alexametrics
25.2 C
Bojonegoro
Sunday, August 14, 2022

Bergantung Bahan Pokok dari Luar Daerah

- Advertisement -

KOTA –  Meski bisa dikembangkan di daerah sendiri, namun sejumlah komoditas bahan pokok masyarakat Bojonegoro sangat bergantung dari luar daerah.

Padahal, kondisi itu berpotensi memicu lonjakan harga. Lebih dari itu, saat terjadi kelangkaan, bakal sulit mencari cadangan karena daerah tidak mempersiapkan.

Berdasarkan data Dinas Ketahanan Pangan Bojonegoro, banyak komoditas bahan pokok didatangkan dari luar daerah. Padahal, bahan-bahan pokok tersebut bisa dikembangkan sendiri di Bojonegoro.

Sejumlah bahan pokok seperti terong, tomat, dan kelapa tergolong bahan pokok yang mayoritas didatangkan dari luar daerah. Padahal, dengan luas lahan di Bojonegoro, tentu bisa dikembangkan sendiri. 

’’Sebenarnya bisa dimaksimalkan di dalam daerah. Namun, memang masih banyak yang didatangkan dari luar,” kata Kabid Ketersediaan dan Kewaspadaan Pangan, Dinas Ketahanan Pangan Bojonegoro Moch. Rudianto kemarin.

Baca Juga :  Satgas TMMD 106 Kodim Cilacap, Gencar Gelorakan Gemar Membaca
- Advertisement -

Rudi menjelaskan, masih banyak komoditas didatangkan dari luar daerah. Terutama komoditas sayur dan barang dapur.

Mengingat kecenderungan yang mudah habis, tentu sangat berpotensi kelangkaan dan kenaikan harga secara mendadak.

Untuk terong, kebutuhan Bojonegoro tiap tahun mencapai 7.139 ton per tahun. Namun, jumlah produksinya sebesar 1.622 ton per tahun.

Sehingga, tiap tahun mendatangkan 5.517 ton. Untuk tomat, kebutuhan Bojonegoro tiap tahun mencapai 1.700 ton. Padahal, jumlah produksi tiap tahun hanya 63 ton.

Kondisi itu membuat tiap tahun Bojonegoro mendatangkan 1.657 ton tomat tiap tahun.

Sedangkan untuk kelapa, dengan kebutuhan sebesar 3.100 ton pertahun, produksi Bojonegoro hanya 73 ton setahun. Kondisi itu membuat tiap tahun Bojonegoro mendatangkan sebanyak 3.067 ton kelapa per tahun.  

Baca Juga :  Geledah Inspektorat, Cari Kerugian Negara

’’Andai itu bisa dimaksimalkan di dalam daerah, tentu bisa menekan harga dan menanggulangi kelangkaan,” ujar dia. 

Sementara itu, Sekretaris Komisi B DPRD Bojonegoro Lasuri mengatakan, melihat banyaknya komoditas dari luar, potensi kelangkaan sangat bisa terjadi.

Terutama saat pasokan dari luar daerah mengalami penurunan. Karena itu, dia berharap agar dinas terkait untuk mulai memperkuat menanam sendiri komoditas-komoditas tersebut. 

’’Dinas pertanian, utamanya PPL, harus rajin memberikan penyuluhan,” pungkas dia.

KOTA –  Meski bisa dikembangkan di daerah sendiri, namun sejumlah komoditas bahan pokok masyarakat Bojonegoro sangat bergantung dari luar daerah.

Padahal, kondisi itu berpotensi memicu lonjakan harga. Lebih dari itu, saat terjadi kelangkaan, bakal sulit mencari cadangan karena daerah tidak mempersiapkan.

Berdasarkan data Dinas Ketahanan Pangan Bojonegoro, banyak komoditas bahan pokok didatangkan dari luar daerah. Padahal, bahan-bahan pokok tersebut bisa dikembangkan sendiri di Bojonegoro.

Sejumlah bahan pokok seperti terong, tomat, dan kelapa tergolong bahan pokok yang mayoritas didatangkan dari luar daerah. Padahal, dengan luas lahan di Bojonegoro, tentu bisa dikembangkan sendiri. 

’’Sebenarnya bisa dimaksimalkan di dalam daerah. Namun, memang masih banyak yang didatangkan dari luar,” kata Kabid Ketersediaan dan Kewaspadaan Pangan, Dinas Ketahanan Pangan Bojonegoro Moch. Rudianto kemarin.

Baca Juga :  Kecamatan Balen Berpeluang Menjadi Sentra Ikan Koi
- Advertisement -

Rudi menjelaskan, masih banyak komoditas didatangkan dari luar daerah. Terutama komoditas sayur dan barang dapur.

Mengingat kecenderungan yang mudah habis, tentu sangat berpotensi kelangkaan dan kenaikan harga secara mendadak.

Untuk terong, kebutuhan Bojonegoro tiap tahun mencapai 7.139 ton per tahun. Namun, jumlah produksinya sebesar 1.622 ton per tahun.

Sehingga, tiap tahun mendatangkan 5.517 ton. Untuk tomat, kebutuhan Bojonegoro tiap tahun mencapai 1.700 ton. Padahal, jumlah produksi tiap tahun hanya 63 ton.

Kondisi itu membuat tiap tahun Bojonegoro mendatangkan 1.657 ton tomat tiap tahun.

Sedangkan untuk kelapa, dengan kebutuhan sebesar 3.100 ton pertahun, produksi Bojonegoro hanya 73 ton setahun. Kondisi itu membuat tiap tahun Bojonegoro mendatangkan sebanyak 3.067 ton kelapa per tahun.  

Baca Juga :  Hari Kejepit Dongkrak Penumpang Kereta Api di Bojonegoro

’’Andai itu bisa dimaksimalkan di dalam daerah, tentu bisa menekan harga dan menanggulangi kelangkaan,” ujar dia. 

Sementara itu, Sekretaris Komisi B DPRD Bojonegoro Lasuri mengatakan, melihat banyaknya komoditas dari luar, potensi kelangkaan sangat bisa terjadi.

Terutama saat pasokan dari luar daerah mengalami penurunan. Karena itu, dia berharap agar dinas terkait untuk mulai memperkuat menanam sendiri komoditas-komoditas tersebut. 

’’Dinas pertanian, utamanya PPL, harus rajin memberikan penyuluhan,” pungkas dia.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/