alexametrics
28.1 C
Bojonegoro
Wednesday, May 25, 2022

Petani Merugi, NTP di Bawah 100

Radar Bojonegoro – Panen raya Maret lalu, belum banyak membawa petani meraup untung. Akibat harga gabah yang menurun. Hal tersebut dibuktikan dengan nilai tukar petani (NTP) yang tidak mencapai 100, hanya 99,19. Berdasar data Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur, NTP Maret kembali turun menjadi 99,19 dari 100,38 pada Februari lalu.

Penurunan NTP sebesar 1,19 terjadi karena indeks harga diterima petani turun sebesar 0,90 persen sedangkan indeks harga yang dibayar petani naik sebesar 0,29 persen. Sunar petani di Kecamatan Ngasem mengatakan, panen raya lalu memperoleh gabah sebanyak 25 karung. Namun, tidak dijual tapi disimpan dan dikonsumsi sendiri. Karena harga gabah yang anjlok, sekitar Rp 3.350 per kilogram. “Untuk beratnya tidak tahu karena tidak ditimbang,” jelasnya.

Baca Juga :  Berburu Spot Foto

Sunar menjelaskan rendahnya harga gabah diperparah dengan harga pupuk mahal dan sulit didapatkan. Sehingga perlu kebijakan dari pemerintah agar harga pupuk lebih rendah, juga ketersediaan melimpah. Setidaknya agar petani tidak kesulitan pada masa tanam saat ini. “Rp 270 ribu mendapat jenis Urea dua karung dan Ponska satu karung,” jelasnya.

Supriadi petani di Kecamatan Gayam menambahkan, panen raya justru merugi karena harga gabah hanya Rp 3.300 per kilogram. Sehingga hasil panen tidak langsung dijual. Namu, disimpan dan akan dijual dalam bentuk beras. “Diselep menjadi beras setelah itu dijual agar ada harganya,” ujarnya.

Supriadi menjelaskan meski dijual beras, diperkirakan tetap rugi karena harga beras juga murah. Modal tanam sekitar Rp 2,5 juta tidak akan kembali. Ketika beras jual hanya akan menutupi separo dari modal. “Dijual beras tapi hitungannya tetap rugi,” jelasnya.

Baca Juga :  Wapres Serahkan Manfaat Program dan Beasiswa BPJS Ketenagakerjaan

Kasi Statistik Ditribusi BPS Bojonegoro Deddy Dahlianto mengatakan, NTP tidak mencapai 100 menunjukkan bahwa petani mengalami kerugian. Akibat indeks harga diiterima petani turun, jutru indeks harga dibayar naik. ‘Iya NTP -1,19,” jelasnya. (irv)

Radar Bojonegoro – Panen raya Maret lalu, belum banyak membawa petani meraup untung. Akibat harga gabah yang menurun. Hal tersebut dibuktikan dengan nilai tukar petani (NTP) yang tidak mencapai 100, hanya 99,19. Berdasar data Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur, NTP Maret kembali turun menjadi 99,19 dari 100,38 pada Februari lalu.

Penurunan NTP sebesar 1,19 terjadi karena indeks harga diterima petani turun sebesar 0,90 persen sedangkan indeks harga yang dibayar petani naik sebesar 0,29 persen. Sunar petani di Kecamatan Ngasem mengatakan, panen raya lalu memperoleh gabah sebanyak 25 karung. Namun, tidak dijual tapi disimpan dan dikonsumsi sendiri. Karena harga gabah yang anjlok, sekitar Rp 3.350 per kilogram. “Untuk beratnya tidak tahu karena tidak ditimbang,” jelasnya.

Baca Juga :  Kandidat Direktur BUMD Pangan Harus Mengerti Bisnis Pertanian

Sunar menjelaskan rendahnya harga gabah diperparah dengan harga pupuk mahal dan sulit didapatkan. Sehingga perlu kebijakan dari pemerintah agar harga pupuk lebih rendah, juga ketersediaan melimpah. Setidaknya agar petani tidak kesulitan pada masa tanam saat ini. “Rp 270 ribu mendapat jenis Urea dua karung dan Ponska satu karung,” jelasnya.

Supriadi petani di Kecamatan Gayam menambahkan, panen raya justru merugi karena harga gabah hanya Rp 3.300 per kilogram. Sehingga hasil panen tidak langsung dijual. Namu, disimpan dan akan dijual dalam bentuk beras. “Diselep menjadi beras setelah itu dijual agar ada harganya,” ujarnya.

Supriadi menjelaskan meski dijual beras, diperkirakan tetap rugi karena harga beras juga murah. Modal tanam sekitar Rp 2,5 juta tidak akan kembali. Ketika beras jual hanya akan menutupi separo dari modal. “Dijual beras tapi hitungannya tetap rugi,” jelasnya.

Baca Juga :  Asyiknya Mencari Udang

Kasi Statistik Ditribusi BPS Bojonegoro Deddy Dahlianto mengatakan, NTP tidak mencapai 100 menunjukkan bahwa petani mengalami kerugian. Akibat indeks harga diiterima petani turun, jutru indeks harga dibayar naik. ‘Iya NTP -1,19,” jelasnya. (irv)

Artikel Terkait

Most Read

Baby Spa Makin Diminati

Normalisasi Gondang Hampir 85 Persen

Catur Sumbang Emas Pertama

Artikel Terbaru


/