alexametrics
25.6 C
Bojonegoro
Tuesday, May 24, 2022

Angka Kematian Tinggi, Bidan Diminta Fokus Tangani Ibu dan Bayi

Radar Bojonegoro – Seiring momentum Hari Kesehatan Nasional (HKN) ke 56, Kabupaten Bojonegoro masih memiliki sejumlah pekerjaan rumah. Kaitannya potret dunia kesehatan. Masih patut menjadi atensi yakni angka kematian ibu (AKI) dan angka kematian bayi (AKB). Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Bojonegro Askan mengatakan, dua kasus tersebut masih menghantui. Mengingat datanya menempatkan Bojonegoro di posisi tinggi di Jawa Timur. Khususnya AKI menempati peringkat kedua tertinggi di bawah Kabupaten Jember.

‘’Sementara AKB meski tidak tinggi, angkanya juga mengkhawatirkan (banyak). Jadi yang paling utama itu (AKI dan AKB),” katanya kemarin (12/11). Menurut dia, kini perwakilan dokter-dokter di puskesmas se Bojonegoro sedang mengikuti pelatihan untuk menekan stunting atau anak terkendala tumbuh kembang. Difasilitasi oleh Kementerian Kesehatan (Kemenkes). Pesertanya dari sekitar 120 kabupaten se Indonesia dengan kasus AKI dan AKB tinggi. ‘’Bojonegoro termasuk dalam daerah itu. Nantinya AKI dan AKB bisa menurun,” ujar pria juga dokter kandungan dan anak di RSIA Fatma Bojonegoro itu.

Baca Juga :  Produksi Cabai Besar Lebih Banyak Dibanding Jenis Rawit

Menurut Askan, jumlah fasilitas kesehatan (faskes) atau rumah sakit di Bojonegoro sudah cukup banyak. Dengan 10 rumah sakit dan tiga RSUD. Lebih banyak dibanding Kabupaten Tuban dan Lamongan. Jumlah itupun belum termasuk puskesmas dan polindes.

‘’Jadi saya rasa untuk faskes sudah banyak dan harusnya bisa dimaksimalkan. Tinggal meningkatkan pelayanan, peralatan, dan SDM (sumber daya manusia). Tentu bagi yang masih kurang,” ujar Askan. Menurut dia, Pemkab Bojonegoro juga telah menitikberatkan pada kasus ini. Bersinergi dengan pihak rumah sakit, puskesmas, hingga bidan. Sehingga selanjutnya menggenjot upaya-upaya menekan kasus AKI dan AKB. ‘’Sedianya semua pihak faskes mulai saat ini harus bersinergi. 

Baik itu faskes swasta maupun milik pemerintah. Saling bahu membahu menangani ibu hamil dan bayi,” tutur dia. Selain sinergi, kunci menekan AKI dan AKB yakni memaksimalkan peranan bidan di polindes. Memberi mereka ruang agar bisa fokus menangani ibu hamil dan bayi. Sebab, ia merasa bidan mengemban banyak pekerjaan sekiranya tidak perlu.

Baca Juga :  Gencarkan Vaksinasi Door To Door, Sasar ODGJ dan Disabilitas

‘’Akibatnya kinerja mereka tidak bisa maksimal. Karena buktinya yang ditangani macam-macam dan banyak. Mulai saat ini mereka bisa fokus menangani itu demi menekan laju AKI dan AKB,” jelasnya. Selain AKI dan AKB, menurut Askan, stunting juga masih menjadi problem bagi Bojonegoro. Meskipun telah menunjukkan tren positif dan angkanya tidak setinggi tahun-tahun sebelumnya. Prinsipnya patut digalakkan lagi kinerja baiknya.

Radar Bojonegoro – Seiring momentum Hari Kesehatan Nasional (HKN) ke 56, Kabupaten Bojonegoro masih memiliki sejumlah pekerjaan rumah. Kaitannya potret dunia kesehatan. Masih patut menjadi atensi yakni angka kematian ibu (AKI) dan angka kematian bayi (AKB). Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Bojonegro Askan mengatakan, dua kasus tersebut masih menghantui. Mengingat datanya menempatkan Bojonegoro di posisi tinggi di Jawa Timur. Khususnya AKI menempati peringkat kedua tertinggi di bawah Kabupaten Jember.

‘’Sementara AKB meski tidak tinggi, angkanya juga mengkhawatirkan (banyak). Jadi yang paling utama itu (AKI dan AKB),” katanya kemarin (12/11). Menurut dia, kini perwakilan dokter-dokter di puskesmas se Bojonegoro sedang mengikuti pelatihan untuk menekan stunting atau anak terkendala tumbuh kembang. Difasilitasi oleh Kementerian Kesehatan (Kemenkes). Pesertanya dari sekitar 120 kabupaten se Indonesia dengan kasus AKI dan AKB tinggi. ‘’Bojonegoro termasuk dalam daerah itu. Nantinya AKI dan AKB bisa menurun,” ujar pria juga dokter kandungan dan anak di RSIA Fatma Bojonegoro itu.

Baca Juga :  Terancam Gusur, Warga Sukorejo Wadul Dewan

Menurut Askan, jumlah fasilitas kesehatan (faskes) atau rumah sakit di Bojonegoro sudah cukup banyak. Dengan 10 rumah sakit dan tiga RSUD. Lebih banyak dibanding Kabupaten Tuban dan Lamongan. Jumlah itupun belum termasuk puskesmas dan polindes.

‘’Jadi saya rasa untuk faskes sudah banyak dan harusnya bisa dimaksimalkan. Tinggal meningkatkan pelayanan, peralatan, dan SDM (sumber daya manusia). Tentu bagi yang masih kurang,” ujar Askan. Menurut dia, Pemkab Bojonegoro juga telah menitikberatkan pada kasus ini. Bersinergi dengan pihak rumah sakit, puskesmas, hingga bidan. Sehingga selanjutnya menggenjot upaya-upaya menekan kasus AKI dan AKB. ‘’Sedianya semua pihak faskes mulai saat ini harus bersinergi. 

Baik itu faskes swasta maupun milik pemerintah. Saling bahu membahu menangani ibu hamil dan bayi,” tutur dia. Selain sinergi, kunci menekan AKI dan AKB yakni memaksimalkan peranan bidan di polindes. Memberi mereka ruang agar bisa fokus menangani ibu hamil dan bayi. Sebab, ia merasa bidan mengemban banyak pekerjaan sekiranya tidak perlu.

Baca Juga :  Siap-Siap Tutup Doorlat

‘’Akibatnya kinerja mereka tidak bisa maksimal. Karena buktinya yang ditangani macam-macam dan banyak. Mulai saat ini mereka bisa fokus menangani itu demi menekan laju AKI dan AKB,” jelasnya. Selain AKI dan AKB, menurut Askan, stunting juga masih menjadi problem bagi Bojonegoro. Meskipun telah menunjukkan tren positif dan angkanya tidak setinggi tahun-tahun sebelumnya. Prinsipnya patut digalakkan lagi kinerja baiknya.

Artikel Terkait

Most Read

Petakan Kebutuhan Cold Storage

Pencuri Ini Nekad, Tiga Rumah Disikat

Perbaikan Jalan Nasional Bikin Macet

Artikel Terbaru


/