alexametrics
27.1 C
Bojonegoro
Wednesday, May 25, 2022

Polres Selidiki Kasus Keluarga Tewas Akibat Listrik Jebakan Tikus

Radar Bojonegoro – Kejadian petani tewas kesetrum jebakan tikus listrik bukan kali pertama. Sebelumnya, sudah tiga kali kejadian mengakibatkan petani tewas. Namun, kejadian di Dusun Prijek, Desa Tambahrejo, Kecamatan Kanor, kemarin (12/10) cukup mengagetkan.

Empat korban tewas, yakni satu sekeluarga tergeletak di lahan cabai milik tetangganya. Kepolisian masih menyelidiki adanya unsur kelalaian menyebabkan orang meninggal dunia atas kejadian di Desa Tambahrejo itu.

Kapolres Bojonegoro AKBP M. Budi Hendrawan mengatakan, anggota satreskrim masih memeriksa saksi-saksi. Menurutnya, jika kasus tersebut memang memenuhi unsur pidana, akan diproses sesuai ketentuan hukum berlaku.

Namun, hingga berita ini ditulis, tim penyidik masih proses mendalami kasus tersebut. “Kalau memang empat korban itu meninggal akibat kelalaian seseorang, tentu bisa dijerat pasal 359 KUHP. Tapi, saat ini kami masih proses pemeriksaan saksisaksi di TKP (tempat kejadian perkara),” tutur Kapolres.

Baca Juga :  Bagi Gadis ini Partisipasi Pemilu itu Penting

Adapun isi pasal 359 KUHP yakni barang siapa karena kealpaannya menyebabkan orang lain mati, diancam pidana penjara paling lama lima tahun atau pidana kurungan paling lama satu tahun. Perlu diketahui, empat korban meninggal dunia tersebut terdiri atas pasutri Parno, 60, dan Riswati, 51. Lalu kedua anaknya Jayadi, 30, dan Zaenal Arifin, 21.

“Kejadian ini harus jadi pelajaran bagi para petani lain, agar menghindari memasang jebakan tikus beraliran listrik yang bisa membahayakan orang lain,” ujar Budi. Sementara itu, di wilayah Bojonegoro juga memang belum ada aturan atau regulasi pelarangan memasang jebakan tikus beraliran listrik. Namun, petani memasang jebakan tikus listrik juga masih banyak.

Baca Juga :  Dana Tunjangan Profesi Masih Nyantol Rp 87 M

Kepala Satpol PP Bojonegoro Arief Nanang Sugianto mengatakan, belum ada peraturan seperti peraturan bupati (perbup) yang mengatur larangan tersebut. Menurutnya, kelalaian yang bisa menyebabkan orang meninggal dunia masuk ke dalam hukum pidana.

“Hingga saat ini memang belum ada perbup yang mengatur larangan pemasangan jebakan tikus beraliran listrik, paling mungkin hukum pidana,” ucapnya. Berdasar data dihimpun Jawa Pos Radar Bojonegoro, sejak Januari hingga Oktober sudah ada tiga petani tewas akibat tersengat listrik jebakan tikus. Pada 31 Juli, seorang petani bernama Tabri, 71, warga Dusun Panasan, Desa Bumiayu, Kecamatan Baureno.

Sedangkan pada 29 Februari lalu, seorang petani bernama Kardi, 57, warga Desa Kauman, Kecamatan Baureno. Serta, 11 Agustus, seorang petani bernama Maskun, 48, Warga Desa Tegalkodo, Kecamatan Sukosewu.

Radar Bojonegoro – Kejadian petani tewas kesetrum jebakan tikus listrik bukan kali pertama. Sebelumnya, sudah tiga kali kejadian mengakibatkan petani tewas. Namun, kejadian di Dusun Prijek, Desa Tambahrejo, Kecamatan Kanor, kemarin (12/10) cukup mengagetkan.

Empat korban tewas, yakni satu sekeluarga tergeletak di lahan cabai milik tetangganya. Kepolisian masih menyelidiki adanya unsur kelalaian menyebabkan orang meninggal dunia atas kejadian di Desa Tambahrejo itu.

Kapolres Bojonegoro AKBP M. Budi Hendrawan mengatakan, anggota satreskrim masih memeriksa saksi-saksi. Menurutnya, jika kasus tersebut memang memenuhi unsur pidana, akan diproses sesuai ketentuan hukum berlaku.

Namun, hingga berita ini ditulis, tim penyidik masih proses mendalami kasus tersebut. “Kalau memang empat korban itu meninggal akibat kelalaian seseorang, tentu bisa dijerat pasal 359 KUHP. Tapi, saat ini kami masih proses pemeriksaan saksisaksi di TKP (tempat kejadian perkara),” tutur Kapolres.

Baca Juga :  Khawatir Anjlok Pasca Kebijakan Impor

Adapun isi pasal 359 KUHP yakni barang siapa karena kealpaannya menyebabkan orang lain mati, diancam pidana penjara paling lama lima tahun atau pidana kurungan paling lama satu tahun. Perlu diketahui, empat korban meninggal dunia tersebut terdiri atas pasutri Parno, 60, dan Riswati, 51. Lalu kedua anaknya Jayadi, 30, dan Zaenal Arifin, 21.

“Kejadian ini harus jadi pelajaran bagi para petani lain, agar menghindari memasang jebakan tikus beraliran listrik yang bisa membahayakan orang lain,” ujar Budi. Sementara itu, di wilayah Bojonegoro juga memang belum ada aturan atau regulasi pelarangan memasang jebakan tikus beraliran listrik. Namun, petani memasang jebakan tikus listrik juga masih banyak.

Baca Juga :  Lelang Jabatan Kepala Dinas Tuntas, Saatnya Buktikan Kinerja

Kepala Satpol PP Bojonegoro Arief Nanang Sugianto mengatakan, belum ada peraturan seperti peraturan bupati (perbup) yang mengatur larangan tersebut. Menurutnya, kelalaian yang bisa menyebabkan orang meninggal dunia masuk ke dalam hukum pidana.

“Hingga saat ini memang belum ada perbup yang mengatur larangan pemasangan jebakan tikus beraliran listrik, paling mungkin hukum pidana,” ucapnya. Berdasar data dihimpun Jawa Pos Radar Bojonegoro, sejak Januari hingga Oktober sudah ada tiga petani tewas akibat tersengat listrik jebakan tikus. Pada 31 Juli, seorang petani bernama Tabri, 71, warga Dusun Panasan, Desa Bumiayu, Kecamatan Baureno.

Sedangkan pada 29 Februari lalu, seorang petani bernama Kardi, 57, warga Desa Kauman, Kecamatan Baureno. Serta, 11 Agustus, seorang petani bernama Maskun, 48, Warga Desa Tegalkodo, Kecamatan Sukosewu.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/