alexametrics
23.6 C
Bojonegoro
Friday, May 27, 2022

Santri Menembus Perguruan Tinggi Negeri, Radikalisme Teratasi

TUBAN – Madrasah Aliyah (MA) Ash Shomadiyah Tuban konsisten melahirkan lulusan yang menembus perguruan tinggi negeri (PTN) favorit di tanah air. Pada seleksi masuk bersama perguruan tinggi negeri (SBMPTN) 2019, lima santri terbaiknya berhasil menembus jurusan dengan grade tinggi di Universitas Trunojoyo Madura (UTM), Universitas Negeri Malang (UM), dan Universitas Brawijaya (UB) Malang.

Kepala MA Ash Shomadiyah Tuban Riza Sholahuddin Habibi mengatakan, madrasah yang dipimpinnya rutin mencetak santri-santri terbaik yang  mengisi kursi di PTN sejak 2013. Suksesnya santri madrasah menembus kursi kampus unggulan favorit turut berperan memberantas radikalisme yang banyak bersumber dari PTN. ‘’Santri harus masuk ke kampus negeri terbaik dan mengisi lembaga dakwah agar menutup sumber-sumber radikalisme,’’ tegas dia.

Baca Juga :  Orang Tua Menuntut Sertifikat Keagamaan Dihapus

Pendidik yang akrab disapa Gus Riza ini menegaskan, sekolah berbasis pesantren harus berperan aktif mencetak generasi cinta tanah air. Dengan rutin mengirim santrinya menembus PTN, madrasah berbasis rakyat ini membuktikan kualitasnya. ‘’Sekolah tidak perlu mahal, asal berkualitas. Hanya membayar iuran SPP Rp 80 ribu per semester, santri-santri terbaik Bumi Wali bisa konsisten masuk kampus-kampus unggulan,’’ jelasnya.

Gus Riza mengakui, selama ini lembaga dakwah kampus PTN sering menjadi sarang perekrutan paham-paham antinasionalisme. Minimnya kepedulian terhadap lembaga keagamaan kampus membuat unit kegiatan mahasiswa (UKM) sering diisi remaja yang berpaham radikal. ‘’Santri yang masuk PTN bisa berperan memupus radikalisme dengan masuk ke lembaga-lembaga dakwah kampus yang selama ini banyak dikuasai paham intoleran,’’ tandas dia.

Madrasah di Jalan KH Agus Salim ini sejak 2013 bekerja sama dengan Dr. H. Abdillah Ahsan SE., ME, yang merupakan alumni Persatuan Mahasiswa Muslim Indonesia (PMII). Salah satu akademisi senior tersebut selalu berperan membantu para santri MA Ash Shomadiyah Tuban untuk sukses mendapatkan kursi di kampus unggulan di Indonesia. ‘’Alhamdulillah, MA Ash Shomadiyah tak pernah gagal mengirimkan santri terbaiknya ke PTN unggulan,’’ kata dia.

Baca Juga :  Semakin Profesional dalam Menyongsong Era Revolusi Industri 4.0

MA Ash Shomadiyah merupakan pioner sekolah multikultural yang mengajarkan toleransi sejak dini. Saat latihan dasar kepemimpinan siswa (LDKS) seluruh siswa selalu diajak berkunjung ke tempat peribadatan agama lain. Seperti gereja, keleteng, atau rumah ibadah lain. Tujuannya memupuk rasa nasionalis-religius sejak dini. ‘’Dengan mengenal dan menghormati perbedaan sejak dini, insya Allah kerukunan umat beragama bisa terjaga sampai kapan pun,’’ kata Gus Riza.

TUBAN – Madrasah Aliyah (MA) Ash Shomadiyah Tuban konsisten melahirkan lulusan yang menembus perguruan tinggi negeri (PTN) favorit di tanah air. Pada seleksi masuk bersama perguruan tinggi negeri (SBMPTN) 2019, lima santri terbaiknya berhasil menembus jurusan dengan grade tinggi di Universitas Trunojoyo Madura (UTM), Universitas Negeri Malang (UM), dan Universitas Brawijaya (UB) Malang.

Kepala MA Ash Shomadiyah Tuban Riza Sholahuddin Habibi mengatakan, madrasah yang dipimpinnya rutin mencetak santri-santri terbaik yang  mengisi kursi di PTN sejak 2013. Suksesnya santri madrasah menembus kursi kampus unggulan favorit turut berperan memberantas radikalisme yang banyak bersumber dari PTN. ‘’Santri harus masuk ke kampus negeri terbaik dan mengisi lembaga dakwah agar menutup sumber-sumber radikalisme,’’ tegas dia.

Baca Juga :  Orang Tua Menuntut Sertifikat Keagamaan Dihapus

Pendidik yang akrab disapa Gus Riza ini menegaskan, sekolah berbasis pesantren harus berperan aktif mencetak generasi cinta tanah air. Dengan rutin mengirim santrinya menembus PTN, madrasah berbasis rakyat ini membuktikan kualitasnya. ‘’Sekolah tidak perlu mahal, asal berkualitas. Hanya membayar iuran SPP Rp 80 ribu per semester, santri-santri terbaik Bumi Wali bisa konsisten masuk kampus-kampus unggulan,’’ jelasnya.

Gus Riza mengakui, selama ini lembaga dakwah kampus PTN sering menjadi sarang perekrutan paham-paham antinasionalisme. Minimnya kepedulian terhadap lembaga keagamaan kampus membuat unit kegiatan mahasiswa (UKM) sering diisi remaja yang berpaham radikal. ‘’Santri yang masuk PTN bisa berperan memupus radikalisme dengan masuk ke lembaga-lembaga dakwah kampus yang selama ini banyak dikuasai paham intoleran,’’ tandas dia.

Madrasah di Jalan KH Agus Salim ini sejak 2013 bekerja sama dengan Dr. H. Abdillah Ahsan SE., ME, yang merupakan alumni Persatuan Mahasiswa Muslim Indonesia (PMII). Salah satu akademisi senior tersebut selalu berperan membantu para santri MA Ash Shomadiyah Tuban untuk sukses mendapatkan kursi di kampus unggulan di Indonesia. ‘’Alhamdulillah, MA Ash Shomadiyah tak pernah gagal mengirimkan santri terbaiknya ke PTN unggulan,’’ kata dia.

Baca Juga :  2.657 Sarjana Menganggur

MA Ash Shomadiyah merupakan pioner sekolah multikultural yang mengajarkan toleransi sejak dini. Saat latihan dasar kepemimpinan siswa (LDKS) seluruh siswa selalu diajak berkunjung ke tempat peribadatan agama lain. Seperti gereja, keleteng, atau rumah ibadah lain. Tujuannya memupuk rasa nasionalis-religius sejak dini. ‘’Dengan mengenal dan menghormati perbedaan sejak dini, insya Allah kerukunan umat beragama bisa terjaga sampai kapan pun,’’ kata Gus Riza.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/