alexametrics
23.9 C
Bojonegoro
Thursday, May 26, 2022

Desain Rest Area Tuban Harus Menarik dan Menjual

TUBAN – Kurang menariknya rest area sudah lama dirasakan Maulana Malik Firdausyi. Desainer dan arsitek muda lulusan Institut Seni Indonesia (ISI) Jogjakarta ini menilai kalau tempat jajanan dan pamer suvenir tersebut sangat jauh dari kata layak sebagai tempat peristirahatan sekaligus tempat singgah wisatawan.

Padahal, kata dia, rest area idealnya mempunyai banyak fungsi. Selain sebagai tempat peristirahatan para wisatawan, juga bisa menjadi tempat mengenalkan kuliner khas sekaligus mendongkrak usaha kecil menengah (UKM). Namun, kenyataannya, kata pria yang akrab disapa Firdaus ini, rest area belum memenuhi kriteria tersebut. ‘’Tidak tahu dulu bagaimana mengonsep tempat itu (rest area, Red) jadinya sangat kurang menjual,’’ tutur dia.

Tidak ingin hanya dianggap omong kosong, Firdaus membuat desain rest area yang lebih layak. Dalam desainnya tersebut, pria yang tinggal  di Jalan Walisongo ini membuat sejumlah perubahan. Yakni, membuat tempat peristirahatan di sisi barat. Sehingga, selain jajan, para pengunjung juga bisa melepas penat dengan tiduran sambil mengawasi anak-anak mereka bermain. ‘’Harus ada playground agar anak bisa betah istirahat,’’ jelas dia.

Baca Juga :  Ciptakan Suasana Nyaman

Hasil desain pria yang aktif dalam komunitas Tuban Creative Hub ini juga menyediakan kolam renang di sisi selatan. Tujuannya agar orang yang transit cukup lama bisa berwisata bersama keluarga. Kolam yang didesain tak jauh dari foodcourt tersebut juga bertujuan agar anggota keluarga lain yang tak ikut renang bisa menikmati kuliner yang tersedia. ‘’Dengan demikian, sektor UKM dan pedagang juga ikut diuntungkan,’’ imbuh dia. Pada desain yang diterima Jawa Pos Radar Tuban, di sisi utara rest area disediakan taman mini. Sehingga, tidak hanya melepas penat, para pengunjung juga bisa mengambil potret diri dengan selfie atau wefie. Firdaus mengatakan, photobooth atau media foto cukup penting untuk sebuah tempat agar cepat viral. Bagian lain yang tak kalah penting adalah outlet untuk produk kreatif nonkuliner. ‘’Jika semua elemen tersebut terpenuhi, baru layak disebut rest area,’’ jelas dia.

Baca Juga :  Menginspirasi dan Menjawab Tantangan Zaman

Kepala Diskopindag Tuban Agus Wijaya mengaku sudah mendapatkan desain baru rest area tersebut. Dia menyambut baik desain yang dibuat Firdaus. Sebab, dirinya membutuhkan masukan riil dari masyarakat yang bisa jadi acuan. 

Dikatakan dia, dirinya terbuka bagi siapa pun yang ingin memberi masukan Rest Area Tuban yang baru. ‘’Nanti yang bisa direalisasikan (dari desain) akan kami realisasikan. Yang belum bisa ya diganti dengan lainnya,’’ ujar  Agus menanggapi desain tersebut.

Agus juga menilai, masukan dari Firdaus cukup realistis. Hanya saja, untuk mewujudkan gerbang jalan masuk di sisi pojok barat tersebut cukup sulit direalisasikan. Pihaknya yang sudah berkoordinasi dengan dinas perhubungan (dishub) menyatakan pintu masuk tersebut cukup berbahaya karena jalan sekitar banyak dilalui truk dan kendaraan besar lainnya. ‘’Kalau ring road sudah dibangun mungkin jalan di sisi pojok itu cukup menarik untuk direalisasikan. Sementara ini belum bisa,’’ kata dia.

TUBAN – Kurang menariknya rest area sudah lama dirasakan Maulana Malik Firdausyi. Desainer dan arsitek muda lulusan Institut Seni Indonesia (ISI) Jogjakarta ini menilai kalau tempat jajanan dan pamer suvenir tersebut sangat jauh dari kata layak sebagai tempat peristirahatan sekaligus tempat singgah wisatawan.

Padahal, kata dia, rest area idealnya mempunyai banyak fungsi. Selain sebagai tempat peristirahatan para wisatawan, juga bisa menjadi tempat mengenalkan kuliner khas sekaligus mendongkrak usaha kecil menengah (UKM). Namun, kenyataannya, kata pria yang akrab disapa Firdaus ini, rest area belum memenuhi kriteria tersebut. ‘’Tidak tahu dulu bagaimana mengonsep tempat itu (rest area, Red) jadinya sangat kurang menjual,’’ tutur dia.

Tidak ingin hanya dianggap omong kosong, Firdaus membuat desain rest area yang lebih layak. Dalam desainnya tersebut, pria yang tinggal  di Jalan Walisongo ini membuat sejumlah perubahan. Yakni, membuat tempat peristirahatan di sisi barat. Sehingga, selain jajan, para pengunjung juga bisa melepas penat dengan tiduran sambil mengawasi anak-anak mereka bermain. ‘’Harus ada playground agar anak bisa betah istirahat,’’ jelas dia.

Baca Juga :  Sekdes Sambongrejo Tewas Kesetrum

Hasil desain pria yang aktif dalam komunitas Tuban Creative Hub ini juga menyediakan kolam renang di sisi selatan. Tujuannya agar orang yang transit cukup lama bisa berwisata bersama keluarga. Kolam yang didesain tak jauh dari foodcourt tersebut juga bertujuan agar anggota keluarga lain yang tak ikut renang bisa menikmati kuliner yang tersedia. ‘’Dengan demikian, sektor UKM dan pedagang juga ikut diuntungkan,’’ imbuh dia. Pada desain yang diterima Jawa Pos Radar Tuban, di sisi utara rest area disediakan taman mini. Sehingga, tidak hanya melepas penat, para pengunjung juga bisa mengambil potret diri dengan selfie atau wefie. Firdaus mengatakan, photobooth atau media foto cukup penting untuk sebuah tempat agar cepat viral. Bagian lain yang tak kalah penting adalah outlet untuk produk kreatif nonkuliner. ‘’Jika semua elemen tersebut terpenuhi, baru layak disebut rest area,’’ jelas dia.

Baca Juga :  Stok Elpiji Menipis, Ini Kata Kepala Dinas Perdagangan Bojonegoro

Kepala Diskopindag Tuban Agus Wijaya mengaku sudah mendapatkan desain baru rest area tersebut. Dia menyambut baik desain yang dibuat Firdaus. Sebab, dirinya membutuhkan masukan riil dari masyarakat yang bisa jadi acuan. 

Dikatakan dia, dirinya terbuka bagi siapa pun yang ingin memberi masukan Rest Area Tuban yang baru. ‘’Nanti yang bisa direalisasikan (dari desain) akan kami realisasikan. Yang belum bisa ya diganti dengan lainnya,’’ ujar  Agus menanggapi desain tersebut.

Agus juga menilai, masukan dari Firdaus cukup realistis. Hanya saja, untuk mewujudkan gerbang jalan masuk di sisi pojok barat tersebut cukup sulit direalisasikan. Pihaknya yang sudah berkoordinasi dengan dinas perhubungan (dishub) menyatakan pintu masuk tersebut cukup berbahaya karena jalan sekitar banyak dilalui truk dan kendaraan besar lainnya. ‘’Kalau ring road sudah dibangun mungkin jalan di sisi pojok itu cukup menarik untuk direalisasikan. Sementara ini belum bisa,’’ kata dia.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/