alexametrics
24 C
Bojonegoro
Wednesday, May 25, 2022

Pemkab Tak Anggarkan Air Bersih

BOJONEGORO – Tahun ini Pemkab Bojonegoro tidak menganggarkan pengadaan air bersih. Jika terjadi kekeringan, pemkab akan memintakan air bersih ke pihak ketiga. Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya selalu dianggarkan. 

Sebenarnya, pemkab menganggarkan air bersih. Namun, terkena imbas pemangkasan anggaran. Semua organisasi perangkat daerah (OPD) terkena pemangkasan 25 persen dari keseluruhan anggaran dimiliki.

‘’Kita sebenarnya ada, tapi kena pangkas 25 persen itu,’’ kata Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Bojonegoro Adie Witjaksono.

Dia memastikan, sebenarnya tahun ini ada alokasi anggaran pengadaan air bersih. Namun, anggaran terkena pangkas pada awal tahun ini. Meski begitu, permintaan air bersih akan tetap dilayani. 

Dinsos akan bekerja sama dengan perusahaan atau BUMD untuk mengadakan air bersih. Pengadaan air bersih nantinya bisa diambilkan dari dana corporate social responpibility (CSR). ‘’Ya kita nanti akan ambilkan dana CSR,’’ jelasnya.

Baca Juga :  Lagi, Warga Baureno Tenggelam 

Hingga kemarin (13/8), belum ada permintaan air bersih dari warga. Padahal, musim kemarau sudah berlangsung hampir dua bulan. Dia yakin, sedikit banyak ada permintaan air bersih. Sebab, beberapa wilayah di Bojonegoro berpotensi kekeringan. 

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bojonegoro juga mengatakan tidak memiliki anggaran dropping air bersih. Permintaan air bersih akan dilayani dengan bekerja sama dengan perusahaan yang mengeluarkan CSR.

Kasi Kedaruratan BPBD Budi Mulyono mengatakan, awalnya mengira anggaran air bersih dianggarkan dinsos. Namun, setelah dicek, dinsos juga tidak memiliki anggaran. Sehingga, tahun ini pengadaan air bersih hanya mengandalkan CSR perusahaan.

Hingga kini, kata Budi, belum ada desa atau kecamatan yang mengajukan bantuan air bersih. Sebab, belum ada krisis air bersih yang terjadi masyarakat. ‘’Sumur-sumur warga masih ada airnya,’’ jelasnya.

Baca Juga :  Ingin Jadi Desainer Muda, Gadis ini Terus Asah Kemampuannya

Sementara itu, sumur warga di sebagian wilayah mulai mengering. Sehingga warga mulai mencari sumber air ke wilayah tetangga. Hasil survei BPBD, sudah mulai ada pergerakan warga mencari sumber air di luar lingkungannya. 

Hal itu terlihat di sejumlah daerah rawan air bersih di beberapa kecamatan yang didatangi. Misalnya di Kecamatan Kepohbaru, Kedungadem, Sugihwaras. ‘’Kami jemput bola menyisir mulai dari timur sampai barat. Mendatangi desa-desa yang kategori rawan,’’ ujar Budi.

BOJONEGORO – Tahun ini Pemkab Bojonegoro tidak menganggarkan pengadaan air bersih. Jika terjadi kekeringan, pemkab akan memintakan air bersih ke pihak ketiga. Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya selalu dianggarkan. 

Sebenarnya, pemkab menganggarkan air bersih. Namun, terkena imbas pemangkasan anggaran. Semua organisasi perangkat daerah (OPD) terkena pemangkasan 25 persen dari keseluruhan anggaran dimiliki.

‘’Kita sebenarnya ada, tapi kena pangkas 25 persen itu,’’ kata Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Bojonegoro Adie Witjaksono.

Dia memastikan, sebenarnya tahun ini ada alokasi anggaran pengadaan air bersih. Namun, anggaran terkena pangkas pada awal tahun ini. Meski begitu, permintaan air bersih akan tetap dilayani. 

Dinsos akan bekerja sama dengan perusahaan atau BUMD untuk mengadakan air bersih. Pengadaan air bersih nantinya bisa diambilkan dari dana corporate social responpibility (CSR). ‘’Ya kita nanti akan ambilkan dana CSR,’’ jelasnya.

Baca Juga :  Tingkatkan Pemberdayaan Masyarakat, Tumbuhkan Wirausaha Baru

Hingga kemarin (13/8), belum ada permintaan air bersih dari warga. Padahal, musim kemarau sudah berlangsung hampir dua bulan. Dia yakin, sedikit banyak ada permintaan air bersih. Sebab, beberapa wilayah di Bojonegoro berpotensi kekeringan. 

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bojonegoro juga mengatakan tidak memiliki anggaran dropping air bersih. Permintaan air bersih akan dilayani dengan bekerja sama dengan perusahaan yang mengeluarkan CSR.

Kasi Kedaruratan BPBD Budi Mulyono mengatakan, awalnya mengira anggaran air bersih dianggarkan dinsos. Namun, setelah dicek, dinsos juga tidak memiliki anggaran. Sehingga, tahun ini pengadaan air bersih hanya mengandalkan CSR perusahaan.

Hingga kini, kata Budi, belum ada desa atau kecamatan yang mengajukan bantuan air bersih. Sebab, belum ada krisis air bersih yang terjadi masyarakat. ‘’Sumur-sumur warga masih ada airnya,’’ jelasnya.

Baca Juga :  Turun Rekom KASN, Segera Seleksi Sekda

Sementara itu, sumur warga di sebagian wilayah mulai mengering. Sehingga warga mulai mencari sumber air ke wilayah tetangga. Hasil survei BPBD, sudah mulai ada pergerakan warga mencari sumber air di luar lingkungannya. 

Hal itu terlihat di sejumlah daerah rawan air bersih di beberapa kecamatan yang didatangi. Misalnya di Kecamatan Kepohbaru, Kedungadem, Sugihwaras. ‘’Kami jemput bola menyisir mulai dari timur sampai barat. Mendatangi desa-desa yang kategori rawan,’’ ujar Budi.

Artikel Terkait

Most Read

25 Desa Minta Bantuan Air

Pemkab Jangan Tebang Pilih

519 Siswa SMAN 4 Tuban Flash Mob

Artikel Terbaru


/