alexametrics
24.9 C
Bojonegoro
Sunday, May 22, 2022

Lebih Murah, Buah Lokal Diminati 

BISNIS – Jeruk impor terjadi kelangkaan sejak bulan lalu. Tapi tidak berdampak besar terhadap penjualan buah di Lamongan. Karena konsumen di Kota Soto tersebut masih terbiasa mengonsumsi buah lokal dibandingkan impor. “Kelangkaan buah jeruk kino pakistan dan  ponkam tidak banyak berpengaruh,” ujar Wahyuni, salah satu pedagang buah di Lamongan kemarin (11/3).

Menurut dia, konsumen buah impor di Lamongan hanya sekitar 10 persen. Sisanya masih mengandalkan buah lokal. Apalagi beberapa daerah tetangga sedang panen. “Konsumen akan meningkat karena harga buah lokal cenderung lebih murah dibandingkan buah impor,” terangnya.

Dia mengungkapkan, untuk buah jeruk lokal, konsumen hanya perlu merogoh kocek Rp 10 ribu hingga Rp 15 ribu per kilogram (kg). Sedangkan jeruk impor harganya terus naik. Jeruk kino pakistan tembus Rp 22 ribu per kg dan jeruk ponkam Rp 25 ribu per kg. “Dengan harga buah impor yang lebih tinggi, konsumen lebih memilih buah lokal,” ungkapnya.

Baca Juga :  Ingin Dirikan Kafe Berkonsep Ruang Diskusi

Wahyuni menjelaskan, untuk beberapa momen, buah impor memang dibutuhkan. Misalnya, ketika bertepatan dengan tahun baru Cina atau untuk lamaran. Biasanya konsumen akan memilih buah impor meski selisih harganya lebih tinggi. “Tapi ketika persediaan tidak banyak, buah lokal tetap menjadi solusi,” ujarnya.

Sementara, karyawan salah satu minimarket di Lamongan, Maitri Rahmawati membenarkan, persediaan buah impor, terutama jeruk memang sedikit langka. Sejak bulan lalu, kiriman ke daerah dibatasi jumlahnya. Bahkan pelanggan sering balik tanpa membawa barang karena kehabisan. “Satu minggu di jatah 8 kg, kadang kurang kalau suplainya terhambat,” tukasnya. 

 

 

BISNIS – Jeruk impor terjadi kelangkaan sejak bulan lalu. Tapi tidak berdampak besar terhadap penjualan buah di Lamongan. Karena konsumen di Kota Soto tersebut masih terbiasa mengonsumsi buah lokal dibandingkan impor. “Kelangkaan buah jeruk kino pakistan dan  ponkam tidak banyak berpengaruh,” ujar Wahyuni, salah satu pedagang buah di Lamongan kemarin (11/3).

Menurut dia, konsumen buah impor di Lamongan hanya sekitar 10 persen. Sisanya masih mengandalkan buah lokal. Apalagi beberapa daerah tetangga sedang panen. “Konsumen akan meningkat karena harga buah lokal cenderung lebih murah dibandingkan buah impor,” terangnya.

Dia mengungkapkan, untuk buah jeruk lokal, konsumen hanya perlu merogoh kocek Rp 10 ribu hingga Rp 15 ribu per kilogram (kg). Sedangkan jeruk impor harganya terus naik. Jeruk kino pakistan tembus Rp 22 ribu per kg dan jeruk ponkam Rp 25 ribu per kg. “Dengan harga buah impor yang lebih tinggi, konsumen lebih memilih buah lokal,” ungkapnya.

Baca Juga :  Jatah Transmigrasi Tak Sebanding Peminat

Wahyuni menjelaskan, untuk beberapa momen, buah impor memang dibutuhkan. Misalnya, ketika bertepatan dengan tahun baru Cina atau untuk lamaran. Biasanya konsumen akan memilih buah impor meski selisih harganya lebih tinggi. “Tapi ketika persediaan tidak banyak, buah lokal tetap menjadi solusi,” ujarnya.

Sementara, karyawan salah satu minimarket di Lamongan, Maitri Rahmawati membenarkan, persediaan buah impor, terutama jeruk memang sedikit langka. Sejak bulan lalu, kiriman ke daerah dibatasi jumlahnya. Bahkan pelanggan sering balik tanpa membawa barang karena kehabisan. “Satu minggu di jatah 8 kg, kadang kurang kalau suplainya terhambat,” tukasnya. 

 

 

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

Dari Dangdut ke Salawat

Mampu Berbuah Lebih Cepat

Anak Desa Harus Semangat Kuliah


/