alexametrics
29.7 C
Bojonegoro
Friday, August 12, 2022

Batik Blora Masih Dinilai Mahal 

BISNIS – Produksi batik Blora dinilai semakin berkembang. Namun, saat ini masih ada tantangan bagi pelaku usaha batik saat memasarkannya ke pasar. Yakni, harga batik blora masih dinilai mahal. Waras Raharjo pemerhati batik mengatakan, selama ini persoalan dihadapi perajin batik adalah harga masih mahal. Karena jika dibanding batik produk dari kota lain, seperti Jogjakarta dan Pekalongan, harganya masih mahal. 

‘’Memang ini menjadi tantangan sendiri, sebab di kota lain dengan harga Rp 30 ribu saja sudah mendapatkan pakaian batik,” katanya kemarin (12/2).

Tapi menurut dia, saat ini perkembangan batik di Blora termasuk pesat. Itu tidak terlepas dari dukungan kebijakan pemakaian seragam batik di lingkungan pemkab, instansi, dan sekolah. Meski begitu, pemasaran batik Blora tak hanya menjangkau instansi terkait. Tapi, sudah merambah konsumen luar Blora. 

Baca Juga :  Komisi C Sayangkan Andris Tak Bisa Ikut UNBK

Hurip Indiani perajin batik mengatakan, selama ini produksi batiknya tetap berjalan dengan baik meski harga yang belum bisa sama dengan kota penghasil lainnya. Namun, saat ini selalu menerima pesanan dari luar kota. ‘’Sudah memiliki langganan sendiri dan pasar sendiri,” ujarnya.

Sri Nyayati pemilik galeri batik di Cepu mengatakan, batik khas Cepu ini banyak dimintai orang dari Jakarta, khususnya dari industri perminyakan. Karena motif khas Cepu sebagai kota minyak yang melekat. Sehingga, tepat bagi perusahaan perminyakan.  

Untuk pemesanan, menurut Sri, terbilang banyak, ada 20 lebih order. Motif yang dipesan kebanyakan warna hitam atau merah. Meski saat ini sudah banyak dikembangkan beberapa warna lain.

Baca Juga :  100 Restoran Dipasangi Tipping Box, Agar Pajak Restoran Akurat

BISNIS – Produksi batik Blora dinilai semakin berkembang. Namun, saat ini masih ada tantangan bagi pelaku usaha batik saat memasarkannya ke pasar. Yakni, harga batik blora masih dinilai mahal. Waras Raharjo pemerhati batik mengatakan, selama ini persoalan dihadapi perajin batik adalah harga masih mahal. Karena jika dibanding batik produk dari kota lain, seperti Jogjakarta dan Pekalongan, harganya masih mahal. 

‘’Memang ini menjadi tantangan sendiri, sebab di kota lain dengan harga Rp 30 ribu saja sudah mendapatkan pakaian batik,” katanya kemarin (12/2).

Tapi menurut dia, saat ini perkembangan batik di Blora termasuk pesat. Itu tidak terlepas dari dukungan kebijakan pemakaian seragam batik di lingkungan pemkab, instansi, dan sekolah. Meski begitu, pemasaran batik Blora tak hanya menjangkau instansi terkait. Tapi, sudah merambah konsumen luar Blora. 

Baca Juga :  Mendadak Jadi Selebgram

Hurip Indiani perajin batik mengatakan, selama ini produksi batiknya tetap berjalan dengan baik meski harga yang belum bisa sama dengan kota penghasil lainnya. Namun, saat ini selalu menerima pesanan dari luar kota. ‘’Sudah memiliki langganan sendiri dan pasar sendiri,” ujarnya.

Sri Nyayati pemilik galeri batik di Cepu mengatakan, batik khas Cepu ini banyak dimintai orang dari Jakarta, khususnya dari industri perminyakan. Karena motif khas Cepu sebagai kota minyak yang melekat. Sehingga, tepat bagi perusahaan perminyakan.  

Untuk pemesanan, menurut Sri, terbilang banyak, ada 20 lebih order. Motif yang dipesan kebanyakan warna hitam atau merah. Meski saat ini sudah banyak dikembangkan beberapa warna lain.

Baca Juga :  Fashion Bekas Mulai Dilirik, Ini Alasannya

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/