alexametrics
23.7 C
Bojonegoro
Sunday, June 26, 2022

Sepi, Pedagang Sepatu dan Seragam Sekolah Menjerit

Radar Bojonegoro – Dampak pandemi Covid-19 yang tak kunjung usai begitu terasa bagi para pedagang perlengkapan sekolah. Padahal hari ini (13/7) merupakan hari pertama mulainya tahun ajaran baru sekolah.

Pembelajaran secara daring memicu tak ada masyarakat menyerbu pembelian seragam dan sepatu sekolah. Jawa Pos Radar Bojonegoro memantau di Pasar Kota, kondisinya tergolong sepi kemarin (12/7).

Baiz, salah satu pedagang seragam sekolah mengatakan, bahwa omzet penjualan seragam sekolah menurun hingga 90 persen. Selain efek dari pandemi Covid-19 mengakibatkan belajar di rumah, sehingga para orang tua murid menunda membelikan seragam sekolah bagi anaknya.

Juga, tahun ini ada beberapa sekolah menyediakan seragam sekolah sendiri. “Ada beberapa sekolah menjual seragam sekolah bagi para siswa baru.

Padahal kualitas dan harga seragamnya di bawah barang dagangan saya,” ujarnya. Padahal apabila kondisinya normal tidak ada pandemi Covid-19, seminggu sebelum tahun ajaran baru dipasitkan tokonya berjubel pembeli.

Baca Juga :  Diincar Banyak Orang, Obat Batuk Sirup dan Vitamin C Langka

Penjualannya bisa tembus ratusan setel seragam sekolah. Saat ini, ia hanya mengandalkan pembeli reguler sudah menjadi langganannya.

Adapun harga seragam beragam tergantung ukurannya. Rata-rata Rp 100 ribu per setel. “Stok saya masih banyak ini. Apalagi kondisi pasar juga masih belum sepenuhnya normal, masih tergolong sepi.

Masih banyak masyarakat takut pergi ke pasar,” katanya. Hal senada diungkapkan Suntono sebagai penjual tas dan sepatu. Dia memastikan penjualan selama pandemi Covid-19 ini hanya bergantung langganan.

Penurunan omzet ia rasakan sekitar 60 hingga 70 persen. Menurutnya, penurunan omzet bukan hanya karena pandemi Covid-19, tetapi juga banyak masyarakat beralih beli sepatu atau tas sekolah via online.

“Biasanya jelang tahun ajaran baru toko sudah ramai. Tapi sekarang memang terasa sekali sepinya. Bahkan, momen Lebaran saja juga sepi,” imbuhnya.

Baca Juga :  Penanganan Kemiskinan, Agenda Rutin Blusukan Bupati

Kalau situasi normal saat Lebaran atau tahun ajaran baru, sehari bisa terjual 40 pasang sepatu dan 40 buah tas. Tetapi karena kondisi masih belum normal, penjualan hanya sekitar 5 hingga 10 pasang sepatu.

Karena omzet turun, Suntono juga terpaksa menerapkan sistem sif kepada karyawannya. “Tentu berat untuk menggaji karyawan ketika kondisi sepi seperti ini,” ungkapnya.

Sulistyani salah satu orang tua murid mengatakan, anaknya belum diperbolehkan belajar di sekolah. Tetapi ia tetap membelikan anaknya sepasang sepatu, sebab anaknya meminta dibelikan sepatu baru.

“Karena sudah jadi rutinitas kalau anak saya ini naik kelas pasti beli sepatu baru. Biar anaknya juga makin semangat sekolah,” ucap dia.

Radar Bojonegoro – Dampak pandemi Covid-19 yang tak kunjung usai begitu terasa bagi para pedagang perlengkapan sekolah. Padahal hari ini (13/7) merupakan hari pertama mulainya tahun ajaran baru sekolah.

Pembelajaran secara daring memicu tak ada masyarakat menyerbu pembelian seragam dan sepatu sekolah. Jawa Pos Radar Bojonegoro memantau di Pasar Kota, kondisinya tergolong sepi kemarin (12/7).

Baiz, salah satu pedagang seragam sekolah mengatakan, bahwa omzet penjualan seragam sekolah menurun hingga 90 persen. Selain efek dari pandemi Covid-19 mengakibatkan belajar di rumah, sehingga para orang tua murid menunda membelikan seragam sekolah bagi anaknya.

Juga, tahun ini ada beberapa sekolah menyediakan seragam sekolah sendiri. “Ada beberapa sekolah menjual seragam sekolah bagi para siswa baru.

Padahal kualitas dan harga seragamnya di bawah barang dagangan saya,” ujarnya. Padahal apabila kondisinya normal tidak ada pandemi Covid-19, seminggu sebelum tahun ajaran baru dipasitkan tokonya berjubel pembeli.

Baca Juga :  Terkendala PPKM, Ekspor Belimbing Belum Bisa Terealisasi

Penjualannya bisa tembus ratusan setel seragam sekolah. Saat ini, ia hanya mengandalkan pembeli reguler sudah menjadi langganannya.

Adapun harga seragam beragam tergantung ukurannya. Rata-rata Rp 100 ribu per setel. “Stok saya masih banyak ini. Apalagi kondisi pasar juga masih belum sepenuhnya normal, masih tergolong sepi.

Masih banyak masyarakat takut pergi ke pasar,” katanya. Hal senada diungkapkan Suntono sebagai penjual tas dan sepatu. Dia memastikan penjualan selama pandemi Covid-19 ini hanya bergantung langganan.

Penurunan omzet ia rasakan sekitar 60 hingga 70 persen. Menurutnya, penurunan omzet bukan hanya karena pandemi Covid-19, tetapi juga banyak masyarakat beralih beli sepatu atau tas sekolah via online.

“Biasanya jelang tahun ajaran baru toko sudah ramai. Tapi sekarang memang terasa sekali sepinya. Bahkan, momen Lebaran saja juga sepi,” imbuhnya.

Baca Juga :  Kejar Target, Bantuan Keuangan Desa Digenjot

Kalau situasi normal saat Lebaran atau tahun ajaran baru, sehari bisa terjual 40 pasang sepatu dan 40 buah tas. Tetapi karena kondisi masih belum normal, penjualan hanya sekitar 5 hingga 10 pasang sepatu.

Karena omzet turun, Suntono juga terpaksa menerapkan sistem sif kepada karyawannya. “Tentu berat untuk menggaji karyawan ketika kondisi sepi seperti ini,” ungkapnya.

Sulistyani salah satu orang tua murid mengatakan, anaknya belum diperbolehkan belajar di sekolah. Tetapi ia tetap membelikan anaknya sepasang sepatu, sebab anaknya meminta dibelikan sepatu baru.

“Karena sudah jadi rutinitas kalau anak saya ini naik kelas pasti beli sepatu baru. Biar anaknya juga makin semangat sekolah,” ucap dia.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/