alexametrics
25.5 C
Bojonegoro
Sunday, July 3, 2022

Sekolah Ujung Tombak Antikorupsi

PEMKAB Lamongan giat melakukan pencegahan korupsi. Salah satu upayanya dengan memasukkan kurikulum antikorupsi dalam pelajaran sekolah. Sehingga sekolah dijadikan sebagai ujung tombak untuk menanamkan nilai-nilai pendidikan anti korupsi kepada generasi penerus. Kemarin (11/9), ratusan guru dikumpulkan untuk mendapat Bimbingan Teknis (Bimtek)  Implementasi Penyisipan Pendidikan Antikorupsi pada Mata Pelajaran di Tingkat  PAUD, SD/MI dan SMP/MTs se-Kabupaten Lamongan di Hotel Grand Mahkota.

Bupati Lamongan, Fadeli memiliki harapan besar, agar sekolah, melalui guru-gurunya akan menjadi ujung tombak bagi pembelajaran anti korupsi. “Panjengan semua inilah, yang akan berperan besar membentuk karakter anak-anak. Ada Sembilan nilai-nilai anti korupsi yang dimasukkan dalam mata pelajaran. Yakni kejujuran, kepedulian, kemandirian, kedisiplinan, tanggung jawab, kerja keras, sederhana, keberanian dan keadilan,” jelasnya.

Fadeli menegaskan, dia akan terus mengimplementasikan Rencana Aksi Pencegahan Korupsi (Renaksi) Koordinasi dan Supervisi Pencegahan (Korsupgah). Meski dalam program milik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) ini, capaian Pemkab Lamongan dinilai sudah tertinggi di Indonesia. Yakni, mencapai 93 persen. ”Meski upaya pencegahan anti korupsi di Lamongan nomor satu, kita tidak boleh berhenti sampai disini, dan harus semakin baik,” tandasnya.

Baca Juga :  Urukan Ambles, Laporkan Saja

Kepala Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Lamongan, Bambang Hadjar selaku ketua panitia menjelaskan, bimtek tersebut dijadikan pedoman pelaksanaan implementasi insersi pendidikan antikorupsi di sekolah.

Pendidikan antikorupsi melalui insersi mata pelajaran di sekolah sudah diluncurkan Fadeli saat Upacara Hari Pendidikan Nasional 2 Mei lalu. Buku teks sebagai perangkat pembelajaran juga sudah didistribusikan ke sekolah-sekolah oleh Dinas Pendidikan setempat

Bimtek selama dua hari tersebut diikuti 150 peserta dari kalangan guru sekolah negeri dan swasta tingkat PAUD, SD/MI dan SMP/MTs. Di hari pertama, peserta menerima materi dari Inspektorat Lamongan, Kejaksaan Negeri Lamongan dan Bambang Suyono yang juga seorang trainer, motivator dan konselor dari Marion Human Capital.

Baca Juga :  Sambal Terasi dan Bawang Di Rumah Suwarni untuk Satgas TMMD dan Warga

Dalam paparannya, Bambang menandaskan pentingnya menghindari hambatan-hambatan psikologis dan mental blocks, saat memberikan pendidikan pada anak. “Jangan sampai anak bereaksi salah terhadap suatu peristiwa akibat metode Pendidikan yang negatif,” ujarnya.

Mindset pembelajaran yang menarik, menurut dia, akan membuat anak selalu mengingat yang diajarkan. Bambang juga memperkenalkan pembelajaran sugesti melalui lingkungan yang positif, suasana yang aman dan dengan metode games yang bisa dipraktekkan agar pembelajaran semakin menarik. “Seperti halnya mengajarkan anak-anak kita belajar antikorupsi sejak dini yang digagas Pak Bupati Lamongan (Fadeli) ini. Kita harus memikirkan bagaimana anak-anak kita belajar untuk tidak korupsi. Kita memiliki tugas menyampaikan secara terus menerus, agar anak sadar dampak dari korupsi,” terangnya.

PEMKAB Lamongan giat melakukan pencegahan korupsi. Salah satu upayanya dengan memasukkan kurikulum antikorupsi dalam pelajaran sekolah. Sehingga sekolah dijadikan sebagai ujung tombak untuk menanamkan nilai-nilai pendidikan anti korupsi kepada generasi penerus. Kemarin (11/9), ratusan guru dikumpulkan untuk mendapat Bimbingan Teknis (Bimtek)  Implementasi Penyisipan Pendidikan Antikorupsi pada Mata Pelajaran di Tingkat  PAUD, SD/MI dan SMP/MTs se-Kabupaten Lamongan di Hotel Grand Mahkota.

Bupati Lamongan, Fadeli memiliki harapan besar, agar sekolah, melalui guru-gurunya akan menjadi ujung tombak bagi pembelajaran anti korupsi. “Panjengan semua inilah, yang akan berperan besar membentuk karakter anak-anak. Ada Sembilan nilai-nilai anti korupsi yang dimasukkan dalam mata pelajaran. Yakni kejujuran, kepedulian, kemandirian, kedisiplinan, tanggung jawab, kerja keras, sederhana, keberanian dan keadilan,” jelasnya.

Fadeli menegaskan, dia akan terus mengimplementasikan Rencana Aksi Pencegahan Korupsi (Renaksi) Koordinasi dan Supervisi Pencegahan (Korsupgah). Meski dalam program milik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) ini, capaian Pemkab Lamongan dinilai sudah tertinggi di Indonesia. Yakni, mencapai 93 persen. ”Meski upaya pencegahan anti korupsi di Lamongan nomor satu, kita tidak boleh berhenti sampai disini, dan harus semakin baik,” tandasnya.

Baca Juga :  Tampung Masukan Retribusi Tera Ulang

Kepala Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Lamongan, Bambang Hadjar selaku ketua panitia menjelaskan, bimtek tersebut dijadikan pedoman pelaksanaan implementasi insersi pendidikan antikorupsi di sekolah.

Pendidikan antikorupsi melalui insersi mata pelajaran di sekolah sudah diluncurkan Fadeli saat Upacara Hari Pendidikan Nasional 2 Mei lalu. Buku teks sebagai perangkat pembelajaran juga sudah didistribusikan ke sekolah-sekolah oleh Dinas Pendidikan setempat

Bimtek selama dua hari tersebut diikuti 150 peserta dari kalangan guru sekolah negeri dan swasta tingkat PAUD, SD/MI dan SMP/MTs. Di hari pertama, peserta menerima materi dari Inspektorat Lamongan, Kejaksaan Negeri Lamongan dan Bambang Suyono yang juga seorang trainer, motivator dan konselor dari Marion Human Capital.

Baca Juga :  KPUK: Baliho Gus Ipul Harus Diturunkan

Dalam paparannya, Bambang menandaskan pentingnya menghindari hambatan-hambatan psikologis dan mental blocks, saat memberikan pendidikan pada anak. “Jangan sampai anak bereaksi salah terhadap suatu peristiwa akibat metode Pendidikan yang negatif,” ujarnya.

Mindset pembelajaran yang menarik, menurut dia, akan membuat anak selalu mengingat yang diajarkan. Bambang juga memperkenalkan pembelajaran sugesti melalui lingkungan yang positif, suasana yang aman dan dengan metode games yang bisa dipraktekkan agar pembelajaran semakin menarik. “Seperti halnya mengajarkan anak-anak kita belajar antikorupsi sejak dini yang digagas Pak Bupati Lamongan (Fadeli) ini. Kita harus memikirkan bagaimana anak-anak kita belajar untuk tidak korupsi. Kita memiliki tugas menyampaikan secara terus menerus, agar anak sadar dampak dari korupsi,” terangnya.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

Makin Sombong, Makin Bernilai

Kehilangan Akun Line


/