alexametrics
24.8 C
Bojonegoro
Friday, May 27, 2022

Perlahan, MPU Makin Ditinggalkan

BOJONEGORO – Tren trasnsportasi umum dinilai tiap tahunnya mengalami penurunan di kala gempuran digitalisasi ojek dan mudahnya mengkredit kendaraan bermotor pribadi. Sehingga, jumlah angkot (angkuran kota) dan MPU (mobil penumpang umum) terus mengalami penurunan. Penumpang pun terlihat sepi di Terminal Rajekwesi Bojonegoro.

Salah satu sopir angkot, Winarto mengatakan penurunan jumlah penumpang tiap tahunnya semakin memprihatinkan. Biasanya setiap berangkat, hanya membawa tiga penumpang, lalu ketika di perjalanan pun hanya terisi setengah saja. “Makin sepi penumpang, apalagi sekarang banyak ojek online, mas,” ujar pria asal Kecamatan Balen itu. Dia pun pasrah, tapi kalau ada kesempatan kerja yang lebih layak dia siap ambil.

Baca Juga :  Pelanggaran E-Tilang Banyak Terjadi Malam Hari Saat Sepi

Hal senada juga diungkapkan oleh Kabid Angkutan Dishub Bojonegoro, Hartono, bahwa jumlah angkot yang beroperasi diperkirakan hanya 10 unit. Sedangkan, MPU sekitar 80-an unit. “Tiap tahun terus mengalami penurunan dan memang memprihatinkan,” ujarnya. Pihak Dishub pun tidak bisa berbuat banyak, alasannya tak ada anggaran yang besar untuk meningkatkan minat masyarakat. “Kalau angan-angan ada, seperti operator angkot disubsidi oleh Pemkab Bojonegoro, jadi angkot tidak terlalu banyak berhenti dan mendorong peremajaan kendaraan, tapi kembali lagi tak ada anggarannya,” terangnya.

Hartono mengatakan nasib angkot dan MPU yang makin ditinggalkan juga dirasakan oleh kabupaten-kabupaten lain. Karena memang jumlah kendaraan bermotor pribadi yang sulit dibendung dan hadirnya ojek online yang begitu masif. “Makin terpuruk sejak ada ojek online mas,” ujarnya. Saat ini, penumpang angkot hanya didominasi para penjual sayur atau anak-anak sekolah.

Baca Juga :  Seminggu, Tiga Ular Masuk Permukiman

Sementara itu, pertumbuhan jumlah mitra ojek online sangat cepat. Andri, salah satu mitra ojek online di Bojonegoro mengatakan perkiraan jumlah mitra ojek online sekitar 250-300 orang. Mereka pun tersebar di hampir semua kecamatan. “Ojek online makin prospektif apabila warga Bojonegoro makin melek teknologi, kami pun kerap mengantar ke kecamatan-kecamatan, tak hanya di wilayah kota saja,” terangnya.

BOJONEGORO – Tren trasnsportasi umum dinilai tiap tahunnya mengalami penurunan di kala gempuran digitalisasi ojek dan mudahnya mengkredit kendaraan bermotor pribadi. Sehingga, jumlah angkot (angkuran kota) dan MPU (mobil penumpang umum) terus mengalami penurunan. Penumpang pun terlihat sepi di Terminal Rajekwesi Bojonegoro.

Salah satu sopir angkot, Winarto mengatakan penurunan jumlah penumpang tiap tahunnya semakin memprihatinkan. Biasanya setiap berangkat, hanya membawa tiga penumpang, lalu ketika di perjalanan pun hanya terisi setengah saja. “Makin sepi penumpang, apalagi sekarang banyak ojek online, mas,” ujar pria asal Kecamatan Balen itu. Dia pun pasrah, tapi kalau ada kesempatan kerja yang lebih layak dia siap ambil.

Baca Juga :  Kapolres Ancam Pidanakan Penyeleweng DD

Hal senada juga diungkapkan oleh Kabid Angkutan Dishub Bojonegoro, Hartono, bahwa jumlah angkot yang beroperasi diperkirakan hanya 10 unit. Sedangkan, MPU sekitar 80-an unit. “Tiap tahun terus mengalami penurunan dan memang memprihatinkan,” ujarnya. Pihak Dishub pun tidak bisa berbuat banyak, alasannya tak ada anggaran yang besar untuk meningkatkan minat masyarakat. “Kalau angan-angan ada, seperti operator angkot disubsidi oleh Pemkab Bojonegoro, jadi angkot tidak terlalu banyak berhenti dan mendorong peremajaan kendaraan, tapi kembali lagi tak ada anggarannya,” terangnya.

Hartono mengatakan nasib angkot dan MPU yang makin ditinggalkan juga dirasakan oleh kabupaten-kabupaten lain. Karena memang jumlah kendaraan bermotor pribadi yang sulit dibendung dan hadirnya ojek online yang begitu masif. “Makin terpuruk sejak ada ojek online mas,” ujarnya. Saat ini, penumpang angkot hanya didominasi para penjual sayur atau anak-anak sekolah.

Baca Juga :  Berkah Libur Sekolah yang Masih Panjang

Sementara itu, pertumbuhan jumlah mitra ojek online sangat cepat. Andri, salah satu mitra ojek online di Bojonegoro mengatakan perkiraan jumlah mitra ojek online sekitar 250-300 orang. Mereka pun tersebar di hampir semua kecamatan. “Ojek online makin prospektif apabila warga Bojonegoro makin melek teknologi, kami pun kerap mengantar ke kecamatan-kecamatan, tak hanya di wilayah kota saja,” terangnya.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/