alexametrics
24 C
Bojonegoro
Monday, June 27, 2022

Eko Wahyudiono, Perajin Tas Era Perang Dunia Kedua

FEATURES _ Tak semua orang bisa mencintai tentang ilmu sejarah, karena terkesan menjemukan. Padahal ada banyak media yang bisa dimanfaatkan untuk belajar sejarah. Khususnya sejarah negara kita sendiri, Indonesia. Di Bojonegoro, ternyata ada seseorang yang begitu cinta dengan sejarah dengan cara yang cukup unik, yakni sering mengikuti teatrikal reenactment (reka ulang) seperti Peristiwa 10 November di Surabaya atau Serangan Umum 1 Maret di Jogjakarta. Karena keaktifannya ikut teatrikal reka ulang itu, pria yang bernama Eko Wahyudiono itu pun berjejaring dan bertukar informasi tentang sejarah secara menyenangkan.

Ketika Jawa Pos Radar Bojonegoro berkunjung di kediamannya yang beralamat di Jalan WR Supratman Gang Kuncoro 3, pria berkulit putih dan berbadan gempal itu sedang sibuk mereproduksi pentungan atau baton stick yang biasa digunakan tentara Amerika Serikat.

 Saat itu, dia mengenakan kaus oblong warna hijau dan celana pendek belel berbahan jins. Ketika disinggung masalah koleksi barang di zaman perang, pria itu sempat kaget, karena dirinya tak terlalu fokus untuk koleksi barang-barang perang. 

Pria yang akrab disapa Rae itu menyampaikan hanya memiliki beberapa koleksi saja, seperti seragam tentara Inggris dan peralatannya seperti pistol, botol minum, dan nestin buatan Amerika Serikat. “Saya tak terlalu banyak koleksi, kalau sedang ada event teatrikal saja baru cari seragam yang cocok,” tuturnya. Kalau urusan seragam, Rae pasti berburu seragam asli yang bekas, tetapi kalau peralatan seperti tas atau sabuk, dia bisa mereproduksinya sendiri.

Baca Juga :  72 Siswa Bolos selama Dua Bulan

Dia menceritakan, awal mulanya suka dengan sejarah, perang, atau seputar militer. Rae mengatakan pada 1990-an, salah satu stasiun televisi swasta menyiarkan serial televisi asal Amerika Serikat yang berjudul Tour of Duty. “Film itu bercerita tentang perang Vietnam pada 1955-1975 silam, dari situlah saya pengin sekali berperan atau berdandan menjadi seorang tentara perang,” jelas pria kelahiran 1979 itu. Tetapi, hasrat itu masih terpendam, karena pria asal Surabaya itu belum menemukan kawan yang memiliki hobi sepertinya.

Uniknya, ketika dia hijrah ke Bojonegoro bersama ketiga anak dan istrinya pada 2012 lalu, Rae baru menemukan komunitas atau event teatrikal reka ulang bertema Jambore Sejarah Militer di Tugu Pahlawan Surabaya. Dia pun ikut pada acara tersebut dan akhirnya bertemu dengan banyak kawan yang sehobi dengannya. “Akhirnya saya kepincut dengan sejarah Indonesia, tak lagi sibuk mengulik sejarah Perang Vietnam,” tuturnya. 

Selain itu, dari seringnya berkomunikasi dengan berbagai kawan di luar kota seputar sejarah perang, khususnya Perang Dunia Kedua, Rae pun mengambil ceruk bisnis mereproduksi tas, sabuk, dan peralatan perang.

Dia pun kini sudah spesialis membuat tas perang tentara Inggris, Amerika Serikat, dan Jerman. Mulai dari bahan, warna, dan model harus disesuaikan dengan masa peperangan tersebut. “Kalau bicara sejarah, harus detail buatnya, kalau salah bisa dimarahin banyak orang,” ujarnya. 

Baca Juga :  100 Kuota Taksi Online, Belum Satupun Ajukan Izin

Sebab, menurut dia, memerankan menjadi tentara perang itu sakral, tidak bisa asal-asalan. Rae sendiri sering memerankan menjadi tentara Inggris atau Amerika Serikat ketika ada event. Setiap tahun dia pasti ikut event di Surabaya, tanpa absen sejak 2013. Kalau event di Jogjakarta, dia baru ikut sejak 2015.

Pesanan banyak berdatangan dari luar kota-kota besar. Tetapi dia tidak menyediakan stok, jadi pembuatan berdasarkan pesanan (made by order). “Saya siap buat berdasarkan request dari konsumen, jadi lebih enak,” tuturnya. Bahkan, dia juga pernah menjadi juri kontes event yang diadakan oleh Komunitas Sepeda Tua Indonesia (Kosti) di Surabaya pada 2016 lalu. 

Rae pun ingin sekali mengulik sejarah perang di Bojonegoro dan mencari kawan bertukar informasi. Sehingga, dia main ke tempat-tempat bersejarah di Bojonegoro sendirian. Selain itu, dia pun memiliki beberapa koleksi buku sejarah yang dijadikan referensi. Saat itu, dia mengambilkan beberapa buku sejarahnya dari dalam rumahnya. Di antaranya buku berjudul Pelajar dan Perang Kemerdekaan karya A. Radjab, Sejarah Tentara karya Petrik Matanasi, Iwo Jima 1945 karya Derrick Wright dan Jim Laurier, dan masih banyak lagi. “Saya juga lagi mencari referensi sejarah Bojonegoro pada masa Perang Dunia Kedua,” pungkasnya.

FEATURES _ Tak semua orang bisa mencintai tentang ilmu sejarah, karena terkesan menjemukan. Padahal ada banyak media yang bisa dimanfaatkan untuk belajar sejarah. Khususnya sejarah negara kita sendiri, Indonesia. Di Bojonegoro, ternyata ada seseorang yang begitu cinta dengan sejarah dengan cara yang cukup unik, yakni sering mengikuti teatrikal reenactment (reka ulang) seperti Peristiwa 10 November di Surabaya atau Serangan Umum 1 Maret di Jogjakarta. Karena keaktifannya ikut teatrikal reka ulang itu, pria yang bernama Eko Wahyudiono itu pun berjejaring dan bertukar informasi tentang sejarah secara menyenangkan.

Ketika Jawa Pos Radar Bojonegoro berkunjung di kediamannya yang beralamat di Jalan WR Supratman Gang Kuncoro 3, pria berkulit putih dan berbadan gempal itu sedang sibuk mereproduksi pentungan atau baton stick yang biasa digunakan tentara Amerika Serikat.

 Saat itu, dia mengenakan kaus oblong warna hijau dan celana pendek belel berbahan jins. Ketika disinggung masalah koleksi barang di zaman perang, pria itu sempat kaget, karena dirinya tak terlalu fokus untuk koleksi barang-barang perang. 

Pria yang akrab disapa Rae itu menyampaikan hanya memiliki beberapa koleksi saja, seperti seragam tentara Inggris dan peralatannya seperti pistol, botol minum, dan nestin buatan Amerika Serikat. “Saya tak terlalu banyak koleksi, kalau sedang ada event teatrikal saja baru cari seragam yang cocok,” tuturnya. Kalau urusan seragam, Rae pasti berburu seragam asli yang bekas, tetapi kalau peralatan seperti tas atau sabuk, dia bisa mereproduksinya sendiri.

Baca Juga :  Serapan Tetap Sama

Dia menceritakan, awal mulanya suka dengan sejarah, perang, atau seputar militer. Rae mengatakan pada 1990-an, salah satu stasiun televisi swasta menyiarkan serial televisi asal Amerika Serikat yang berjudul Tour of Duty. “Film itu bercerita tentang perang Vietnam pada 1955-1975 silam, dari situlah saya pengin sekali berperan atau berdandan menjadi seorang tentara perang,” jelas pria kelahiran 1979 itu. Tetapi, hasrat itu masih terpendam, karena pria asal Surabaya itu belum menemukan kawan yang memiliki hobi sepertinya.

Uniknya, ketika dia hijrah ke Bojonegoro bersama ketiga anak dan istrinya pada 2012 lalu, Rae baru menemukan komunitas atau event teatrikal reka ulang bertema Jambore Sejarah Militer di Tugu Pahlawan Surabaya. Dia pun ikut pada acara tersebut dan akhirnya bertemu dengan banyak kawan yang sehobi dengannya. “Akhirnya saya kepincut dengan sejarah Indonesia, tak lagi sibuk mengulik sejarah Perang Vietnam,” tuturnya. 

Selain itu, dari seringnya berkomunikasi dengan berbagai kawan di luar kota seputar sejarah perang, khususnya Perang Dunia Kedua, Rae pun mengambil ceruk bisnis mereproduksi tas, sabuk, dan peralatan perang.

Dia pun kini sudah spesialis membuat tas perang tentara Inggris, Amerika Serikat, dan Jerman. Mulai dari bahan, warna, dan model harus disesuaikan dengan masa peperangan tersebut. “Kalau bicara sejarah, harus detail buatnya, kalau salah bisa dimarahin banyak orang,” ujarnya. 

Baca Juga :  Dinas PKP Cipta Karya Rampungkan Program Pembangunan 2020

Sebab, menurut dia, memerankan menjadi tentara perang itu sakral, tidak bisa asal-asalan. Rae sendiri sering memerankan menjadi tentara Inggris atau Amerika Serikat ketika ada event. Setiap tahun dia pasti ikut event di Surabaya, tanpa absen sejak 2013. Kalau event di Jogjakarta, dia baru ikut sejak 2015.

Pesanan banyak berdatangan dari luar kota-kota besar. Tetapi dia tidak menyediakan stok, jadi pembuatan berdasarkan pesanan (made by order). “Saya siap buat berdasarkan request dari konsumen, jadi lebih enak,” tuturnya. Bahkan, dia juga pernah menjadi juri kontes event yang diadakan oleh Komunitas Sepeda Tua Indonesia (Kosti) di Surabaya pada 2016 lalu. 

Rae pun ingin sekali mengulik sejarah perang di Bojonegoro dan mencari kawan bertukar informasi. Sehingga, dia main ke tempat-tempat bersejarah di Bojonegoro sendirian. Selain itu, dia pun memiliki beberapa koleksi buku sejarah yang dijadikan referensi. Saat itu, dia mengambilkan beberapa buku sejarahnya dari dalam rumahnya. Di antaranya buku berjudul Pelajar dan Perang Kemerdekaan karya A. Radjab, Sejarah Tentara karya Petrik Matanasi, Iwo Jima 1945 karya Derrick Wright dan Jim Laurier, dan masih banyak lagi. “Saya juga lagi mencari referensi sejarah Bojonegoro pada masa Perang Dunia Kedua,” pungkasnya.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/