alexametrics
23.5 C
Bojonegoro
Wednesday, August 10, 2022

Aplikasi Belum Kelar, RSUD Klasifi kasikan Antrean

KOTA – Antrean pasien di RSUD Dr. R. Sosodoro Djatikoesoemo Bojonegoro belum terurai sejak adanya perubahan sistem pengantrean data. Aplikasi bridging untuk mengantisipasi antrean hingga kini belum selesai. “Hingga sekarang proses pengaplikasian bridging belum selesai. Mengantisipasi antrean, kami terapkan pengklasifi kasian antrean BPJS dan jamkesda atau umum,” kata Humas RSUD Sosodoro Djatikoesoemo, drg. Th omas Djaja. Per 1 April 2018, RSUD Dr. R. Sosodoro Djatikoesoemo harus mengentri dua kali data pasien.

Yakni, dientri ke sistem informasi manajemen (SIM) rumah sakit (RS) dan BPJS. Sehingga, antrean pun mengular dan pelayanan pun menjadi molor. Menurut Th omas, saat ini mekanisme antrean dipisah serta menunggu aplikasi bridging selesai. Jumlah loket antrean di RSUD ada enam, loket 1 sampai 4 untuk antrean peserta BPJS program JKN-KIS, sedangkan loket 5-6 untuk antrean peserta jamkesda atau umum. “Cara tersebut efektif mengantisipasi antrean. Terbukti pelayanan tidak molor hingga sore, perkiraan pukul 14.00 sudah tuntas pasien rawat jalan,” terangnya.

Baca Juga :  Giega Syahrada Mustofa Pelukis Anak, Spesialis Lukisan Cerita Rakyat

Dia menambahkan, jumlah peserta BPJS sekitar 500-an dan peserta jamkesda atau umum sekitar 250-an. Adapun diperkirakan aplikasi bridging mulai dioperasikan minggu depan. Kepala Cabang BPJS Kesehatan Bojonegoro Masrur Ridwan berupaya menginformasikan kepada dokter keluarga dan puskesmas agar tidak selalu membuat rujukan peserta BPJS ke RSUD Bojonegoro. Ini agar antrean di RSUD pelat merah tersebut tidak membludak. Ada delapan rumah sakit bekerja sama dengan BPJS.

KOTA – Antrean pasien di RSUD Dr. R. Sosodoro Djatikoesoemo Bojonegoro belum terurai sejak adanya perubahan sistem pengantrean data. Aplikasi bridging untuk mengantisipasi antrean hingga kini belum selesai. “Hingga sekarang proses pengaplikasian bridging belum selesai. Mengantisipasi antrean, kami terapkan pengklasifi kasian antrean BPJS dan jamkesda atau umum,” kata Humas RSUD Sosodoro Djatikoesoemo, drg. Th omas Djaja. Per 1 April 2018, RSUD Dr. R. Sosodoro Djatikoesoemo harus mengentri dua kali data pasien.

Yakni, dientri ke sistem informasi manajemen (SIM) rumah sakit (RS) dan BPJS. Sehingga, antrean pun mengular dan pelayanan pun menjadi molor. Menurut Th omas, saat ini mekanisme antrean dipisah serta menunggu aplikasi bridging selesai. Jumlah loket antrean di RSUD ada enam, loket 1 sampai 4 untuk antrean peserta BPJS program JKN-KIS, sedangkan loket 5-6 untuk antrean peserta jamkesda atau umum. “Cara tersebut efektif mengantisipasi antrean. Terbukti pelayanan tidak molor hingga sore, perkiraan pukul 14.00 sudah tuntas pasien rawat jalan,” terangnya.

Baca Juga :  Supi Anggap Perkara Utang Piutang

Dia menambahkan, jumlah peserta BPJS sekitar 500-an dan peserta jamkesda atau umum sekitar 250-an. Adapun diperkirakan aplikasi bridging mulai dioperasikan minggu depan. Kepala Cabang BPJS Kesehatan Bojonegoro Masrur Ridwan berupaya menginformasikan kepada dokter keluarga dan puskesmas agar tidak selalu membuat rujukan peserta BPJS ke RSUD Bojonegoro. Ini agar antrean di RSUD pelat merah tersebut tidak membludak. Ada delapan rumah sakit bekerja sama dengan BPJS.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/