikemas ulang menjadi beberapa poket SS sebelum  dijual. Diduga peredaran SS ini sudah menyebar di sejumlah desa di Bumi Wali. ‘’Sementara satu konsumen lain masih buron, tapi identitas sudah kita kantongi,’’ tutur Made. (yud/ds)

TUBAN, Radar Tuban – Utomo, pengedar sabu-sabu (SS) bersenjata api diringkus penyidik Badan Narkotika Nasional Kabupaten (BNNK) Tuban. Penangkapan penjaga tambang pasir ilegal tersebut berkat pengembangan kasus pengguna SS bernama Pandi dan Rohman yang lebih dulu ditangkap BNNK Tuban.

Barang bukti yang disita dari pengedar dan dua konsumennya tersebut, 4 poket SS seberat 2,65 gram lengkap dengan seperangkat alat penghisap. Barang bukti lain, 1 unit sepeda motor trail Honda CRF 150, uang tunai jutaan rupiah, 4 unit ponsel, slip bukti transfer hasil transaksi senilai belasan juta, dan timbangan SS. Dari tangan sang pengedar yang beridentitas warga Desa Wolutengah, Kecamatan Kerek itu diamankan dua pistol air soft gun kaliber 6 mm dan 4 mm.

Baca Juga :  Setahun Tumbuh Seribu Unit Rumah

Kepala BNNK Tuban AKBP I Made Arjana dalam ekspos pengungkapan kasus tersebut menerangkan, berdasarkan pengakuan Utomo, pistol tersebut dibeli seharga Rp 3 juta dari seseorang di Bojonegoro. Terkait kepemilikan senjata api tersebut, kata Made, tersangka beralasan untuk membela diri ketika menjaga tambang ilegal di Kecamatan Kerek. ‘’Masih kami dalami apakah pistol ini berizin atau tidak,’’ tegas perwira berpangkat melati dua di pundak itu.

Mantan kepala BNNK Kabupaten Malang ini menjelaskan, Pandi merupakan warga Sokogunung, Kecamatan Kenduruan yang bekerja sebagai operator alat berat di tambang Desa Merkawang, Kecamatan Tambakboyo. Sementara Rohman, warga Desa Sumberarum, Kecamatan Kerek adalah pekerja serabutan. Diduga mereka  saling kenal dari jual-beli hasil tambang ilegal. ‘’Setelah dites urine, ketiganya positif narkoba,’’ kata Made.

Baca Juga :  Perbanyak Beasiswa, Pemkab Bojonegoro Serius Tingkatkan IPM

Perwira kelahiran Bali ini memastikan, pistol tersangka aktif dan bisa menembus tubuh manusia. Sementara satu pistol lainnya masih dalam lidik karena saat diamankan tanpa magazine. Jika terbukti membawa senjata ilegal, Utomo bisa dijerat pasal berlapis. Salah satu pasal yang dikenakan Undang-Undang Darurat Nomor 12 Tahun 1955 tentang kepemilikan senjata. ‘’Kami juga amankan puluhan peluru dari gotri milik tersangka,’’ ujar dia.

- Advertisement -

Made membeberkan, Utomo merupakan pengedar yang terkoneksi dengan bandar dari Mojokerto. Setiap zat psikotropika yang didapat dari bandar di kota tersebut dikemas ulang menjadi beberapa poket SS sebelum  dijual. Diduga peredaran SS ini sudah menyebar di sejumlah desa di Bumi Wali. ‘’Sementara satu konsumen lain masih buron, tapi identitas sudah kita kantongi,’’ tutur Made. (yud/ds)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/