alexametrics
27.2 C
Bojonegoro
Friday, May 27, 2022

Dua Desa Ajukan Keberatan

TUBAN – Dua desa yang ikut pemilihan kepala desa (pilkades) serentak 2019, Rabu (10/7), dikabarkan mengajukan keberatan atas hasil pesta demokrasi di tingkat desa tersebut. Yakni, Desa Mulyoagung, Kecamatan Singgahan dan Desa Mlangi, Kecamatan Widang.

Kasi Peningkatan Kapasitas Aparatur Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa dan Keluaraga Berencana (DPMDKB) Tuban Suhut membenarkan, informasi pengajuan keberatan dari salah satu calon kepala desa (cakades). Hanya, dia belum bisa memastikan kebenarannya. Sebab, sampai kemarin sore pengajuan keberatan atas hasil pikades itu belum sampai ke meja instansinya.

‘’Informasi dari kecamatan memang seperti itu (ada yang berencana mengajukan keberatan, Red), tapi sampai saat ini (kemarin sore, Red), kami belum menerima laporannya,’’ kata dia kepada Jawa Pos Radar Tuban.

Disampaikan Suhut, cakades yang keberatan atas hasil pilkades memiliki waktu 3×24 jam pada jam kerja setelah penetapan penghitungan suara, Rabu (10/7). Artinya, waktu tiga hari itu akan berlangsung hingga Senin (15/7) mendatang. ‘’Karena besok (hari ini, Red) Sabtu dan Minggu libur, maka terakhir hari Senin,’’ ujar pejabat eselon IV jebolan Universitas Kediri itu.

Baca Juga :  Hitung Ulang Merata pada 20 Kecamatan

Camat Singgahan Dani Ramdani saat dikonfirmasi terkait pengajuan keberatan hasil pilkades di wilayahnya tersebut juga membenarkan. ‘’Ya, tadi (pengajuan keberatannya, Red) sudah disampaikan ke panitia,’’ katanya.

Disampaikan Dani, ada sejumlah poin keberatan yang diajukan. Antara lain, terkait pelaksanaan pilkades yang dinilai tidak transparan dan daftar hadir pemilih di TPS. Laporan pengajuan keberatan tersebut, kata dia, akan disampaikan ke tingkat kabupaten.

Camat Widang Sartono juga membenarkan pengajuan keberatan hasil pilkades dari Desa Mlangi. Disampaikan dia, laporan pengajuan keberatan tersebut langsung kepada bupati Fathul Huda. ‘’Sudah disampaikan pagi tadi (kemarin, Red) tembusannya kepada camat,’’ ujarnya.

Di antara isi keberatan yang diajukan, yakni terkait tudingan ketidaknetralan panitia dan proses penghitungan suara yang dinilai kurang jeli, sehingga berujung suara draw. ‘’Karena proses di tingkat panitia sudah selesai, masing-masing saksi juga sudah tanda tangan. Maka nanti tinggal menunggu rekomendasi tindak lanjut dari kabupaten,’’ tandasnya.

Sekadar diketahui, pilkades di Desa Mulyoagung diikuti tiga calon. Dari hasil penghitungan suara dimenangkan calon incumbent Moh. Muhail dengan perolehan 2.087 suara. Kemudian, disusul Ena Sriyatin 1.625 suara dan Mashuri 704 suara.

Sementara perebutan kursi kades di Desa Mlangi berakhir draw. Dua calon mengantongi suara sama. Calon nomor urut 1 Moh. Kusnan dan calon nomor urut 2 Siswarin sama-sama meraih 1.243 suara. Keputusan menetapkan cakades terpilih yang memeroleh suara sama diatur dalam pasal 6 Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 43 tentang Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa. Juga, pasal 42 Peraturan Menteri Dalam Negeri (Permendagri) Nomor 65 Tahun 2017 tentang Perubahan Aturan Pilkades dan pasal 75 Peraturan Bupati (Perbup) Nomor 20 Tahun 2018 tentang Pelaksanaan Pilkades.

Baca Juga :  Investasi Kilang Minyak Capai Rp 211,9 T

Isinya, dalam hal calon kepala desa yang memeroleh suara terbanyak yang sama lebih dari satu atau dua calon, maka calon terpilih ditetapkan berdasarkan wilayah perolehan suara yang lebih luas. Dalam hal ini, berdasar persebaran suara di masing-masing blok yang telah ditetapkan panitia.

Untuk kasus perolehan suara draw di Mlangi dimenangkan calon nomor urut 2 Siswarin. Alasannya, dari tiga pembagian blok, yakni merah, kuning, dan hijau, dia memenangi perolehan suara di dua blok, yakni blok kuning dengan 468 suara berbanding 357 suara dan  blok hijau dengan 509 suara berbanding 332 suara. Sedangkan Kusnan, hanya unggul di blok merah dengan perolehan 554 suara berbanding 266 suara.

TUBAN – Dua desa yang ikut pemilihan kepala desa (pilkades) serentak 2019, Rabu (10/7), dikabarkan mengajukan keberatan atas hasil pesta demokrasi di tingkat desa tersebut. Yakni, Desa Mulyoagung, Kecamatan Singgahan dan Desa Mlangi, Kecamatan Widang.

Kasi Peningkatan Kapasitas Aparatur Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa dan Keluaraga Berencana (DPMDKB) Tuban Suhut membenarkan, informasi pengajuan keberatan dari salah satu calon kepala desa (cakades). Hanya, dia belum bisa memastikan kebenarannya. Sebab, sampai kemarin sore pengajuan keberatan atas hasil pikades itu belum sampai ke meja instansinya.

‘’Informasi dari kecamatan memang seperti itu (ada yang berencana mengajukan keberatan, Red), tapi sampai saat ini (kemarin sore, Red), kami belum menerima laporannya,’’ kata dia kepada Jawa Pos Radar Tuban.

Disampaikan Suhut, cakades yang keberatan atas hasil pilkades memiliki waktu 3×24 jam pada jam kerja setelah penetapan penghitungan suara, Rabu (10/7). Artinya, waktu tiga hari itu akan berlangsung hingga Senin (15/7) mendatang. ‘’Karena besok (hari ini, Red) Sabtu dan Minggu libur, maka terakhir hari Senin,’’ ujar pejabat eselon IV jebolan Universitas Kediri itu.

Baca Juga :  Peminat Panwascam Membeludak

Camat Singgahan Dani Ramdani saat dikonfirmasi terkait pengajuan keberatan hasil pilkades di wilayahnya tersebut juga membenarkan. ‘’Ya, tadi (pengajuan keberatannya, Red) sudah disampaikan ke panitia,’’ katanya.

Disampaikan Dani, ada sejumlah poin keberatan yang diajukan. Antara lain, terkait pelaksanaan pilkades yang dinilai tidak transparan dan daftar hadir pemilih di TPS. Laporan pengajuan keberatan tersebut, kata dia, akan disampaikan ke tingkat kabupaten.

Camat Widang Sartono juga membenarkan pengajuan keberatan hasil pilkades dari Desa Mlangi. Disampaikan dia, laporan pengajuan keberatan tersebut langsung kepada bupati Fathul Huda. ‘’Sudah disampaikan pagi tadi (kemarin, Red) tembusannya kepada camat,’’ ujarnya.

Di antara isi keberatan yang diajukan, yakni terkait tudingan ketidaknetralan panitia dan proses penghitungan suara yang dinilai kurang jeli, sehingga berujung suara draw. ‘’Karena proses di tingkat panitia sudah selesai, masing-masing saksi juga sudah tanda tangan. Maka nanti tinggal menunggu rekomendasi tindak lanjut dari kabupaten,’’ tandasnya.

Sekadar diketahui, pilkades di Desa Mulyoagung diikuti tiga calon. Dari hasil penghitungan suara dimenangkan calon incumbent Moh. Muhail dengan perolehan 2.087 suara. Kemudian, disusul Ena Sriyatin 1.625 suara dan Mashuri 704 suara.

Sementara perebutan kursi kades di Desa Mlangi berakhir draw. Dua calon mengantongi suara sama. Calon nomor urut 1 Moh. Kusnan dan calon nomor urut 2 Siswarin sama-sama meraih 1.243 suara. Keputusan menetapkan cakades terpilih yang memeroleh suara sama diatur dalam pasal 6 Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 43 tentang Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa. Juga, pasal 42 Peraturan Menteri Dalam Negeri (Permendagri) Nomor 65 Tahun 2017 tentang Perubahan Aturan Pilkades dan pasal 75 Peraturan Bupati (Perbup) Nomor 20 Tahun 2018 tentang Pelaksanaan Pilkades.

Baca Juga :  Coblosan Lima Kecamatan Bisa Diketahui

Isinya, dalam hal calon kepala desa yang memeroleh suara terbanyak yang sama lebih dari satu atau dua calon, maka calon terpilih ditetapkan berdasarkan wilayah perolehan suara yang lebih luas. Dalam hal ini, berdasar persebaran suara di masing-masing blok yang telah ditetapkan panitia.

Untuk kasus perolehan suara draw di Mlangi dimenangkan calon nomor urut 2 Siswarin. Alasannya, dari tiga pembagian blok, yakni merah, kuning, dan hijau, dia memenangi perolehan suara di dua blok, yakni blok kuning dengan 468 suara berbanding 357 suara dan  blok hijau dengan 509 suara berbanding 332 suara. Sedangkan Kusnan, hanya unggul di blok merah dengan perolehan 554 suara berbanding 266 suara.

Artikel Terkait

Most Read

Bukit Daun, Wisata Cantik Eks TambangĀ 

Ada yang Pilih Lepaskan SMAN

Ingatkan Mudik tanpa Plastik

Banyak Ritel Tak Jual Produk Lokal

Artikel Terbaru


/