alexametrics
27.2 C
Bojonegoro
Tuesday, May 24, 2022

Manfaatkan Daun Suji dan Pandan untuk Pewarnaan

JIKA bukan generasi muda, siapa lagi yang bisa mewarisi batik warisan khas Indonesia. Berangkat dari hobi menggambar, Febrina kini hobi membatik.

Canting, wajan, dan kompor disiapkan seadanya. Ditata dan terlihat rapi. Botol-botol bekas diisi pewarna untuk kain batik yang akan diproses. Kain polos pun sudah disiapkan. Peralatan sederhana ini menjadi bahan baku sejumlah siswa untuk memulai membatik.

Dengan lihai dan cekatan, para siswa ini tersenyum. Siswa tergabung ekstrakurikuler ini membatik mengikuti pola gambar yang sudah ada di secarik kain putih polos. Sesekali guyonan sambil memulai melukis kain menjadi motif batik.

Jika sudah terbiasa, proses akan cepat. Namun, bagi yang baru belajar lebih memilih berhati-hati. Takut terlewat dari garis pola. Sesekali para siswa tersebut meniup ujung canting. Ini dilakukan agar lilin yang akan digunakan untuk mencetak pola gambar sedikit dingin dan mengental. Lalu, menuang sedikit demi sedikit sesuai pola gambar.

Baca Juga :  Hobi Grafiti, Belajar dari Pengalaman dan Teman

Febrina Nurlita Putri, salah satu siswi SMAN 1 Kalitidu ini yang mengajak teman-temannya membatik. Dia berangkat membatik karena kegemarannya menggambar. Keseriusannya itu, sedikit demi sedikit membuat teman-temannya tertarik.

’’Kegiatan ini dilakukan setelah pulang sekolah. Agar tidak mengganggu pelajaran,’’ ucap perempuan berjilbab putih itu.

Proses secara tradisional dilakukan menambah keseruan saat proses membatik. Sementara, untuk motif batik mengandalkan kreativitas dari anggota yang tergabung dalam ekstrakurikuler membatik ini.

Biasanya, kata Febrina sapaannya, motif paling umum digunakan dalam kain batik adalah motif bunga. Bisa berupa sulur-sulur akar maupun daun. Seperti penggambaran daun tembakau sebagai motif batik khas Bojonegoro.

Hal paling seru ketika proses membatik, kata Febrina, ketika pewarnaan. Dari semula kain polos tidak bewarna menjadi bewarna-warni. Menjadi pemandangan yang sedap dipandang ketika membatik. Kain sudah dibentangkan dengan peralatan sederhana. Seperti kayu dan tali sebagai tumpuan kain agar proses pewarnaannya jelas.

Baca Juga :  Pamit Kenal Kapolres Tuban: Tegas Bersihkan Kejahatan di Bumi Wali

Febrina, panggilan akrabnya mengatakan, untuk bahan pewarna kain batik inilah yang unik. Karena masih menggunakan pewarna alami. ’’Contohnya warna hijau yang didapat dari daun suji dan daun pandan. Tapi terkadang juga pakai pewarna tekstil,’’ ucapnya.

Febrina mengatakan, membatik itu perlu daya imajinasi dan kesabaran yang tinggi. Setiap tahapan membatik dilakukan secara bersama-sama per tahap. ’’Ekstrakurikuler membatik ini didampingi dua guru pembimbing,’’ terangnya.

Mulai dari membuat pola yang dikerjakan jika ada waktu luang. Sementara, saat mulai proses nyanting dan mewarnai bisa selesai dalam tiga kali pertemuan. Dalam artian, pertemuan seminggu sekali. Sehingga sama dengan tiga minggu kegiatan membatik.

’’Setiap anak pegang satu kain dengan ukuran menyesuaikan sesuai kebutuhan. Biasanya satu meter kali satu meter,’’ ucap Febrina.

Proses manual membatik inilah yang membuat Febrina mencintai batik. Apalagi sebagai penerus bangsa, tentunya harus mengetahui cara membuat dan bagaimana proses membatik.

JIKA bukan generasi muda, siapa lagi yang bisa mewarisi batik warisan khas Indonesia. Berangkat dari hobi menggambar, Febrina kini hobi membatik.

Canting, wajan, dan kompor disiapkan seadanya. Ditata dan terlihat rapi. Botol-botol bekas diisi pewarna untuk kain batik yang akan diproses. Kain polos pun sudah disiapkan. Peralatan sederhana ini menjadi bahan baku sejumlah siswa untuk memulai membatik.

Dengan lihai dan cekatan, para siswa ini tersenyum. Siswa tergabung ekstrakurikuler ini membatik mengikuti pola gambar yang sudah ada di secarik kain putih polos. Sesekali guyonan sambil memulai melukis kain menjadi motif batik.

Jika sudah terbiasa, proses akan cepat. Namun, bagi yang baru belajar lebih memilih berhati-hati. Takut terlewat dari garis pola. Sesekali para siswa tersebut meniup ujung canting. Ini dilakukan agar lilin yang akan digunakan untuk mencetak pola gambar sedikit dingin dan mengental. Lalu, menuang sedikit demi sedikit sesuai pola gambar.

Baca Juga :  Biar Kapok. Gerebek Dua Tempat Judi, Tangkap Empat Tersangka

Febrina Nurlita Putri, salah satu siswi SMAN 1 Kalitidu ini yang mengajak teman-temannya membatik. Dia berangkat membatik karena kegemarannya menggambar. Keseriusannya itu, sedikit demi sedikit membuat teman-temannya tertarik.

’’Kegiatan ini dilakukan setelah pulang sekolah. Agar tidak mengganggu pelajaran,’’ ucap perempuan berjilbab putih itu.

Proses secara tradisional dilakukan menambah keseruan saat proses membatik. Sementara, untuk motif batik mengandalkan kreativitas dari anggota yang tergabung dalam ekstrakurikuler membatik ini.

Biasanya, kata Febrina sapaannya, motif paling umum digunakan dalam kain batik adalah motif bunga. Bisa berupa sulur-sulur akar maupun daun. Seperti penggambaran daun tembakau sebagai motif batik khas Bojonegoro.

Hal paling seru ketika proses membatik, kata Febrina, ketika pewarnaan. Dari semula kain polos tidak bewarna menjadi bewarna-warni. Menjadi pemandangan yang sedap dipandang ketika membatik. Kain sudah dibentangkan dengan peralatan sederhana. Seperti kayu dan tali sebagai tumpuan kain agar proses pewarnaannya jelas.

Baca Juga :  Tanpa Kenaikan Cukai, Pendapatan Negara Tetap Meningkat

Febrina, panggilan akrabnya mengatakan, untuk bahan pewarna kain batik inilah yang unik. Karena masih menggunakan pewarna alami. ’’Contohnya warna hijau yang didapat dari daun suji dan daun pandan. Tapi terkadang juga pakai pewarna tekstil,’’ ucapnya.

Febrina mengatakan, membatik itu perlu daya imajinasi dan kesabaran yang tinggi. Setiap tahapan membatik dilakukan secara bersama-sama per tahap. ’’Ekstrakurikuler membatik ini didampingi dua guru pembimbing,’’ terangnya.

Mulai dari membuat pola yang dikerjakan jika ada waktu luang. Sementara, saat mulai proses nyanting dan mewarnai bisa selesai dalam tiga kali pertemuan. Dalam artian, pertemuan seminggu sekali. Sehingga sama dengan tiga minggu kegiatan membatik.

’’Setiap anak pegang satu kain dengan ukuran menyesuaikan sesuai kebutuhan. Biasanya satu meter kali satu meter,’’ ucap Febrina.

Proses manual membatik inilah yang membuat Febrina mencintai batik. Apalagi sebagai penerus bangsa, tentunya harus mengetahui cara membuat dan bagaimana proses membatik.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/