alexametrics
26 C
Bojonegoro
Saturday, May 21, 2022

Faktor Cuaca, Ribuan Cabai Gagal Panen

BOJONEGORO – Beberapa petani cabai di Desa Simbatan, Kecamatan Kanor, gagal panen karena diserang penyakit patek. Ribuan cabai diserang jamur, sehingga cabai menjadi busuk. Penggarap lahan cabai di Dusun Mbatan, Desa Simbatan, Kecamatan Kanor, Muri, mengatakan, sebagian besar cabainya gagal panen. Lahan yang digarap oleh Muri seluas 3000 m2, kerugian sekitar Rp 20 juta. ”Ribuan cabai terkena penyakit patek, jadi hasilnya busuk karena jamur. Sehingga akan segera kami cabuti,” jelasnya. Padahal, imbuh dia, saat masih muda, cabainya sangat bagus.

Sementara itu. Kades Simbatan Kecamatan Kanor Harsulin membenarkan bahwa memang ada beberapa penggarap lahan yang ditanami cabai alami gagal panen. Sebab, biaya perawatan tanaman cabai memang cukup mahal. ”Bahkan, dua bulan lalu sekitar 600 cabai milik warga saya bernama Wardi gagal panen dan sangat mengeluhkan biaya perawatan yang mahal,” ungkapnya.

Baca Juga :  Sawah Tambak Terancam Gagal Panen

Sementara itu, Kepala UPTD Pertanian Kanor – Sumberrejo Jumadi, mengungkapkan, salah satu penyebab penyakit patek menyerang adalah faktor cuaca. Setiap malam saat ini kelembaban sangat tinggi, sehingga jamur dapat berkembang dengan cepat. ”Kelembaban yang tinggi serta pertumbuhan tanaman yang terlalu cepat itulah yang menjadi masalahnya,” ujarnya. Dikarenakan, tambah dia, tanaman mendapat air yang “overdosis”, yang nantinya akan mengakibatkan tanaman rawan terhadap penyakit yang dikarenakan jamur.

Jumadi juga menambahkan, penyebab gagal panen lainnya, banyak para penggarap lahan cabai di Kanor juga mengeluhkan harga jual cabai merah sedang anjlok. Dikatakan, cabai merah di pasaran kini hanya Rp 5 ribu per kilogram. Jadi, terjadinya gagal panen cabai di Kanor ada beberapa faktor yang mengikuti. ”Harga yang anjlok dapat membuat penggarap lahan cabai malas merawat tanaman cabai yang hampir panen tersebut,” tuturnya. Menurut pengakuan para penggarap lahan, kata Jumadi, saat ini merupakan petik kedua. ”Jadi, bisa saja setelah dicabut akan ditanami tanaman lain,” ungkapnya.

Baca Juga :  Tinggal Menjalankan Ibadah Sunah

Ketika penggarap lahan cabai itu malas, ada kemungkinan mereka telat menyemprot fungisida sebelum jamur menyerang. Tetapi memang tidak dapat dipungkiri, biaya perawatan sangat mahal, satu jeriken semprotan fungisida harganya Rp 30 ribu. Jadi, kalau lahannya luas tentu akan membengkak biayanya. ”Penggarap lahan memang harus jeli, ketika terlihat ada jamur harusnya langsung diatasi, agar tidak menular hingga satu lahan terkena penyakit patek,” pungkasnya. (bgs/nas)

BOJONEGORO – Beberapa petani cabai di Desa Simbatan, Kecamatan Kanor, gagal panen karena diserang penyakit patek. Ribuan cabai diserang jamur, sehingga cabai menjadi busuk. Penggarap lahan cabai di Dusun Mbatan, Desa Simbatan, Kecamatan Kanor, Muri, mengatakan, sebagian besar cabainya gagal panen. Lahan yang digarap oleh Muri seluas 3000 m2, kerugian sekitar Rp 20 juta. ”Ribuan cabai terkena penyakit patek, jadi hasilnya busuk karena jamur. Sehingga akan segera kami cabuti,” jelasnya. Padahal, imbuh dia, saat masih muda, cabainya sangat bagus.

Sementara itu. Kades Simbatan Kecamatan Kanor Harsulin membenarkan bahwa memang ada beberapa penggarap lahan yang ditanami cabai alami gagal panen. Sebab, biaya perawatan tanaman cabai memang cukup mahal. ”Bahkan, dua bulan lalu sekitar 600 cabai milik warga saya bernama Wardi gagal panen dan sangat mengeluhkan biaya perawatan yang mahal,” ungkapnya.

Baca Juga :  Lahan Gagal Panen Belum Terdata

Sementara itu, Kepala UPTD Pertanian Kanor – Sumberrejo Jumadi, mengungkapkan, salah satu penyebab penyakit patek menyerang adalah faktor cuaca. Setiap malam saat ini kelembaban sangat tinggi, sehingga jamur dapat berkembang dengan cepat. ”Kelembaban yang tinggi serta pertumbuhan tanaman yang terlalu cepat itulah yang menjadi masalahnya,” ujarnya. Dikarenakan, tambah dia, tanaman mendapat air yang “overdosis”, yang nantinya akan mengakibatkan tanaman rawan terhadap penyakit yang dikarenakan jamur.

Jumadi juga menambahkan, penyebab gagal panen lainnya, banyak para penggarap lahan cabai di Kanor juga mengeluhkan harga jual cabai merah sedang anjlok. Dikatakan, cabai merah di pasaran kini hanya Rp 5 ribu per kilogram. Jadi, terjadinya gagal panen cabai di Kanor ada beberapa faktor yang mengikuti. ”Harga yang anjlok dapat membuat penggarap lahan cabai malas merawat tanaman cabai yang hampir panen tersebut,” tuturnya. Menurut pengakuan para penggarap lahan, kata Jumadi, saat ini merupakan petik kedua. ”Jadi, bisa saja setelah dicabut akan ditanami tanaman lain,” ungkapnya.

Baca Juga :  Padi Mulai Meteng, Petani Gelisah Batang Dirusak Wereng

Ketika penggarap lahan cabai itu malas, ada kemungkinan mereka telat menyemprot fungisida sebelum jamur menyerang. Tetapi memang tidak dapat dipungkiri, biaya perawatan sangat mahal, satu jeriken semprotan fungisida harganya Rp 30 ribu. Jadi, kalau lahannya luas tentu akan membengkak biayanya. ”Penggarap lahan memang harus jeli, ketika terlihat ada jamur harusnya langsung diatasi, agar tidak menular hingga satu lahan terkena penyakit patek,” pungkasnya. (bgs/nas)

Artikel Terkait

Most Read

Anak Muda Lakukan Kritik Lewat Teater

Butuh Adaptasi Wall Boulder Baru

Terus Eksplorasi

Masih Ada Ribuan Janda Miskin

Artikel Terbaru


/