alexametrics
23.5 C
Bojonegoro
Wednesday, August 10, 2022

Menjadi Koki, Pria ini Tak Bisa Terlalu Egois 

Siang itu terasa panas. Seteguk lemon tea mendarat di mulut seorang pria berperawakan tinggi dengan jenggot tipisnya. Setelah puas minum, segera diambilnya pisau serta telenan untuk mencincang bumbu yang disiapkan asistennya. Iramanya cepat, kres.. kres.. sreeeng, akhirnya bumbu masuk ke wajan panas dengan sedikit minyak ikan. 

Aroma nasi goreng tercium memadati ruangan berukuran sekitar 1 meter tersebut. Hanya 15 menit, nasi goreng sudah siap di piring, dengan pemanis timun serta sayur lainnya.  “Silakan dicicipi, nasi goreng spesial,” ujar Yuhanafi Alfi, kepada Jawa Pos Radar Lamongan. 

Dia menjadi sosok di balik menu – menu hotel tempatnya bekerja. Hanafi berlatar belakang pendidikan manajemen hotel. Setelah lulus kuliah di salah satu universitas di Malang, dia berkarir dari kota ke kota. Di antaranya Makassar dan Jakarta. 

Baca Juga :  Bupati Yes: Sebuah Kejayaan Dicapai Lewat Perjuangan

Menurut Hanafi, setiap koki memiliki karakter sendiri dalam menyajikan suatu masakan. Sebagai seorang koki hotel, dia tidak bisa terlalu egois terhadap selera. Koki hotel harus mengikuti arus daerah tempatnya berjualan. Di Lamongan, rasa asin dan pedas menjadi karakter lidah masyarakat setempat. Sehingga karakter masakan manis atau gurih akan sulit diterima. “Penyesuaian seperti ini sangat sulit bagi koki, minimal dua minggu baru bisa tepat,” tuturnya. 

Dia bercerita, awal karirnya menjadi koki pada sebuah hotel di luar Jawa. Latar belakang memasaknya lebih condong ke masakan Jawa. Dia dituntut menyesuaikan dengan lingkungan dan selera masyarakat setempat. 

Setelah berkeliling ke sejumlah daerah, empat tahun lalu tawaran diterima dari salah satu temannya yang kebetulan pemilik hotel. Hanafi mulai menjajal peruntukannya untuk berkarir di tanah kelahirannya. “Sempat canggung, tapi karena dekat keluarga jadi menikmati,” lanjutnya. 

Baca Juga :  Caleg Gagal Adu Nasib Lagi

Sebagai seorang senior chef di Hotel Elresas, Hanafi tidak langsung terjun ke dapur. Dia lebih banyak memantau. Untuk event besar, dia baru terjun langsung. Apalagi, ketika banyak kegiatan serta tamu, maka seluruh menu akan ditangani langsung. Dia mengakui bahwa beda tangan akan beda cita rasa. Karena itu, untuk skala besar selalu ditangani sendiri setiap prosesnya. 

Bagi Hanafi, menjadi seorang koki harus terbuka dengan perkembangan zaman. Bahkan evaluasi menu harus terus dilakukan untuk meningkatkan kemampuannya.

Siang itu terasa panas. Seteguk lemon tea mendarat di mulut seorang pria berperawakan tinggi dengan jenggot tipisnya. Setelah puas minum, segera diambilnya pisau serta telenan untuk mencincang bumbu yang disiapkan asistennya. Iramanya cepat, kres.. kres.. sreeeng, akhirnya bumbu masuk ke wajan panas dengan sedikit minyak ikan. 

Aroma nasi goreng tercium memadati ruangan berukuran sekitar 1 meter tersebut. Hanya 15 menit, nasi goreng sudah siap di piring, dengan pemanis timun serta sayur lainnya.  “Silakan dicicipi, nasi goreng spesial,” ujar Yuhanafi Alfi, kepada Jawa Pos Radar Lamongan. 

Dia menjadi sosok di balik menu – menu hotel tempatnya bekerja. Hanafi berlatar belakang pendidikan manajemen hotel. Setelah lulus kuliah di salah satu universitas di Malang, dia berkarir dari kota ke kota. Di antaranya Makassar dan Jakarta. 

Baca Juga :  Berstatus Profesional, Kursi Manajemen Persibo Masih Kosong

Menurut Hanafi, setiap koki memiliki karakter sendiri dalam menyajikan suatu masakan. Sebagai seorang koki hotel, dia tidak bisa terlalu egois terhadap selera. Koki hotel harus mengikuti arus daerah tempatnya berjualan. Di Lamongan, rasa asin dan pedas menjadi karakter lidah masyarakat setempat. Sehingga karakter masakan manis atau gurih akan sulit diterima. “Penyesuaian seperti ini sangat sulit bagi koki, minimal dua minggu baru bisa tepat,” tuturnya. 

Dia bercerita, awal karirnya menjadi koki pada sebuah hotel di luar Jawa. Latar belakang memasaknya lebih condong ke masakan Jawa. Dia dituntut menyesuaikan dengan lingkungan dan selera masyarakat setempat. 

Setelah berkeliling ke sejumlah daerah, empat tahun lalu tawaran diterima dari salah satu temannya yang kebetulan pemilik hotel. Hanafi mulai menjajal peruntukannya untuk berkarir di tanah kelahirannya. “Sempat canggung, tapi karena dekat keluarga jadi menikmati,” lanjutnya. 

Baca Juga :  Enam Kades Resmi Nyaleg

Sebagai seorang senior chef di Hotel Elresas, Hanafi tidak langsung terjun ke dapur. Dia lebih banyak memantau. Untuk event besar, dia baru terjun langsung. Apalagi, ketika banyak kegiatan serta tamu, maka seluruh menu akan ditangani langsung. Dia mengakui bahwa beda tangan akan beda cita rasa. Karena itu, untuk skala besar selalu ditangani sendiri setiap prosesnya. 

Bagi Hanafi, menjadi seorang koki harus terbuka dengan perkembangan zaman. Bahkan evaluasi menu harus terus dilakukan untuk meningkatkan kemampuannya.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/