alexametrics
24.9 C
Bojonegoro
Monday, May 23, 2022

Pembelajaran Jarak Jauh, Pedagang Alat Tulis dan Seragam Sekolah Sepi

Radar Bojonegoro – Biasanya pedagang seragam, alat tulis, dan sarana yang mendukung pembelajaran sekolah diserbu masyarakat. Namun, saat kebijakan PPKM darurat sedang berlangsung pedagang merasakan sepinya pembeli.

Ihya’udin, pedagang seragam sekolah di Pasar Bojonegoro mengaku penjualan seragam sekolah di tokonya mengalami penurunan. Biasanya sehari sebelum ajaran baru dimulai, stok seragam sekolah di tokonya sudah ludes terjual. “Itu kalau sebelum pandemi tahun lalu,” kata Ihya di tokonya kemarin (11/7).

Menurut Ihya, kondisi menurunnya pembeli dipengaruhi oleh pembelajaran yang menggunakan online dan kebijkan PPKM yang diberlakukan. Namun ia masih bersukur karenan pemebeli masih ada walaupun sedikit, daripada tahun awal pandemi berlangsung. “Tahun dulu sepi sekali, blas gak ada yang beli,” kenangnya.

Ihya menambahkan, saat pandemic pembeli lebih didominasi yang anaknya sekolah di lingkungan madrasah atau pondok pesantren. Dia melayani pemebelian grosir dan eceran dan belum merambah ke platform digital untuk memasarkan produknya. “Kalau online ya cuma ada pembeli pesan dari WhatsApp.” tegasnya Silvi Wahidatus Sholihah, penjual sepatu dan tas sekolah di Pasar Bojonegoro juga merasakan barang dagangannya sepi pembeli, karena kebijakan PPKM darurat yang diberlakukan kembali.

Baca Juga :  Tulang Manusia di Sumur Tua

“Sepi sejak PPKM, dari kemarin katanya di depan ada yang jaga dari kepolisian, otomatis yang akan datang ke pasar tidak jadi masuk pasar,” keluhnya. Silfi saat ini mulai menjajakan dagangannya melalui platform online, karena menurutnya jika mengandalkan di pasar, tidak memungkinkan melihat kondisi pembatasan sosial. Pendapatannya pun juga mengalami penurunan. “Namun tahun ini masih lumayan ada satu dua pembeli, tahun lalu gak ada sama sekali,” katanya.

Renita salah satu penjaga kasir di toko alat tulis sekolah di Jalan Panglima Polim menjelaskan sejak pandemi berlangsung penjualan mengalami penurunan pembeli. Terlebih saat awal pandemi, toko yang di tempatinya bekerja tidak ada pembeli. “Tahun ini agak mendingan,” imbuhnya.

Baca Juga :  Tidur Tidak Nyenyak, Remaja ini Bikin Obat Nyamuk Ramah Lingkungan

Menurut Renita, tahun ajaran baru menjadi momen yang ditunggu-tunggu bagi penjual alat tulis. Karena pada saat itu kebutuhan sekolah mulai diburu, baik itu buku, alat tulis, tas, dan yang lainnya. Pembelajaran online dan PPKM turut memengaruhi pembeli.

Staff Operasional Toko Buku di Jalan Panglima Sudirman Khurri Arinta menjelaskan, untuk mengatasi sepinya pembeli, tokonya membuat event, memberikan diskon 25 persen saat tahun ajaran baru. PPKM darurat ini membuat tokonya tutup pukul 17.00. “Pengunjung yang datang biasanya pagi sampai siang,” ujarnya. (luk)

Radar Bojonegoro – Biasanya pedagang seragam, alat tulis, dan sarana yang mendukung pembelajaran sekolah diserbu masyarakat. Namun, saat kebijakan PPKM darurat sedang berlangsung pedagang merasakan sepinya pembeli.

Ihya’udin, pedagang seragam sekolah di Pasar Bojonegoro mengaku penjualan seragam sekolah di tokonya mengalami penurunan. Biasanya sehari sebelum ajaran baru dimulai, stok seragam sekolah di tokonya sudah ludes terjual. “Itu kalau sebelum pandemi tahun lalu,” kata Ihya di tokonya kemarin (11/7).

Menurut Ihya, kondisi menurunnya pembeli dipengaruhi oleh pembelajaran yang menggunakan online dan kebijkan PPKM yang diberlakukan. Namun ia masih bersukur karenan pemebeli masih ada walaupun sedikit, daripada tahun awal pandemi berlangsung. “Tahun dulu sepi sekali, blas gak ada yang beli,” kenangnya.

Ihya menambahkan, saat pandemic pembeli lebih didominasi yang anaknya sekolah di lingkungan madrasah atau pondok pesantren. Dia melayani pemebelian grosir dan eceran dan belum merambah ke platform digital untuk memasarkan produknya. “Kalau online ya cuma ada pembeli pesan dari WhatsApp.” tegasnya Silvi Wahidatus Sholihah, penjual sepatu dan tas sekolah di Pasar Bojonegoro juga merasakan barang dagangannya sepi pembeli, karena kebijakan PPKM darurat yang diberlakukan kembali.

Baca Juga :  17 Incumbent DPRD Tuban di Ujung Tanduk

“Sepi sejak PPKM, dari kemarin katanya di depan ada yang jaga dari kepolisian, otomatis yang akan datang ke pasar tidak jadi masuk pasar,” keluhnya. Silfi saat ini mulai menjajakan dagangannya melalui platform online, karena menurutnya jika mengandalkan di pasar, tidak memungkinkan melihat kondisi pembatasan sosial. Pendapatannya pun juga mengalami penurunan. “Namun tahun ini masih lumayan ada satu dua pembeli, tahun lalu gak ada sama sekali,” katanya.

Renita salah satu penjaga kasir di toko alat tulis sekolah di Jalan Panglima Polim menjelaskan sejak pandemi berlangsung penjualan mengalami penurunan pembeli. Terlebih saat awal pandemi, toko yang di tempatinya bekerja tidak ada pembeli. “Tahun ini agak mendingan,” imbuhnya.

Baca Juga :  BSU Guru Kemenag Belum Cair

Menurut Renita, tahun ajaran baru menjadi momen yang ditunggu-tunggu bagi penjual alat tulis. Karena pada saat itu kebutuhan sekolah mulai diburu, baik itu buku, alat tulis, tas, dan yang lainnya. Pembelajaran online dan PPKM turut memengaruhi pembeli.

Staff Operasional Toko Buku di Jalan Panglima Sudirman Khurri Arinta menjelaskan, untuk mengatasi sepinya pembeli, tokonya membuat event, memberikan diskon 25 persen saat tahun ajaran baru. PPKM darurat ini membuat tokonya tutup pukul 17.00. “Pengunjung yang datang biasanya pagi sampai siang,” ujarnya. (luk)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

Dari Dangdut ke Salawat

Mampu Berbuah Lebih Cepat

Anak Desa Harus Semangat Kuliah


/