alexametrics
24.9 C
Bojonegoro
Monday, May 23, 2022

Mengintip Pergelaran Pesta Pantai 2 di Sobontoro

TUBAN – Sabtu (5/5) sore itu, puluhan remaja menyemut di area pantai Pasir Putih Desa Sobontoro, Kecamatan Tambakboyo. Mereka terlihat asyik mengamati berbagai aktivitas seniman yang berkarya di berbagai sudut pantai. Di antaranya melukis graffiti dengan media tembok tanggul. Seniman lain menari tradisional dan bermain teater. Selebihnya doodle art,  rebana, tari tari jatilan, musik akustik, musik reggae, musik alternatif, dan aksi teatrikal laut.

Aktivitas tersebut menjadikan suasana pantai hari itu benar-benar berbeda dibanding sebelumnya. Pantai yang menjadi pendaratan perahu nelayan setempat tersebut selama ini dikenal kotor dan kumuh. Ya, Pesta Pantai 2 menyulap total kondisi pantai. Tidak hanya suasanya, tapi juga kondisinya yang jauh lebih bersih. Hal ini menjadikan siapa pun yang melintas ingin mampir. Itulah sebagian kecil gambaran Pesta Pantai yang tahun ini digelar kali keduanya. Pesta Pantai I gelar Mei tahun lalu. 

Ketua Panitia Pesta Pantai Naim Rifa’i mengatakan, kegiatan yang dihelat komunitas Pemuda Harapan Kampung (PHK) ini selalu menghadirkan puluhan seniman berbagai aliran untuk tampil di panggung berlatar pantai. Pada Pesta Pantai kali ini, kata Naim, PHK mengundang puluhan seniman dari dalam dan luar kota. ‘’Biar orang luar kota tahu kalau Tuban juga punya pantai yang bersih nan indah bisa digunakan untuk panggung seni,’’ kata dia.

Baca Juga :  Arus Bawah DPC Solid Dukung Bayu Airlangga Jadi Ketua Partai Demokrat

Seluruh seniman yang mendukung tampil dengan sukarela tanpa bayaran sepeser pun. Ketika ditanya wartawan koran ini, alasan mereka mau tampil sukarela karena ingin mengapresiasi komunitas PHK yang ingin memajukan pantai dengan seni . ‘’Untuk yang luar kota, mereka menginap di tenda di sekitar panggung,’’ jelas Naim.

Ketua PHK Buntas Pradoto menambahkan, ide awal Pesta Pantai lahir dari keprihatinannya melihat pantai desanya yang kumuh dipenuhi sampah dan limbah pabrik ikan. Padahal, kata dia, pantai Sobontoro sangat indah dan layak menjadi tempat wisata. 

Dia pun termotivasi membuat gebrakan membersihkan pantai bersama komunitasnya. ‘’Satu bulan sebelum acara Pesta Pantai, semua anggota komunitas rutin membersihkan pantai biar benar-benar bersih,’’ tutur Buntas.

Baca Juga :  Workshop dan Pengukuhan Garda Pemuda Nasdem

Ketika pantai sudah sepenuhnya bersih, mereka lantas membuat panggung seni bertajuk Pesta Pantai tersebut. Misinya, selain menampilkan potensi seni dan budaya lokal, juga untuk menarik wisatawan luar kota agar mengetahui potensi wisata Tuban. Pengunjung acara tersebut tidak dipungut sepeser pun. Mereka meraup untung dari berjualan di sekitar panggung pertunjukan. ‘’Warga sekitar juga ikut berjualan, berharap sedikit membantu ekonomi warga sekitar,’’ kata pria lulusan Universitas Negeri Malang (UM) itu.

Buntas cs membuktikan bahwa desa di pelosok pun bisa membuat pergelaran yang mendongkrak ekonomi warga sekitar. Terlebih, puluhan remaja desa setempat juga bisa mempunyai wadah positif dalam berkarya seni. Dia mengatakan, perubahan suatu daerah tidak bisa hanya bergantung pada pemerintahan saja. Namun, masyarakat juga memegang peran penting dalam memajukan daerahnya. ‘’Awalnya kegiatan kami ini dianggap aneh, tapi lambat laun mendapat dukungan dari pemerintah desa hingga kecamatan,’’ ucap dalang muda itu.(*/ds)

TUBAN – Sabtu (5/5) sore itu, puluhan remaja menyemut di area pantai Pasir Putih Desa Sobontoro, Kecamatan Tambakboyo. Mereka terlihat asyik mengamati berbagai aktivitas seniman yang berkarya di berbagai sudut pantai. Di antaranya melukis graffiti dengan media tembok tanggul. Seniman lain menari tradisional dan bermain teater. Selebihnya doodle art,  rebana, tari tari jatilan, musik akustik, musik reggae, musik alternatif, dan aksi teatrikal laut.

Aktivitas tersebut menjadikan suasana pantai hari itu benar-benar berbeda dibanding sebelumnya. Pantai yang menjadi pendaratan perahu nelayan setempat tersebut selama ini dikenal kotor dan kumuh. Ya, Pesta Pantai 2 menyulap total kondisi pantai. Tidak hanya suasanya, tapi juga kondisinya yang jauh lebih bersih. Hal ini menjadikan siapa pun yang melintas ingin mampir. Itulah sebagian kecil gambaran Pesta Pantai yang tahun ini digelar kali keduanya. Pesta Pantai I gelar Mei tahun lalu. 

Ketua Panitia Pesta Pantai Naim Rifa’i mengatakan, kegiatan yang dihelat komunitas Pemuda Harapan Kampung (PHK) ini selalu menghadirkan puluhan seniman berbagai aliran untuk tampil di panggung berlatar pantai. Pada Pesta Pantai kali ini, kata Naim, PHK mengundang puluhan seniman dari dalam dan luar kota. ‘’Biar orang luar kota tahu kalau Tuban juga punya pantai yang bersih nan indah bisa digunakan untuk panggung seni,’’ kata dia.

Baca Juga :  Persiapkan Skema Jika Ada Vaksinasi Ulang CJH

Seluruh seniman yang mendukung tampil dengan sukarela tanpa bayaran sepeser pun. Ketika ditanya wartawan koran ini, alasan mereka mau tampil sukarela karena ingin mengapresiasi komunitas PHK yang ingin memajukan pantai dengan seni . ‘’Untuk yang luar kota, mereka menginap di tenda di sekitar panggung,’’ jelas Naim.

Ketua PHK Buntas Pradoto menambahkan, ide awal Pesta Pantai lahir dari keprihatinannya melihat pantai desanya yang kumuh dipenuhi sampah dan limbah pabrik ikan. Padahal, kata dia, pantai Sobontoro sangat indah dan layak menjadi tempat wisata. 

Dia pun termotivasi membuat gebrakan membersihkan pantai bersama komunitasnya. ‘’Satu bulan sebelum acara Pesta Pantai, semua anggota komunitas rutin membersihkan pantai biar benar-benar bersih,’’ tutur Buntas.

Baca Juga :  Kita Memiliki Semuanya, Bahari, Religi, dan Kuliner

Ketika pantai sudah sepenuhnya bersih, mereka lantas membuat panggung seni bertajuk Pesta Pantai tersebut. Misinya, selain menampilkan potensi seni dan budaya lokal, juga untuk menarik wisatawan luar kota agar mengetahui potensi wisata Tuban. Pengunjung acara tersebut tidak dipungut sepeser pun. Mereka meraup untung dari berjualan di sekitar panggung pertunjukan. ‘’Warga sekitar juga ikut berjualan, berharap sedikit membantu ekonomi warga sekitar,’’ kata pria lulusan Universitas Negeri Malang (UM) itu.

Buntas cs membuktikan bahwa desa di pelosok pun bisa membuat pergelaran yang mendongkrak ekonomi warga sekitar. Terlebih, puluhan remaja desa setempat juga bisa mempunyai wadah positif dalam berkarya seni. Dia mengatakan, perubahan suatu daerah tidak bisa hanya bergantung pada pemerintahan saja. Namun, masyarakat juga memegang peran penting dalam memajukan daerahnya. ‘’Awalnya kegiatan kami ini dianggap aneh, tapi lambat laun mendapat dukungan dari pemerintah desa hingga kecamatan,’’ ucap dalang muda itu.(*/ds)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

Dari Dangdut ke Salawat

Mampu Berbuah Lebih Cepat

Anak Desa Harus Semangat Kuliah


/