alexametrics
23.5 C
Bojonegoro
Wednesday, August 10, 2022

SDN 1 Sumberharjo Perlu Perbaikan, Siswa Waswas Kejatuhan Genting

BOJONEGORO – Cuaca mendung Selasa pagi (12/2), membuat siswa-siswi SDN 1 Sumberharjo, Kecamatan Sumberrejo, khawatir disusul hujan. Waswas ini cukup beralasan setelah ruang kelas kondisinya tidak bagus. Genting pecah-pecah. Plafon atap sudah tak utuh.

Auliya salah satu siswi sesekali melirik ke atas di tengah pelajaran di ruang kelas. Auliya khawatir genting SDN tersebut runtuh. Ketua kelas IV SDN itu khawatir kejadian dialami Muhammad Rohmatullah atau Mamat sapaannya, rekan sekolahnya terluka akibat kejatuhan pecahan genting pada November lalu.

Tak hanya Auliya, waswas ini juga dialami semua siswa kelas 4, 5, dan 6. Kondisi atap tiga kelas tersebut sangat membahayakan. Pantauan Jawa Pos Radar Bojonegoro, kayu pasak di bagian atap sudah lapuk. Atap plafon sudah tak utuh. Kondisi genting sebagian sudah menggantung. 

‘’Mamat (Muhammad Rohmatullah) yang pernah kejatuhan, kena kepalanya,’’ ucap Auliya.

Dia mengatakan, selama proses belajar mengajar, bersama teman-temannya merasa tak fokus. Ini karena selalu waswas jika tiba-tiba atapnya ambruk. Siswa lainnya tak ingin menjadi korban jatuhnya genting sekolah, seperti dialami Mamat.

Mamat kejatuhan genting pada November 2018 lalu itu, bagian kepalanya berdarah. Terpaksa dilarikan ke puskesmas terdekat untuk mendapatkan perawatan. ‘’Berobat sendiri, bersama ibu mencari obat,’’ ucap Mamat dengan lugunya.

Baca Juga :  NJOP Industri Dipukul Rata

Ketika hujan saat jam pelajaran, siswa memilih menggeser bangkunya. Dan bergerombol di titik ruang kelas tidak bocor. Siswa-siswi memilih tidak memakai sepatu. Alasannya sederhana. Saat berangkat sekolah jalannya berlumpur. Sehingga, jika memakai sepatu dipastikan akan basah.

‘’Saat hujan, jalan licin, banyak lumpurnya,’’ ucap Musyarofah, salah stau guru memilih mengenakan sandal jepit saat mengajar. Sedangkan, sepatunya dibungkus plastik di motor. Guru kelas 3 itu memaklumi siswanya tidak mengenakan sepatu, karena kondisi jalan menuju sekolah tidak mendukung. 

Rusaknya gedung SDN di Dusun Pohkuwun Desa Sumberharjo itu, sudah berlangsung sekitar tiga tahun. Meskipun pihak sekolah sudah mengajukan beberapa kali perbaikan gedung ke dinas pendidikan (disdik) tak kunjung ditanggapi.

‘’Yang rusak paling parah itu, empat ruang,’’ kata Munahar salah satu guru.

Dia mengatakan, empat bangunan rusak parah itu kelas 4, 5, dan 6. Serta, kantor guru. Keruskaan mulai dari atap, dinding, lantai sampai bangku sekolah tidak layak. Apalagi di dalam ruang kelas itu ada gundukan tanah, jadi kalau hujan tanah itu menjadi lumpur.

Baca Juga :  Perlancar Pembangunan Drainase & Trotoar, 332 Pohon Peneduh Ditebang

Bangunan SDN itu, dibangun bertahap. Ruang kelas 4, 5, 6, dan kantor guru, dibangun pada 2006. Kemudian ruang kelas 1, 2, dan 3 dibangun pada 2012. Meskipun baru beberapa tahun, namun kondisinya sudah sangat memprihatinkan.

Mereka berharap pemerintah segera membangun SDN di antara permukiman warga dan sawah tersebut. Sebab, saat ini SDN tersebut memiliki 70 siswa. ‘’Sudah beberapa kali disusulkan, tapi yang lebih paham itu pak kepala sekolah,’’ ujar Musyarofah guru lainnya. Dia memastikan, kepala SDN saat ini dijabat pelaksana tugas (Plt).

Disdik Bojonegoro belum bisa dikonfirmasi. Kepala Disdik Hanafi saat didatangi di ruang kerjanya belum bertemu. Salah satu stafnya mengatakan tugas luar. 

Sementara itu, Ketua Komisi C DPRD Bojonegoro Sally Atyasasmi berjanji akan melihat kondisi SDN sebelum memberikan komentar di media. Apalagi, lokasi sekolah merupakan bagian dari daerah pemilihan (dapil) II Bojonegoro. ‘’Besok rencana ke sana (SDN 1 Sumberharjo),’’ singkatnya.

BOJONEGORO – Cuaca mendung Selasa pagi (12/2), membuat siswa-siswi SDN 1 Sumberharjo, Kecamatan Sumberrejo, khawatir disusul hujan. Waswas ini cukup beralasan setelah ruang kelas kondisinya tidak bagus. Genting pecah-pecah. Plafon atap sudah tak utuh.

Auliya salah satu siswi sesekali melirik ke atas di tengah pelajaran di ruang kelas. Auliya khawatir genting SDN tersebut runtuh. Ketua kelas IV SDN itu khawatir kejadian dialami Muhammad Rohmatullah atau Mamat sapaannya, rekan sekolahnya terluka akibat kejatuhan pecahan genting pada November lalu.

Tak hanya Auliya, waswas ini juga dialami semua siswa kelas 4, 5, dan 6. Kondisi atap tiga kelas tersebut sangat membahayakan. Pantauan Jawa Pos Radar Bojonegoro, kayu pasak di bagian atap sudah lapuk. Atap plafon sudah tak utuh. Kondisi genting sebagian sudah menggantung. 

‘’Mamat (Muhammad Rohmatullah) yang pernah kejatuhan, kena kepalanya,’’ ucap Auliya.

Dia mengatakan, selama proses belajar mengajar, bersama teman-temannya merasa tak fokus. Ini karena selalu waswas jika tiba-tiba atapnya ambruk. Siswa lainnya tak ingin menjadi korban jatuhnya genting sekolah, seperti dialami Mamat.

Mamat kejatuhan genting pada November 2018 lalu itu, bagian kepalanya berdarah. Terpaksa dilarikan ke puskesmas terdekat untuk mendapatkan perawatan. ‘’Berobat sendiri, bersama ibu mencari obat,’’ ucap Mamat dengan lugunya.

Baca Juga :  Ingin Kontribusi di Bidang Pariwisata dan Mitigasi Bencana

Ketika hujan saat jam pelajaran, siswa memilih menggeser bangkunya. Dan bergerombol di titik ruang kelas tidak bocor. Siswa-siswi memilih tidak memakai sepatu. Alasannya sederhana. Saat berangkat sekolah jalannya berlumpur. Sehingga, jika memakai sepatu dipastikan akan basah.

‘’Saat hujan, jalan licin, banyak lumpurnya,’’ ucap Musyarofah, salah stau guru memilih mengenakan sandal jepit saat mengajar. Sedangkan, sepatunya dibungkus plastik di motor. Guru kelas 3 itu memaklumi siswanya tidak mengenakan sepatu, karena kondisi jalan menuju sekolah tidak mendukung. 

Rusaknya gedung SDN di Dusun Pohkuwun Desa Sumberharjo itu, sudah berlangsung sekitar tiga tahun. Meskipun pihak sekolah sudah mengajukan beberapa kali perbaikan gedung ke dinas pendidikan (disdik) tak kunjung ditanggapi.

‘’Yang rusak paling parah itu, empat ruang,’’ kata Munahar salah satu guru.

Dia mengatakan, empat bangunan rusak parah itu kelas 4, 5, dan 6. Serta, kantor guru. Keruskaan mulai dari atap, dinding, lantai sampai bangku sekolah tidak layak. Apalagi di dalam ruang kelas itu ada gundukan tanah, jadi kalau hujan tanah itu menjadi lumpur.

Baca Juga :  BUMD Baru bergerak di Sektor Pertanian, Modal Diplot Rp 15 Miliar

Bangunan SDN itu, dibangun bertahap. Ruang kelas 4, 5, 6, dan kantor guru, dibangun pada 2006. Kemudian ruang kelas 1, 2, dan 3 dibangun pada 2012. Meskipun baru beberapa tahun, namun kondisinya sudah sangat memprihatinkan.

Mereka berharap pemerintah segera membangun SDN di antara permukiman warga dan sawah tersebut. Sebab, saat ini SDN tersebut memiliki 70 siswa. ‘’Sudah beberapa kali disusulkan, tapi yang lebih paham itu pak kepala sekolah,’’ ujar Musyarofah guru lainnya. Dia memastikan, kepala SDN saat ini dijabat pelaksana tugas (Plt).

Disdik Bojonegoro belum bisa dikonfirmasi. Kepala Disdik Hanafi saat didatangi di ruang kerjanya belum bertemu. Salah satu stafnya mengatakan tugas luar. 

Sementara itu, Ketua Komisi C DPRD Bojonegoro Sally Atyasasmi berjanji akan melihat kondisi SDN sebelum memberikan komentar di media. Apalagi, lokasi sekolah merupakan bagian dari daerah pemilihan (dapil) II Bojonegoro. ‘’Besok rencana ke sana (SDN 1 Sumberharjo),’’ singkatnya.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/