alexametrics
28.1 C
Bojonegoro
Wednesday, May 25, 2022

Pembelajaran Daring, Begini Cara Adaptasi Siswa Berkebutuhan Khusus

Radar Bojonegoro – Hari pertama tahun ajaran baru sekolah kemarin (12/7) memacu siswa anak berkebutuhan khusus (ABK) harus beradaptasi penuh. Mereka harus menjalani pembelajaran daring.

Modul belajar tepat dan peran orang tua mendampingi ABK adalah kunci suksesnya pembelajaran berjalan lancar. Siti Nurul Sya’diyah merupakan ibu dari dua anak ABK penyandang tunanetra harus sabar dan telaten mendampingi putranya menjalani pembelajaran daring.

Putranya yakni Hafidz Ahmad Arrasyid, siswa kelas 11 MA Muhammadiyah 3 Desa Simbatan, Kecamatan Kanor. Dan adiknya, M. Rifqi Riyadz Firdaus, siswa kelas tujuh MTs Muhammadiyah Desa Simbatan.

Menurut Nurul, selama dua tahun sekolah daring ini sudah beradaptasi dengan keadaan. Nurul mendampingi kedua buah hatinya itu selama sekolah. Sehingga, dia sudah hafal jadwal-jadwal sekolah anak-anaknya. “Karena sekolah daring, jadi saya 100 persen mendampingi mereka. Seluruh jadwal mereka akhirnya hafal,” tutur perempuan dengan wajah optimisme ini.

Baca Juga :  Ruang Terbuka Hijau Perkotaan, Melepas Penat Akhir Pekan

Sebenarnya, tidak terlalu ada kendala selama belajar daring, karena di rumah sudah pasang wifi. Tetapi, akibat sekolah daring, kedua anaknya tunanetra itu kurang mengeksplorasi banyak hal. Salah satu contohnya ialah tidak merasakan lagi kegiatan upacara bendera.

Putranya yang baru masuk kelas tujuh MTs belum tahu kondisi dan medan di sekolahnya. Jadi tidak menutup kemungkinan, ketika nantinya pandemi usai dan sudah diizinkan pembelajaran tatap muka, kedua anaknya justru beradaptasi lagi dengan dunia luar. “Apalagi Rifqi baru lulus SD dan masuk MTs, tentunya dia butuh adaptasi dengan lingkungan sekolahnya,” ucapnya.

Kepala Sekolah Luar Biasa (SLB) Putra Harapan Nanang Nasrulloh menerangkan, bahwa skema sekolah daring di tahun ajaran baru ini tidak jauh berbeda dengan tahun lalu. Pihaknya senantiasa memberikan para wali murid selalu mendampingi anak-anaknya belajar. Setidaknya para wali murid ini belajar memahami karakter anaknya selama belajar.

Baca Juga :  Birrul Jadi Saksi Kasus Saddil

“Karakter tiap anak ini perlu dipahami para wali murid. Ada anak tidak perlu didampingi itu mau belajar, tetapi ada juga anak ketika tidak didampingi, akhirnya tidak belajar dan memilih main game,” bebernya.

Sejauh ini, Nanang mengombinasikan pembelajaran daring dan luring. Beberapa siswanya ada yang membutuhkan terapi secara intensif. Namun, karena saat ini masih pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) darurat, pihaknya menunda hingga 20 Juli mendatang. “Kalau PPKM darurat sudah selesai, kami akan gelar terapi lagi,” jelasnya.

Radar Bojonegoro – Hari pertama tahun ajaran baru sekolah kemarin (12/7) memacu siswa anak berkebutuhan khusus (ABK) harus beradaptasi penuh. Mereka harus menjalani pembelajaran daring.

Modul belajar tepat dan peran orang tua mendampingi ABK adalah kunci suksesnya pembelajaran berjalan lancar. Siti Nurul Sya’diyah merupakan ibu dari dua anak ABK penyandang tunanetra harus sabar dan telaten mendampingi putranya menjalani pembelajaran daring.

Putranya yakni Hafidz Ahmad Arrasyid, siswa kelas 11 MA Muhammadiyah 3 Desa Simbatan, Kecamatan Kanor. Dan adiknya, M. Rifqi Riyadz Firdaus, siswa kelas tujuh MTs Muhammadiyah Desa Simbatan.

Menurut Nurul, selama dua tahun sekolah daring ini sudah beradaptasi dengan keadaan. Nurul mendampingi kedua buah hatinya itu selama sekolah. Sehingga, dia sudah hafal jadwal-jadwal sekolah anak-anaknya. “Karena sekolah daring, jadi saya 100 persen mendampingi mereka. Seluruh jadwal mereka akhirnya hafal,” tutur perempuan dengan wajah optimisme ini.

Baca Juga :  Angka Covid Terus Menurun, Tuban Layak Turun ke Level 2

Sebenarnya, tidak terlalu ada kendala selama belajar daring, karena di rumah sudah pasang wifi. Tetapi, akibat sekolah daring, kedua anaknya tunanetra itu kurang mengeksplorasi banyak hal. Salah satu contohnya ialah tidak merasakan lagi kegiatan upacara bendera.

Putranya yang baru masuk kelas tujuh MTs belum tahu kondisi dan medan di sekolahnya. Jadi tidak menutup kemungkinan, ketika nantinya pandemi usai dan sudah diizinkan pembelajaran tatap muka, kedua anaknya justru beradaptasi lagi dengan dunia luar. “Apalagi Rifqi baru lulus SD dan masuk MTs, tentunya dia butuh adaptasi dengan lingkungan sekolahnya,” ucapnya.

Kepala Sekolah Luar Biasa (SLB) Putra Harapan Nanang Nasrulloh menerangkan, bahwa skema sekolah daring di tahun ajaran baru ini tidak jauh berbeda dengan tahun lalu. Pihaknya senantiasa memberikan para wali murid selalu mendampingi anak-anaknya belajar. Setidaknya para wali murid ini belajar memahami karakter anaknya selama belajar.

Baca Juga :  Waspada Bom, Pemilik Kos Harus Laporkan Warga Baru

“Karakter tiap anak ini perlu dipahami para wali murid. Ada anak tidak perlu didampingi itu mau belajar, tetapi ada juga anak ketika tidak didampingi, akhirnya tidak belajar dan memilih main game,” bebernya.

Sejauh ini, Nanang mengombinasikan pembelajaran daring dan luring. Beberapa siswanya ada yang membutuhkan terapi secara intensif. Namun, karena saat ini masih pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) darurat, pihaknya menunda hingga 20 Juli mendatang. “Kalau PPKM darurat sudah selesai, kami akan gelar terapi lagi,” jelasnya.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/