alexametrics
31.2 C
Bojonegoro
Monday, May 23, 2022

Sisa-Sisa Rumah Joglo di Desa Wadang

BOJONEGORO – Penelusuran jejak-jejak peninggalan rumah joglo khas Bojonegoro di Desa Wadang, Kecamatan Ngasem, setidaknya ada dua pemilik yang masih mempertahankan kearifan lokal tersebut. Salah satunya warga yang masih mempertahankan rumah joglo di desa tersebut, Subiyono.  Rumah joglo miliknya itu hasil dari tukar tambah dengan tetangganya.

Dia mengaku hasil tukar tambah tersebut mampu untuk membeli dua rumah. Namun, dia tidak ingin mengatakan nominal pastinya. 

Ketika memasuki rumah Subiyono, terlihat empat kayu kurang lebih setebal 25-30 sentimeter berdiri gagah sebagai fondasi rumah joglo tersebut. ”Khasnya rumah joglo di Bojonegoro memang pada fondasinya yang sangat gagah,” ujarnya. 

Ketika ditanya berapa usia rumah joglo yang dibelinya itu, Subiyono pun tidak bisa menjawab. Karena pemilik awal rumah joglo tersebut juga tidak mengetahui pastinya. ”Kalau dikira-kira mungkin sudah ada zaman penjajahan Belanda dulu, karena pemilik awalnya pun kurang paham,” jelasnya. 

Baca Juga :  Hujan, Pengunjung Enggan ke Wisata Alam

Rumah joglo yang dibelinya tersebut hanya digunakan sebagai ruang tamu, ruang tengah rumahnya juga mirip joglo, tetapi Subiyono bangun sendiri. ”Rumah belakang itu saya bangun sendiri, jadi tidak ada kesan kunonya,” tuturnya.

Adapun bagian depan rumah joglo milik Subiyono itu ada ukir-ukiran yang cantik.  Namun, papan-papan ukiran tersebut tidak satu paket dengan rumah joglo yang dia beli. Dia mengatakan, membeli sendiri khusus untuk bagian depannya agar lebih cantik. ”Bagian depan rumah saya tidak sepaket dengan rumah joglo ini, saya beli sendiri,” katanya. 

Sementara itu, rumah joglo milik Subiyono kerap dimasuki burung dali. Biasanya burung-burung dali itu bersangkar tepat di tengah rumah joglo tersebut. ”Perlu kesabaran juga untuk mengusir burung-burung dali itu, karena biasanya buang kotorannya di dalam rumah. Jadi, kerap membersihkan tembok-temboknya,” ujarnya.

Baca Juga :  Lamongan Juara Umum MTQ Ke-29 Jawa Timur

Terpisah, pemilik rumah joglo khas Bojonegoro lain, Anshori, mengatakan, rumah joglo miliknya merupakan rumah orang tuanya. Baru tiga tahun yang lalu rumah joglo itu dipindah dari lahan milik orang tuanya ke lahan miliknya sendiri. Dia pun tidak bisa memastikan usia rumah joglo itu, karena memang masih asli tidak ada permak. 

Dulu, saat memindah rumah joglo tersebut tanpa dibongkar. Jadi, langsung diangkut oleh puluhan waga setempat menggunakan bambu. Karena memang jaraknya hanya sekitar 300 meter. ”Pas memindah rumah joglo ini tanpa dibongkar, saat itu setiap ada orang lewat kami mintai tolong untuk mengangkat,” ujarnya. Anshori hanya menambahkan fondasi di bawah rumah joglo miliknya agar terlihat lebih tinggi.

BOJONEGORO – Penelusuran jejak-jejak peninggalan rumah joglo khas Bojonegoro di Desa Wadang, Kecamatan Ngasem, setidaknya ada dua pemilik yang masih mempertahankan kearifan lokal tersebut. Salah satunya warga yang masih mempertahankan rumah joglo di desa tersebut, Subiyono.  Rumah joglo miliknya itu hasil dari tukar tambah dengan tetangganya.

Dia mengaku hasil tukar tambah tersebut mampu untuk membeli dua rumah. Namun, dia tidak ingin mengatakan nominal pastinya. 

Ketika memasuki rumah Subiyono, terlihat empat kayu kurang lebih setebal 25-30 sentimeter berdiri gagah sebagai fondasi rumah joglo tersebut. ”Khasnya rumah joglo di Bojonegoro memang pada fondasinya yang sangat gagah,” ujarnya. 

Ketika ditanya berapa usia rumah joglo yang dibelinya itu, Subiyono pun tidak bisa menjawab. Karena pemilik awal rumah joglo tersebut juga tidak mengetahui pastinya. ”Kalau dikira-kira mungkin sudah ada zaman penjajahan Belanda dulu, karena pemilik awalnya pun kurang paham,” jelasnya. 

Baca Juga :  Bersihkan Eceng Gondok, Pemkab Lamongan Kerahkan Backhoe Amphibi

Rumah joglo yang dibelinya tersebut hanya digunakan sebagai ruang tamu, ruang tengah rumahnya juga mirip joglo, tetapi Subiyono bangun sendiri. ”Rumah belakang itu saya bangun sendiri, jadi tidak ada kesan kunonya,” tuturnya.

Adapun bagian depan rumah joglo milik Subiyono itu ada ukir-ukiran yang cantik.  Namun, papan-papan ukiran tersebut tidak satu paket dengan rumah joglo yang dia beli. Dia mengatakan, membeli sendiri khusus untuk bagian depannya agar lebih cantik. ”Bagian depan rumah saya tidak sepaket dengan rumah joglo ini, saya beli sendiri,” katanya. 

Sementara itu, rumah joglo milik Subiyono kerap dimasuki burung dali. Biasanya burung-burung dali itu bersangkar tepat di tengah rumah joglo tersebut. ”Perlu kesabaran juga untuk mengusir burung-burung dali itu, karena biasanya buang kotorannya di dalam rumah. Jadi, kerap membersihkan tembok-temboknya,” ujarnya.

Baca Juga :  Mobil Oleng, Dihantam Truk, Tak Ada Korban Jiwa

Terpisah, pemilik rumah joglo khas Bojonegoro lain, Anshori, mengatakan, rumah joglo miliknya merupakan rumah orang tuanya. Baru tiga tahun yang lalu rumah joglo itu dipindah dari lahan milik orang tuanya ke lahan miliknya sendiri. Dia pun tidak bisa memastikan usia rumah joglo itu, karena memang masih asli tidak ada permak. 

Dulu, saat memindah rumah joglo tersebut tanpa dibongkar. Jadi, langsung diangkut oleh puluhan waga setempat menggunakan bambu. Karena memang jaraknya hanya sekitar 300 meter. ”Pas memindah rumah joglo ini tanpa dibongkar, saat itu setiap ada orang lewat kami mintai tolong untuk mengangkat,” ujarnya. Anshori hanya menambahkan fondasi di bawah rumah joglo miliknya agar terlihat lebih tinggi.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/