alexametrics
29.4 C
Bojonegoro
Saturday, June 25, 2022

Tim Operasi Jemput Bayi Kembar Siam

KOTA – Bayi perempuan kembar siam, Anindita dan Aninda, tergulai lemas di ruang high care unit (HCU) RSIA Fatimah Lamongan. Buah pernikahan dari pasangan Timuzin Novianto dan Khoirul Badriah, asal Sidomulyo, Desa Keyongan, Kecamatan Babat itu harus menunggu waktu untuk menjalani operasi pemisahan. 

Sebab, kondisi perut dan dada dua bayi tersebut menyatu. Rabu (11/4), tim operasi kembar siam dari RSU Dr Soetomo Surabaya menjemput Anindita dan Aninda untuk dibawa ke Kota Pahlawan.

Dr Riyanto, dokter spesialis kandungan yang menangani kelahiran dua bayi itu, menjelaskan, Anindita dan Aninda lahir Jumat (6/4). Bayi tersebut dirawat khusus di ruang HCU. Juga, dipantau dari tim dokter Surabaya. 

Setelah lahir, bayi direncanakan segera dibawa ke Surabaya. Namun, ruang Neonatus Intensive Care Unit (NICU) penuh. Sehingga bayi terpaksa dirawat lebih lama di Lamongan. 

Selama satu minggu ini, Riyanto menilai kondisinya masih baik. Dia memprediksi jantungnya juga tidak berhubungan. Alasannya, selama proses persalinan, kedua bayi ini lahir dengan kondisi berbeda. Pertama lahir, kaki dulu. Setelah kaki pertama berhasil keluar, menyusul kaki kedua kemudian badan kembar siam tersebut. 

Baca Juga :  Luangkan Waktu Sepuluh Menit untuk Menulis

“Meski bersamaan, tapi kaki bayi tersebut keluar selama dua kali. Semuanya dilakukan secara normal, ini sangat sulit sekali,” ujarnya. 

Kondisi bayi yang terlahir jelek, ternyata perlahan membaik. Bahkan, bayi bisa lahir secara normal meski kondisinya kembar siam. Sang ibu dirujuk ke RS Fatimah dalam kondisi siap dan kaki bayi sudah mulai nampak. 

Sebelumnya, orang tua bayi pernah melakukan USG untuk mengetahui kondisi janinnya. Melalui alat deteksi tersebut, belum terlihat jelas kondisi bayi. Sampai akhirnya balik ke RS untuk melakukan persalinan setelah bidan desa tidak memiliki kemampuan untuk menolongnya. 

Jumat (6/4) sekitar pukul 03.20, Timuzin Novianto diselimuti perasaan bahagia setelah mendengar suara tangis bayi yang pecah dari rahim istrinya. Namun, kebahagiaan itu seolah berbalik jadi air mata melihat sang anak ternyata lahir dalam kondisi kembar siam. 

Baca Juga :  Banyak yang Belum Ajukan, DAK Pendidikan Terancam Hangus

Timuzin Novianto berusaha tegar. “Kalau sudah diakdirkan demikian, hanya bisa bersabar,” ujarnya. Sebagai petani, kondisi ekonominya pas – pasan. Novianto tidak memiliki banyak uang untuk melakukan operasi bagi anaknya. Novianto menuturkan, keinginan untuk melakukan yang terbaik untuk anaknya pasti ada. Namun, kendala biaya membuat dirinya harus menahan keinginan tersebut, sampai ada donatur bersedia membantu. 

Sebelumnya, tidak ada firasat apapun selama kehamilan sang istri. Bahkan saat dilakukan USG pada usia kandungan 6 bulan diprediksi lahir kembar. Beberapa tetangganya sempat bergumam bahwa kondisi perut sang istri memang berbeda. Namun, dia memilih diam sampai memasuki usia kelahiran.  Dia menambahkan, dokter ataupun lainnya hanya manusia, sehingga prediksi bisa saja berubah. “Tapi saat kondisinya sudah demikian, hanya bisa berusaha terbaik,” ujarnya. 

KOTA – Bayi perempuan kembar siam, Anindita dan Aninda, tergulai lemas di ruang high care unit (HCU) RSIA Fatimah Lamongan. Buah pernikahan dari pasangan Timuzin Novianto dan Khoirul Badriah, asal Sidomulyo, Desa Keyongan, Kecamatan Babat itu harus menunggu waktu untuk menjalani operasi pemisahan. 

Sebab, kondisi perut dan dada dua bayi tersebut menyatu. Rabu (11/4), tim operasi kembar siam dari RSU Dr Soetomo Surabaya menjemput Anindita dan Aninda untuk dibawa ke Kota Pahlawan.

Dr Riyanto, dokter spesialis kandungan yang menangani kelahiran dua bayi itu, menjelaskan, Anindita dan Aninda lahir Jumat (6/4). Bayi tersebut dirawat khusus di ruang HCU. Juga, dipantau dari tim dokter Surabaya. 

Setelah lahir, bayi direncanakan segera dibawa ke Surabaya. Namun, ruang Neonatus Intensive Care Unit (NICU) penuh. Sehingga bayi terpaksa dirawat lebih lama di Lamongan. 

Selama satu minggu ini, Riyanto menilai kondisinya masih baik. Dia memprediksi jantungnya juga tidak berhubungan. Alasannya, selama proses persalinan, kedua bayi ini lahir dengan kondisi berbeda. Pertama lahir, kaki dulu. Setelah kaki pertama berhasil keluar, menyusul kaki kedua kemudian badan kembar siam tersebut. 

Baca Juga :  PJU Padam, Butuh Penanganan

“Meski bersamaan, tapi kaki bayi tersebut keluar selama dua kali. Semuanya dilakukan secara normal, ini sangat sulit sekali,” ujarnya. 

Kondisi bayi yang terlahir jelek, ternyata perlahan membaik. Bahkan, bayi bisa lahir secara normal meski kondisinya kembar siam. Sang ibu dirujuk ke RS Fatimah dalam kondisi siap dan kaki bayi sudah mulai nampak. 

Sebelumnya, orang tua bayi pernah melakukan USG untuk mengetahui kondisi janinnya. Melalui alat deteksi tersebut, belum terlihat jelas kondisi bayi. Sampai akhirnya balik ke RS untuk melakukan persalinan setelah bidan desa tidak memiliki kemampuan untuk menolongnya. 

Jumat (6/4) sekitar pukul 03.20, Timuzin Novianto diselimuti perasaan bahagia setelah mendengar suara tangis bayi yang pecah dari rahim istrinya. Namun, kebahagiaan itu seolah berbalik jadi air mata melihat sang anak ternyata lahir dalam kondisi kembar siam. 

Baca Juga :  Bupati Yes Wujudkan Lamongan Sehat

Timuzin Novianto berusaha tegar. “Kalau sudah diakdirkan demikian, hanya bisa bersabar,” ujarnya. Sebagai petani, kondisi ekonominya pas – pasan. Novianto tidak memiliki banyak uang untuk melakukan operasi bagi anaknya. Novianto menuturkan, keinginan untuk melakukan yang terbaik untuk anaknya pasti ada. Namun, kendala biaya membuat dirinya harus menahan keinginan tersebut, sampai ada donatur bersedia membantu. 

Sebelumnya, tidak ada firasat apapun selama kehamilan sang istri. Bahkan saat dilakukan USG pada usia kandungan 6 bulan diprediksi lahir kembar. Beberapa tetangganya sempat bergumam bahwa kondisi perut sang istri memang berbeda. Namun, dia memilih diam sampai memasuki usia kelahiran.  Dia menambahkan, dokter ataupun lainnya hanya manusia, sehingga prediksi bisa saja berubah. “Tapi saat kondisinya sudah demikian, hanya bisa berusaha terbaik,” ujarnya. 

Artikel Terkait

Most Read

Hore, Dapat Jatah 538 CPNS

Tak Berlaku Merger untuk SMP

Artikel Terbaru


/