alexametrics
24 C
Bojonegoro
Tuesday, June 28, 2022

BERBURU IKAN JUMBO KETIKA BENGAWAN SOLO SURUT

Radar Bojonegoro – Air mengalir tenang. Tak ada arus berarti. Tak ada gemericik air. Menandakan debit air Sungai Bengawan Solo, surut. Kemarau seperti saat ini, ketinggian air Bengawan Solo di kawasan perkotaan cukup dangkal. Lebar bengawan pun menyisakan separo. Bagian lainnya sudah terlihat bagian dasarnya. Seperti halnya di bengawan turut kawasan Kelurahan Ledok Kulon yang berbatasan dengan wilayah Kecamatan Trucuk ini.

Bahkan, beberapa titik bisa diseberangi dengan jalan kaki. Debit air surut ini tentu memengaruhi populasi ikan-ikan bengawan. Kini, ikan bengawan beralih berada di kawasan cekungan atau kedung. Yakni titik bengawan dengan kedalaman tertentu. Arus air berjalan berputar. Di tempat inilah atau kedung para pemancing berburu ikan-ikan jumbo bengawan. Salah satunya ikan jambal. Bentunya menyerupai ikan patin. Tapi ukurannya besar. Ada juga yang menyebut ikan rengkik juga ikan bawal.

Jawa Pos Radar Bojonegoro kemarin (11/8) mendatangi salah satu spot memancing di kedung perbatasan Kelurahan Ledok Kulon dan Desa Sranak, Kecamatan Trucuk. Terlihat beberapa pemancing memakai penutup kepala setia menunggu di tepi bengawan. Salah satunya Andik Setyo utomo. Ia duduk di pinggir Bengawan Solo. Kedua tangannya sibuk memasang kail pancing. Mengambil umpan dan memasangnya. Kali ini umpannya usus sapi.

Kail dan umpan yang terpasang di stik pancing itu selanjutnya dilempar ke tengah sungai. Setelah itu menaruh pancing di pinggir bengawan. Dia beringsut ke sebuah gubuk untuk berteduh. Kebetulan bersama rekan-rekannya membuat gubuk sederhana untuk menunggu pancing. Jika pancing bergerak, menandakan ikan menarik kail dan umpan. Berarti segera berlari menuju pancing untuk menarik.

‘’Masih lama. Ayo kita tunggu sambil ngobrol-ngobrol di situ (gubuk, Red),’’ ujarnya kemarin siang. Andik sudah akrab dengan sungai terpanjang di Pulau Jawa itu. Memancing sudah melekat. Kebetulan rumahnya juga tak jauh dari Bengawan Solo. Setiap hari memancing. Siang dan malam. Baik musim hujan ataupun kemarau.

Baca Juga :  Kapolres Siapkan 10 Personel Penjinak Bom

Namun, memancing ikan di Bengawan Solo ketika musim kemarau memiliki keunikan tersendiri. Ketika kemarau, para pemancing berburu ikan-ikan jumbo. Lokasinya ya di cekungan atau kedung. Ikannya lebih besar. Kebanyakan ikan jambal. Beratnya bisa mencapai berat 15 kilogram bahkan 20 kilogram. Dengan seberat itu, tentu menjadi ikan jumbo dibanding biota biota lain di bengawan.

Ikan besar-besar itu hidup di dasar Bengawan Solo. Terutama di kedung. Saat kemarau kedung-kedung itu terlihat. Di situlah menjadi spot memancing berburu ikan jambal dengan ukuran jumbo. Itu berbeda saat musim penghujan. Memancingnya ikan saat musim penghujan tidak bisa ditargetkan jenis ikannya. Sebab, semua kedungnya sudah tidak terlihat. Ikan jambal hidup di kedalaman.

Sedangkan, biota bengawan lainnya seperti ikan nila, bader, dan tombro, mudah didapatkan saat bengawan pasang. Teknis memancingnya juga beda. Memancing di kedalaman dengan target ikan jambal, tentu umpan yang dipakai juga harus besar. Pancingnya juga harus kuat. Sebab, ikan ditargetkan memiliki berat yang lumayan.

‘’Tahun lalu pernah mendapatkan 30 kilogram,’’ tuturnya. Cekungan Bengawan Solo cukup dalam. Mencapai 7 meter hingga 15 meter. Sangat berbahaya jika tidak hati-hati. Usia ikan yang hidup di cekungan itu diper kirakan sudah setahun lebih. Itu terlihat dari ukurannya jumbo.

‘’Mungkin bisa dua tahun. Melihat beratnya. Tapi saya tidak tahu pasti karena ikan liar kadang lebih cepat besar,’’ ujar Helen sapaan akrabnya. Lelaki berbisnis kanopi ini sudah terbiasa mendapat ikan-ikan jumbo. Kerap kali mendapatkan. Memancing hingga dini hari. Bahkan, saking sering mendapatkan, sampai kulkasnya penuh berisi ikan-ikan bengawan.

Baca Juga :  Optimistis Masuk 10 Besar

Rata-rata pemancing menargetkan ikan jambal. Bukan ikan lainnya. Itulah kasta tertinggi perolehan ikan saat memancing di Bengawan Solo. Jika dapat ikan jambal, bukan main gembiranya. ‘’Kalau dapat lainnya ya senang. Tapi, tidak seperti kalau saat dapat jambal,’’ ujar Gunawan, pemancing lainnya.

Memancing jambal tidaklah mudah. Harus punya strategi. Juga harus bersabar. Sebab, tidak setiap memancing dapat ikan. Ada yang seharian tidak dapat. Namun, juga ada yang sebentar dapat jambal. ‘’Ya tergantung nasib pokoknya,’’ ujarnya. Meski demikian, memancing ikan di Bengawan Solo saat kemarau memiliki keasyikan tersendiri

. Saat kemarau seperti ini air Bengawan Solo rawan tercemar. Sebab, aliran air yang tidak terlalu deras membuat sampah bertumpuk. Itu kadang membuat ikan juga tidak sehat. ‘’Biasanya mabuk sebentar. Tapi ikan bisa menyesuaikan diri,’’ jelas pria asli Kauman itu.

Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Bojonegoro memastikan, baku mutu air Bengawan solo memang di bawah standar. Namun, itu tidak memengaruhi kehidupan ikan-ikan di sungai itu. Kepala DLH Bojonegoro Hanafi mengatakan, sesuai hasil uji laboratorium baku mutu air Bengawan Solo hanya bisa untuk penggunaan kelas dua. Yakni, pertanian, peternakan, dan perikanan. “Sedangkan untuk air minum disarankan tidak menggunakan air Bengawan Solo,” ujar dia.

Hanafi memastikan, PH atau kadar kandungan air Bengawan Solo ini masih aman untuk hidup ikan. Sehingga, ekosistem ikan dalam sungai terpanjang di Pulau Jawa itu tidak akan terganggu. “Kalau ikan aman. Tidak terganggu,” klaimnya.

Radar Bojonegoro – Air mengalir tenang. Tak ada arus berarti. Tak ada gemericik air. Menandakan debit air Sungai Bengawan Solo, surut. Kemarau seperti saat ini, ketinggian air Bengawan Solo di kawasan perkotaan cukup dangkal. Lebar bengawan pun menyisakan separo. Bagian lainnya sudah terlihat bagian dasarnya. Seperti halnya di bengawan turut kawasan Kelurahan Ledok Kulon yang berbatasan dengan wilayah Kecamatan Trucuk ini.

Bahkan, beberapa titik bisa diseberangi dengan jalan kaki. Debit air surut ini tentu memengaruhi populasi ikan-ikan bengawan. Kini, ikan bengawan beralih berada di kawasan cekungan atau kedung. Yakni titik bengawan dengan kedalaman tertentu. Arus air berjalan berputar. Di tempat inilah atau kedung para pemancing berburu ikan-ikan jumbo bengawan. Salah satunya ikan jambal. Bentunya menyerupai ikan patin. Tapi ukurannya besar. Ada juga yang menyebut ikan rengkik juga ikan bawal.

Jawa Pos Radar Bojonegoro kemarin (11/8) mendatangi salah satu spot memancing di kedung perbatasan Kelurahan Ledok Kulon dan Desa Sranak, Kecamatan Trucuk. Terlihat beberapa pemancing memakai penutup kepala setia menunggu di tepi bengawan. Salah satunya Andik Setyo utomo. Ia duduk di pinggir Bengawan Solo. Kedua tangannya sibuk memasang kail pancing. Mengambil umpan dan memasangnya. Kali ini umpannya usus sapi.

Kail dan umpan yang terpasang di stik pancing itu selanjutnya dilempar ke tengah sungai. Setelah itu menaruh pancing di pinggir bengawan. Dia beringsut ke sebuah gubuk untuk berteduh. Kebetulan bersama rekan-rekannya membuat gubuk sederhana untuk menunggu pancing. Jika pancing bergerak, menandakan ikan menarik kail dan umpan. Berarti segera berlari menuju pancing untuk menarik.

‘’Masih lama. Ayo kita tunggu sambil ngobrol-ngobrol di situ (gubuk, Red),’’ ujarnya kemarin siang. Andik sudah akrab dengan sungai terpanjang di Pulau Jawa itu. Memancing sudah melekat. Kebetulan rumahnya juga tak jauh dari Bengawan Solo. Setiap hari memancing. Siang dan malam. Baik musim hujan ataupun kemarau.

Baca Juga :  Anis Mustofa PAW Golkar Bojonegoro Diusulkan ke Gubernur

Namun, memancing ikan di Bengawan Solo ketika musim kemarau memiliki keunikan tersendiri. Ketika kemarau, para pemancing berburu ikan-ikan jumbo. Lokasinya ya di cekungan atau kedung. Ikannya lebih besar. Kebanyakan ikan jambal. Beratnya bisa mencapai berat 15 kilogram bahkan 20 kilogram. Dengan seberat itu, tentu menjadi ikan jumbo dibanding biota biota lain di bengawan.

Ikan besar-besar itu hidup di dasar Bengawan Solo. Terutama di kedung. Saat kemarau kedung-kedung itu terlihat. Di situlah menjadi spot memancing berburu ikan jambal dengan ukuran jumbo. Itu berbeda saat musim penghujan. Memancingnya ikan saat musim penghujan tidak bisa ditargetkan jenis ikannya. Sebab, semua kedungnya sudah tidak terlihat. Ikan jambal hidup di kedalaman.

Sedangkan, biota bengawan lainnya seperti ikan nila, bader, dan tombro, mudah didapatkan saat bengawan pasang. Teknis memancingnya juga beda. Memancing di kedalaman dengan target ikan jambal, tentu umpan yang dipakai juga harus besar. Pancingnya juga harus kuat. Sebab, ikan ditargetkan memiliki berat yang lumayan.

‘’Tahun lalu pernah mendapatkan 30 kilogram,’’ tuturnya. Cekungan Bengawan Solo cukup dalam. Mencapai 7 meter hingga 15 meter. Sangat berbahaya jika tidak hati-hati. Usia ikan yang hidup di cekungan itu diper kirakan sudah setahun lebih. Itu terlihat dari ukurannya jumbo.

‘’Mungkin bisa dua tahun. Melihat beratnya. Tapi saya tidak tahu pasti karena ikan liar kadang lebih cepat besar,’’ ujar Helen sapaan akrabnya. Lelaki berbisnis kanopi ini sudah terbiasa mendapat ikan-ikan jumbo. Kerap kali mendapatkan. Memancing hingga dini hari. Bahkan, saking sering mendapatkan, sampai kulkasnya penuh berisi ikan-ikan bengawan.

Baca Juga :  Kapolres Siapkan 10 Personel Penjinak Bom

Rata-rata pemancing menargetkan ikan jambal. Bukan ikan lainnya. Itulah kasta tertinggi perolehan ikan saat memancing di Bengawan Solo. Jika dapat ikan jambal, bukan main gembiranya. ‘’Kalau dapat lainnya ya senang. Tapi, tidak seperti kalau saat dapat jambal,’’ ujar Gunawan, pemancing lainnya.

Memancing jambal tidaklah mudah. Harus punya strategi. Juga harus bersabar. Sebab, tidak setiap memancing dapat ikan. Ada yang seharian tidak dapat. Namun, juga ada yang sebentar dapat jambal. ‘’Ya tergantung nasib pokoknya,’’ ujarnya. Meski demikian, memancing ikan di Bengawan Solo saat kemarau memiliki keasyikan tersendiri

. Saat kemarau seperti ini air Bengawan Solo rawan tercemar. Sebab, aliran air yang tidak terlalu deras membuat sampah bertumpuk. Itu kadang membuat ikan juga tidak sehat. ‘’Biasanya mabuk sebentar. Tapi ikan bisa menyesuaikan diri,’’ jelas pria asli Kauman itu.

Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Bojonegoro memastikan, baku mutu air Bengawan solo memang di bawah standar. Namun, itu tidak memengaruhi kehidupan ikan-ikan di sungai itu. Kepala DLH Bojonegoro Hanafi mengatakan, sesuai hasil uji laboratorium baku mutu air Bengawan Solo hanya bisa untuk penggunaan kelas dua. Yakni, pertanian, peternakan, dan perikanan. “Sedangkan untuk air minum disarankan tidak menggunakan air Bengawan Solo,” ujar dia.

Hanafi memastikan, PH atau kadar kandungan air Bengawan Solo ini masih aman untuk hidup ikan. Sehingga, ekosistem ikan dalam sungai terpanjang di Pulau Jawa itu tidak akan terganggu. “Kalau ikan aman. Tidak terganggu,” klaimnya.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/