alexametrics
23.7 C
Bojonegoro
Monday, June 27, 2022

Perawatan di Musim Kemarau Lebih Sulit

LAMONGAN – Siang itu, pria berkaus pendek dan bersarung terlihat memegang selang air. Selang itu diarahkan ke jamur – jamur tiram putih yang ada di bagian belakang rumah menghadap ke timur di Desa Supenuh, Kecamatan Sugio.

Sitam, nama pria itu, menggeluti budidaya jamur tiram putih mulai 2017. Awalnya, dia penasaran dengan budidaya jamur. Sebab, informasi yang diterimanya, budidaya tersebut dapat menambah pendapatannya sebagai petani. ‘’Baru tahun lalu, awalnya ya sulit, tapi terus belajar dan alhamdulillah saat ini sudah berjalan,’’ tutur dia mengawali ceritanya.

Langkah pertama bagi mereka yang ingin berbudidaya jamur tiram, menyediakan media baglog. Media bagi tumbuhnya jamur itu berasal dari perpaduan serbuk kayu, bekatul atau dedak, kapur dan air, setelah melalui proses sterilisasi. Campuran itu kemudian diberi bibit jamur yang sudah diturunkan atau dikembangkan di media jagung.

Baca Juga :  Bersiap Rombak APBDes

Tumbuhnya jamur membutuhkan proses. Dengan ditaruh di kumbung, jamur sampai miselium atau bibit bakal bisa tumbuh merata di permukaan seluruh baglog. ”Proses itu memakan waktu kurang lebih  satu bulan,” ujarnya.

Setelah sebulan, tutup baglog diambil dan disiram dengan metode pengkabutan sampai tumbuh jamur. Proses pengkabutan sampai tumbuh jamur membutuhkan waktu sekitar dua pekan.

Satu bibit jamur baglog bisa berusia sampai 4 bulan. Tiap baglog bisa 4 – 6 kali panen jamur. Setiap jamur, mempunyai bobot 2-3 ons per baglog. Setiap hari, bisa panen 3 – 4 kilogram per 500 baglog. ‘’Awal merintis dulu 500 baglog dan sampai sekarang sudah punya 3.000 baglog,’’ jelasnya.

Awalnya, hasil panen dijual mentahan. Namun, keuntungannya belum maksimal. Sitam kemudian mengembangkan menjadi olahan siap makan seperti jamur crispy. ‘’Alhamdulillah sudah punya satu gerobak dan rencana setelah lebaran nambah satu gerobak lagi untuk dioperasionalkan di seputar kota,’’ ujarnya optimistis.

Baca Juga :  Tak Terbukti Melanggar, Rp 1,075 M Dikembalikan

Perawatan jamur harus teliti. Penyiraman yang terlalu banyak bisa membuat jamur rusak karena basah saat malam hari. Jamur juga lebih berat untuk mengeluarkan sporanya karena terlalu basah. Sebaliknya, jamur yang kurang penyiraman juga akan menjadi kering dan layu. ”Jadi di musim panas sekarang ini perawatan jamur harus lebih intens dan teliti,” tuturnya.

Saat musim kemarau, mulai dari awal tumbuh pinhead (pentil jamur) harus diteliti jenis jamurnya, lebih cenderung basah atau kering. Jika cenderung basah, maka penyiraman tidak boleh terlalu banyak. Begitu sebaliknya.

LAMONGAN – Siang itu, pria berkaus pendek dan bersarung terlihat memegang selang air. Selang itu diarahkan ke jamur – jamur tiram putih yang ada di bagian belakang rumah menghadap ke timur di Desa Supenuh, Kecamatan Sugio.

Sitam, nama pria itu, menggeluti budidaya jamur tiram putih mulai 2017. Awalnya, dia penasaran dengan budidaya jamur. Sebab, informasi yang diterimanya, budidaya tersebut dapat menambah pendapatannya sebagai petani. ‘’Baru tahun lalu, awalnya ya sulit, tapi terus belajar dan alhamdulillah saat ini sudah berjalan,’’ tutur dia mengawali ceritanya.

Langkah pertama bagi mereka yang ingin berbudidaya jamur tiram, menyediakan media baglog. Media bagi tumbuhnya jamur itu berasal dari perpaduan serbuk kayu, bekatul atau dedak, kapur dan air, setelah melalui proses sterilisasi. Campuran itu kemudian diberi bibit jamur yang sudah diturunkan atau dikembangkan di media jagung.

Baca Juga :  Undang Atlet Nasional, Rintis Olahraga dan Destinasi Paralayang

Tumbuhnya jamur membutuhkan proses. Dengan ditaruh di kumbung, jamur sampai miselium atau bibit bakal bisa tumbuh merata di permukaan seluruh baglog. ”Proses itu memakan waktu kurang lebih  satu bulan,” ujarnya.

Setelah sebulan, tutup baglog diambil dan disiram dengan metode pengkabutan sampai tumbuh jamur. Proses pengkabutan sampai tumbuh jamur membutuhkan waktu sekitar dua pekan.

Satu bibit jamur baglog bisa berusia sampai 4 bulan. Tiap baglog bisa 4 – 6 kali panen jamur. Setiap jamur, mempunyai bobot 2-3 ons per baglog. Setiap hari, bisa panen 3 – 4 kilogram per 500 baglog. ‘’Awal merintis dulu 500 baglog dan sampai sekarang sudah punya 3.000 baglog,’’ jelasnya.

Awalnya, hasil panen dijual mentahan. Namun, keuntungannya belum maksimal. Sitam kemudian mengembangkan menjadi olahan siap makan seperti jamur crispy. ‘’Alhamdulillah sudah punya satu gerobak dan rencana setelah lebaran nambah satu gerobak lagi untuk dioperasionalkan di seputar kota,’’ ujarnya optimistis.

Baca Juga :  Tak Terbukti Melanggar, Rp 1,075 M Dikembalikan

Perawatan jamur harus teliti. Penyiraman yang terlalu banyak bisa membuat jamur rusak karena basah saat malam hari. Jamur juga lebih berat untuk mengeluarkan sporanya karena terlalu basah. Sebaliknya, jamur yang kurang penyiraman juga akan menjadi kering dan layu. ”Jadi di musim panas sekarang ini perawatan jamur harus lebih intens dan teliti,” tuturnya.

Saat musim kemarau, mulai dari awal tumbuh pinhead (pentil jamur) harus diteliti jenis jamurnya, lebih cenderung basah atau kering. Jika cenderung basah, maka penyiraman tidak boleh terlalu banyak. Begitu sebaliknya.

Artikel Terkait

Most Read

Pencairan Belum Tuntas

Dilindas Elf, Pelajar Tewas

Pelonggaran Jangan Picu Ledakan Covid

Artikel Terbaru


/