alexametrics
24.4 C
Bojonegoro
Wednesday, May 18, 2022

Fenomena Kulminasi Melanda Wilayah Bojonegoro

Radar Bojonegoro – Masyarakat harus menghadapi fenomena kulminasi. Yakni fenomena ketika matahari tepat berada di posisi paling tinggi di langit. Sehingga posisi matahari tepat berada di atas kepala. Atau biasa disebut hari tanpa bayangan.

Fenomena ini dibarengi suhu menjadi terik. Kala siang akhir-akhir ini terik panas matahari kerap membuat kulit perih apabila terpapar secara langsung. Bahkan, kemarin (11/10) suhu mencapai 36 derajat Celsius sekitar pukul 13.00 hingga 14.00.

Berdasar aplikasi tersebut 36 derajat Celsius ini terasa 41 derajat. Berdasar laporan Badan Metereologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Kelas I Juanda Surabaya salah satu penyebabnya karena beberapa wilayah di Indonesia termasuk Jawa Timur tengah dilanda fenomena kulminasi ini.

Kepala Pelaksana (Kalak) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bojonegoro Ardhian Orianto mengatakan, cuaca dalam minggu ini masih masal peralihan atau pancaroba.

Baca Juga :  Gunakan Barang Bekas Pertanian sebagai Alat Musik

Belum ada tanda-tanda awal musim hujan. Mengingat kondisi cuaca setiap harinya yang mana ketika siang panas terik, lalu ketika sore kerap terjadi angin kencang. “Sekarang belum awal musim hujan. Masih peralihan. Karena itu, setiap siang hari masih panas terik,” jelasnya kepada Jawa Pos Radar Bojonegoro.

Adapun potensi cuaca ekstrem masih mengintai. Khususnya ketika sore jelang petang berpotensi terjadi hujan deras disertai angin kencang dan petir. Ardhian mengungkapkan, bahwa satu bangunan dapur ambruk tersapu angin kencang sekitar pukul 16.45 pada Minggu lalu (10/10).

Dapur tersebut milik Murti Rumiyah, 42, warga Dusun Karon, Desa Karangdowo, Kecamatan Sumberrejo. Bangunan dapur berukuran 12×5 meter itu terbuat dari bambu dengan dinding anyaman bambu. Diduga bangunan sudah mulai lapuk.

Baca Juga :  Geledah Sel Tahanan, Temukan Sajam

“Kerugian material ditaksir Rp 8 juta,” imbuh Ardhian. Selain itu, kekeringan juga masih meluas. Sebanyak 15 desa dari tujuh kecamatan mengajukan permintaan air bersih akibat kekeringan.

Di antaranya Desa Tlatah dan Pelem di Kecamatan Purwosari; Desa Jatimulyo, Gamongan, Malingmati, Sukorejo, Bakalan, dan Ngrancang di Kecamatan Tambakrejo; dan Desa Dukuh kidul dan Jelu di Keca matan Ngasem; Desa Sumodikaran, Kecamatan Dander; Desa Margoagung, Kecamatan Sumberrejo; Desa Nganti dan Sugihwaras, Kecamatan Ngraho; Desa/ Kecamatan Kasiman. “Permintaan air bersih masih ada dan jadwal kegiatan distribusi air setiap hari masih terus jalan,” bebernya. (bgs)

Radar Bojonegoro – Masyarakat harus menghadapi fenomena kulminasi. Yakni fenomena ketika matahari tepat berada di posisi paling tinggi di langit. Sehingga posisi matahari tepat berada di atas kepala. Atau biasa disebut hari tanpa bayangan.

Fenomena ini dibarengi suhu menjadi terik. Kala siang akhir-akhir ini terik panas matahari kerap membuat kulit perih apabila terpapar secara langsung. Bahkan, kemarin (11/10) suhu mencapai 36 derajat Celsius sekitar pukul 13.00 hingga 14.00.

Berdasar aplikasi tersebut 36 derajat Celsius ini terasa 41 derajat. Berdasar laporan Badan Metereologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Kelas I Juanda Surabaya salah satu penyebabnya karena beberapa wilayah di Indonesia termasuk Jawa Timur tengah dilanda fenomena kulminasi ini.

Kepala Pelaksana (Kalak) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bojonegoro Ardhian Orianto mengatakan, cuaca dalam minggu ini masih masal peralihan atau pancaroba.

Baca Juga :  Startup Digital Lamongan Mulai Berkembang Pesat

Belum ada tanda-tanda awal musim hujan. Mengingat kondisi cuaca setiap harinya yang mana ketika siang panas terik, lalu ketika sore kerap terjadi angin kencang. “Sekarang belum awal musim hujan. Masih peralihan. Karena itu, setiap siang hari masih panas terik,” jelasnya kepada Jawa Pos Radar Bojonegoro.

Adapun potensi cuaca ekstrem masih mengintai. Khususnya ketika sore jelang petang berpotensi terjadi hujan deras disertai angin kencang dan petir. Ardhian mengungkapkan, bahwa satu bangunan dapur ambruk tersapu angin kencang sekitar pukul 16.45 pada Minggu lalu (10/10).

Dapur tersebut milik Murti Rumiyah, 42, warga Dusun Karon, Desa Karangdowo, Kecamatan Sumberrejo. Bangunan dapur berukuran 12×5 meter itu terbuat dari bambu dengan dinding anyaman bambu. Diduga bangunan sudah mulai lapuk.

Baca Juga :  Banjir, 104 Pelajar SD Libur

“Kerugian material ditaksir Rp 8 juta,” imbuh Ardhian. Selain itu, kekeringan juga masih meluas. Sebanyak 15 desa dari tujuh kecamatan mengajukan permintaan air bersih akibat kekeringan.

Di antaranya Desa Tlatah dan Pelem di Kecamatan Purwosari; Desa Jatimulyo, Gamongan, Malingmati, Sukorejo, Bakalan, dan Ngrancang di Kecamatan Tambakrejo; dan Desa Dukuh kidul dan Jelu di Keca matan Ngasem; Desa Sumodikaran, Kecamatan Dander; Desa Margoagung, Kecamatan Sumberrejo; Desa Nganti dan Sugihwaras, Kecamatan Ngraho; Desa/ Kecamatan Kasiman. “Permintaan air bersih masih ada dan jadwal kegiatan distribusi air setiap hari masih terus jalan,” bebernya. (bgs)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/