alexametrics
24 C
Bojonegoro
Tuesday, June 28, 2022

Anindita Aninda, Bayi Kembar Siam Jalani Terapi Blue Light

SURABAYA – Bayi kembar siam, Anindita dan Aninda, belum beranjak dari ruang Neonatal Intensive Care Unit (NICU) Gedung Bedah Pusat Jantung Terpadu (GBPT) RSUD dr Soetomo. Jumat (13/4), hanya Continuous Positive Airway Pressure (CPAP) yang mulai dilepas. “Kondisi pernapasannya cukup membaik. Karena itu CPAP pelan – pelan kami lepas pukul 12.00 tadi,” ujar dokter Agus Harianto SpA (K). 

Selama CPAP dilepas, pernapasan kedua bayi perempuan itu pun diawasi dengan ketat. Sekitar pukul 14.30, sistem pernapasan bayi kembar siam dempet dada dan perut ini agak terganggu. Perawat yang berjaga kemudian melakukan pembersihan jalan napas. Riak dan lendir yang ada di saluran napas disedot keluar.

“Dengan pembersihan jalan napas ini seharusnya sudah tidak ada lagi hambatan oksigen masuk ke paru – paru,” lanjutnya.  Jika setelah itu bayi masih tersengal – sengal, maka CPAP harus kembali dipasang pada kedua bayi.

Selain sistem pernapasannya yang mulai membaik, asupan nutrisi keduanya juga meningkat. Di hari pertama kedatangan, konsumsi ASI yang bisa masuk sekitar 7 hingga 10 cc. Kemarin, sudah bisa mencapai 11 cc. ‘’Karena kondisi ibu masih belum memungkinkan memberikan ASI, sementara diberikan susu formula,” ujar ketua Tim Pusat Pelayanan Kembar Siam Terpadu RSUD dr Soetomo tersebut. 

Baca Juga :  Pelajar SLB Kesulitan Memahami Naskah Soal

Bayi pasangan Choirul Bariyah dan Timuzin Novianto itu juga sempat dideteksi mengalami gejala kuning. Saat dilakukan pengecekan, kadar bilirubinnya mencapai 18. Karena itu, tim dokter segera melakukan terapi blue light untuk mengatasinya. “Kemarin (Kamis, red) sore  sempat dilakukan terapi, tetapi bayi masih belum kuat,” tambahnya. 

Terapi baru kembali dilakukan kemarin sekitar pukul 06.00. Terapi ini akan terus dilakukan hingga kadar bilirubin normal.

Pemberian terapi blue light juga memiliki efek samping. Di antaranya, menimbulkan rasa panas, kulit memerah, hingga ke retina. Untuk menguranginya, bayi diberi penutup mata. Tujuannya, menghindari trauma terhadap sinar. Termasuk dengan melakukan monitor secara ketat. Selain terapi sinar, Anindita dan Aninda masing – masing sempat mendapatkan transfusi albumin sebanyak 5 cc. 

Sementara itu, Novianto harus bolak – balik Surabaya – Lamongan untuk mengurus administrasi. Kemarin, pria yang sehari – hari bekerja sebagai buruh tani itu berpamitan kepada para dokter sejenak untuk pulang. Dia ingin menengok kondisi sang istri yang sempat menurun pasca melahirkan si kembar. 

Seperti diberitakan, bayi kembar siam dempet dada dan perut dibawa ke RSUD dr Soetomo Rabu (11/4). Putri pasangan Choirul Bariyah dan Timuzin Novianto ini dijemput tim dari rumah sakit milik Pemprov Jatim tersebut.

Baca Juga :  Tanpa Beban, Tetap Harus Maksimal 

“Putri saya lahir hari Jumat (6/4) lalu. Sama sekali nggak menyangka kalau dia kembar,” ujar Novianto. 

Sang ayah bayi perempuan itu mengatakan, selama kehamilan, istrinya hanya sekali menjalani pemeriksaan ultrasonografi (USG). Kala itu, tidak terlihat tanda-tanda bayi kembar. Bariyah sebenarnya disarankan untuk melakukan USG lagi beberapa hari kemudian. Namun, dia tidak bersedia karena takut jika nanti hasilnya justru membuatnya cemas.

Tidak ada indikasi bayi kembar siam, Bariyah melahirkan putri kedua dan ketiganya dengan normal di RSIA Fatimah Lamongan. Novianto kaget melihat bayinya ternyata kembar dan dempet. “Dokternya juga kaget sewaktu melihat kok lahirnya kembar dempet,” lanjutnya. 

Selama kehamilan, pria 43 tahun itu tidak melihat adanya keganjilan pada istrinya. Semua terlihat normal. Mereka pun tidak memiliki firasat bahwa sang buah hati akan lahir dalam keadaan kembar dempet. Namun jika dirunut ke belakang, keluarga Novianto memiliki keturunan kembar. Tetapi selama ini belum ada yang dempet seperti kedua putrinya. “Kalau nama rencananya Anindita dan Aninda. Nama belakangnya Aprilia Putri semua,” ujarnya. (dwi/jpnn/)

SURABAYA – Bayi kembar siam, Anindita dan Aninda, belum beranjak dari ruang Neonatal Intensive Care Unit (NICU) Gedung Bedah Pusat Jantung Terpadu (GBPT) RSUD dr Soetomo. Jumat (13/4), hanya Continuous Positive Airway Pressure (CPAP) yang mulai dilepas. “Kondisi pernapasannya cukup membaik. Karena itu CPAP pelan – pelan kami lepas pukul 12.00 tadi,” ujar dokter Agus Harianto SpA (K). 

Selama CPAP dilepas, pernapasan kedua bayi perempuan itu pun diawasi dengan ketat. Sekitar pukul 14.30, sistem pernapasan bayi kembar siam dempet dada dan perut ini agak terganggu. Perawat yang berjaga kemudian melakukan pembersihan jalan napas. Riak dan lendir yang ada di saluran napas disedot keluar.

“Dengan pembersihan jalan napas ini seharusnya sudah tidak ada lagi hambatan oksigen masuk ke paru – paru,” lanjutnya.  Jika setelah itu bayi masih tersengal – sengal, maka CPAP harus kembali dipasang pada kedua bayi.

Selain sistem pernapasannya yang mulai membaik, asupan nutrisi keduanya juga meningkat. Di hari pertama kedatangan, konsumsi ASI yang bisa masuk sekitar 7 hingga 10 cc. Kemarin, sudah bisa mencapai 11 cc. ‘’Karena kondisi ibu masih belum memungkinkan memberikan ASI, sementara diberikan susu formula,” ujar ketua Tim Pusat Pelayanan Kembar Siam Terpadu RSUD dr Soetomo tersebut. 

Baca Juga :  Tiket di Kota Ludes Dua Jam

Bayi pasangan Choirul Bariyah dan Timuzin Novianto itu juga sempat dideteksi mengalami gejala kuning. Saat dilakukan pengecekan, kadar bilirubinnya mencapai 18. Karena itu, tim dokter segera melakukan terapi blue light untuk mengatasinya. “Kemarin (Kamis, red) sore  sempat dilakukan terapi, tetapi bayi masih belum kuat,” tambahnya. 

Terapi baru kembali dilakukan kemarin sekitar pukul 06.00. Terapi ini akan terus dilakukan hingga kadar bilirubin normal.

Pemberian terapi blue light juga memiliki efek samping. Di antaranya, menimbulkan rasa panas, kulit memerah, hingga ke retina. Untuk menguranginya, bayi diberi penutup mata. Tujuannya, menghindari trauma terhadap sinar. Termasuk dengan melakukan monitor secara ketat. Selain terapi sinar, Anindita dan Aninda masing – masing sempat mendapatkan transfusi albumin sebanyak 5 cc. 

Sementara itu, Novianto harus bolak – balik Surabaya – Lamongan untuk mengurus administrasi. Kemarin, pria yang sehari – hari bekerja sebagai buruh tani itu berpamitan kepada para dokter sejenak untuk pulang. Dia ingin menengok kondisi sang istri yang sempat menurun pasca melahirkan si kembar. 

Seperti diberitakan, bayi kembar siam dempet dada dan perut dibawa ke RSUD dr Soetomo Rabu (11/4). Putri pasangan Choirul Bariyah dan Timuzin Novianto ini dijemput tim dari rumah sakit milik Pemprov Jatim tersebut.

Baca Juga :  Tanpa Beban, Tetap Harus Maksimal 

“Putri saya lahir hari Jumat (6/4) lalu. Sama sekali nggak menyangka kalau dia kembar,” ujar Novianto. 

Sang ayah bayi perempuan itu mengatakan, selama kehamilan, istrinya hanya sekali menjalani pemeriksaan ultrasonografi (USG). Kala itu, tidak terlihat tanda-tanda bayi kembar. Bariyah sebenarnya disarankan untuk melakukan USG lagi beberapa hari kemudian. Namun, dia tidak bersedia karena takut jika nanti hasilnya justru membuatnya cemas.

Tidak ada indikasi bayi kembar siam, Bariyah melahirkan putri kedua dan ketiganya dengan normal di RSIA Fatimah Lamongan. Novianto kaget melihat bayinya ternyata kembar dan dempet. “Dokternya juga kaget sewaktu melihat kok lahirnya kembar dempet,” lanjutnya. 

Selama kehamilan, pria 43 tahun itu tidak melihat adanya keganjilan pada istrinya. Semua terlihat normal. Mereka pun tidak memiliki firasat bahwa sang buah hati akan lahir dalam keadaan kembar dempet. Namun jika dirunut ke belakang, keluarga Novianto memiliki keturunan kembar. Tetapi selama ini belum ada yang dempet seperti kedua putrinya. “Kalau nama rencananya Anindita dan Aninda. Nama belakangnya Aprilia Putri semua,” ujarnya. (dwi/jpnn/)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/