alexametrics
24.2 C
Bojonegoro
Thursday, May 19, 2022

Sudetan Gandong Menunggu Penebangan Pohon Jati

BOJONEGORO, Radar Bojonegoro – Pengerjaan sudetan Sungai Gandong baru mencapai 40 persen. Pengerjaan belum bisa maksimal karena belum ada tagihan Perhutani terkait ganti rugi pohon jati yang bakal ditebang.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum (PU) Sumber Daya Air Bojonegoro Edi Susanto menjelaskan, jumlah pohon jati di kawasan itu ada ratusan. Namun, yang terimbas hanya 129 batang. Pohon-pohon itu sudah diberi tanda semua.

’’Tidak semua tegakan (pohon jati) terimbas. Hanya sebagian,’’ katanya saat kunjungan di lokasi proyek sudetan kemarin siang (11/10).

Sudetan itu memiliki panjang 800 meter. Lebarnya mencapai 50 meter. Jumlah bukit yang disudet ada tiga. Hingga kini sudah dua bukit sudah disudet. Satu bukit sudah selesai. Satunya dalam proses. Satu bukit belum disudet sama sekali. 

Pengerjaan sudetan itu tidak mudah. Pengerukan harus dalam. Sebab, posisinya hulu sungai lebih rendah. Sedangkan, bukitnya sangat tinggi. Sehingga, pengerukan harus dalam. Jika tidak, air akan sulit mengalir. ’’Jadi, lamanya penyudetan karena sangat dalam,’’ jelasnya.

Baca Juga :  Kebuh Sugih Dibelenggu Perizinan¬†

Bukit terakhir yang akan disudet itu cukup tinggi. Penyudetan bukit itu bisa membutuhkan banyak peralatan berat. Saat ini sudah ada lima alat berat. Tiga alat pengeruk atau backhoe. Sedangkan dua lainnya buldozer. ’’Jika ganti rugi sudah turun akan dilakukan penebangan. Sehingga, bisa langsung disudet,’’ jelasnya.

Hingga kini Perhutani Divre Jatim belum melakukan penagihan ganti rugi ke pemkab. Padahal, semua harus dilakukan dengan cepat. Sebab, saat ini sudah Oktober. Tidak lama lagi akan datang musim hujan.

Jika musim hujan datang pengerjaan akan lebih sulit. Selain itu, banjir bandang akan mengintai lagi jika sudetan belum usai.

’’Pembuatan sudetan ini adalah upaya pemkab untuk menghindari banjir bandang,’’ jelasnya.

Baca Juga :  Curahkan Emosi dengan Menggambar

Administratur (Adm) Perhutani KPH Bojonegoro Dewanto menjelaskan, saat ini kayu jati masih dalam proses penghitungan. Berapa nilai per pohon masih belum diketahui. ’’Saat ini masih dibahas,’’ ujarnya kepada Jawa Pos Radar Bojonegoro.

Nanti, lanjut dia, kayu jati itu akan menjadi milik pemkab. Sebab, sudah diganti dengan uang. ’’Kayu jatinya nanti menjadi milik pemohon,’’ jelasnya.

Dusun Sugihan, Desa Kedungsumber, Temayang, adalah wilayah yang menjadi langganan banjir bandang. Itu karena Sungai Gandong tidak mampu menampung debit air saat hujan. Sehingga, air meluber dan masuk ke rumah warga. Bahkan, secara tiba-tiba.

Sementara itu, Neles Sunaryo, anggota DPRD Bojonegoro mendorong proyek sudetan dipercepat. Alasannya, musim hujan segera tiba. Sebab, sudetan itu untuk menghindari terjadinya banjir bandang ketika hujan deras.

’’Tadi (kemarin, Red) ketika reses juga banyak yang menanyakan proyek sudetan,’’ ujar politikus Partai Keadilan Sejahtera (PKS) asal Kecamatan Sekar ini.

BOJONEGORO, Radar Bojonegoro – Pengerjaan sudetan Sungai Gandong baru mencapai 40 persen. Pengerjaan belum bisa maksimal karena belum ada tagihan Perhutani terkait ganti rugi pohon jati yang bakal ditebang.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum (PU) Sumber Daya Air Bojonegoro Edi Susanto menjelaskan, jumlah pohon jati di kawasan itu ada ratusan. Namun, yang terimbas hanya 129 batang. Pohon-pohon itu sudah diberi tanda semua.

’’Tidak semua tegakan (pohon jati) terimbas. Hanya sebagian,’’ katanya saat kunjungan di lokasi proyek sudetan kemarin siang (11/10).

Sudetan itu memiliki panjang 800 meter. Lebarnya mencapai 50 meter. Jumlah bukit yang disudet ada tiga. Hingga kini sudah dua bukit sudah disudet. Satu bukit sudah selesai. Satunya dalam proses. Satu bukit belum disudet sama sekali. 

Pengerjaan sudetan itu tidak mudah. Pengerukan harus dalam. Sebab, posisinya hulu sungai lebih rendah. Sedangkan, bukitnya sangat tinggi. Sehingga, pengerukan harus dalam. Jika tidak, air akan sulit mengalir. ’’Jadi, lamanya penyudetan karena sangat dalam,’’ jelasnya.

Baca Juga :  Toilet Portable di Taman Rajekwesi Mangkrak

Bukit terakhir yang akan disudet itu cukup tinggi. Penyudetan bukit itu bisa membutuhkan banyak peralatan berat. Saat ini sudah ada lima alat berat. Tiga alat pengeruk atau backhoe. Sedangkan dua lainnya buldozer. ’’Jika ganti rugi sudah turun akan dilakukan penebangan. Sehingga, bisa langsung disudet,’’ jelasnya.

Hingga kini Perhutani Divre Jatim belum melakukan penagihan ganti rugi ke pemkab. Padahal, semua harus dilakukan dengan cepat. Sebab, saat ini sudah Oktober. Tidak lama lagi akan datang musim hujan.

Jika musim hujan datang pengerjaan akan lebih sulit. Selain itu, banjir bandang akan mengintai lagi jika sudetan belum usai.

’’Pembuatan sudetan ini adalah upaya pemkab untuk menghindari banjir bandang,’’ jelasnya.

Baca Juga :  Radar Bojonegoro Hadir di CFD, Kini Beri Suguhan Beda

Administratur (Adm) Perhutani KPH Bojonegoro Dewanto menjelaskan, saat ini kayu jati masih dalam proses penghitungan. Berapa nilai per pohon masih belum diketahui. ’’Saat ini masih dibahas,’’ ujarnya kepada Jawa Pos Radar Bojonegoro.

Nanti, lanjut dia, kayu jati itu akan menjadi milik pemkab. Sebab, sudah diganti dengan uang. ’’Kayu jatinya nanti menjadi milik pemohon,’’ jelasnya.

Dusun Sugihan, Desa Kedungsumber, Temayang, adalah wilayah yang menjadi langganan banjir bandang. Itu karena Sungai Gandong tidak mampu menampung debit air saat hujan. Sehingga, air meluber dan masuk ke rumah warga. Bahkan, secara tiba-tiba.

Sementara itu, Neles Sunaryo, anggota DPRD Bojonegoro mendorong proyek sudetan dipercepat. Alasannya, musim hujan segera tiba. Sebab, sudetan itu untuk menghindari terjadinya banjir bandang ketika hujan deras.

’’Tadi (kemarin, Red) ketika reses juga banyak yang menanyakan proyek sudetan,’’ ujar politikus Partai Keadilan Sejahtera (PKS) asal Kecamatan Sekar ini.

Artikel Terkait

Most Read

Ramadan Masih Potensi Banjir

Ahmad Bustomi Pamit

Kesulitan Melintas Bundaran Adipura

Artikel Terbaru


/