alexametrics
29.2 C
Bojonegoro
Monday, June 27, 2022

Adipati Ketiban Ondo, Pelaku Hate Speech Mangkir

TUBAN – Nyali pemilik akun Adipati Ketiban Ondo, terlapor kasus hate speech atau ujaran kebencian kepada bupati Fathul Huda tidak segarang komennya di media sosial (medsos) Facebook. Terbukti, dia yang seharusnya memenuhi panggilan penyidik Satreskrim Polres Tuban pada Selasa (10/4), justru memilih mangkir. Dalam surat panggilan yang dikirim Senin (9/4) atau sehari sebelumnya, polisi memberikan batas waktu dia memenuhi panggilan hingga Kamis (19/4). 

Kasatreskrim Polres Tuban AKP Iwan Hari Poerwanto kepada Jawa Pos Radar Tuban mengatakan, jika hingga batas waktu yang ditentukan yang bersangkutan tidak hadir, dia memastikan satuannya bakal bertindak tegas. ”Petugas akan menjemput paksa,” tegas dia.

Meski kasus tersebut sudah memasuki tahap pemanggilan terlapor, Iwan  belum juga membeberkan identitas pemilik akun. Begitu juga alamat rumah dan pekerjaannya. 

Pertimbangan dia enggan membocorkan identitas yang bersangkutan karena untuk kepentingan penyelidikan. Salah satunya menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Sumber terpercaya wartawan koran ini menyebutkan,  pemilik akun Adipati Ketiban Ondo berada di wilayah Semanding. Dia pekerja kasar dan berpendidikan rendah.

Baca Juga :  Tambah Ahli Bahasa Lagi

Mantan Kasatreskrim Polres Gresik ini memastikan alat bukti dan saksi-saksi sudah lengkap untuk menjerat yang bersangkutan sesuai dengan undang-undang.   

Bagaimana jika pemilik akun kabur setelah menerima surat panggilan? Dia menegaskan, akan ada konsekuensi lebih berat jika yang bersangkutan menunjukkan iktikad tidak baik. Karena itu, Iwan mengatakan, hal itu tidak perlu terlalu dikhawatirkan. 

Penanganan kasus ujaran kebencian terhadap orang nomor satu di Pemkab Tuban itu berjalan cukup singkat. Adipati Ketiban Ondo dilaporkan sejumlah ormas pada 31 Maret lalu. Kurang dari dua pekan, kasus tersebut masuk tahap penyelidikan. 

Iwan mengaku tidak ingin membiarkan kasus ujaran kebencian tersebut terlalu lama. Sebab, kasus tersebut menjadi atensi sekaligus pelajaran warganet lain agar tidak sembarangan mengunggah hinaan di medsos.

Diberitakan sebelumnya, setelah menjadi bahan perbincangan warganet akibat perkataannya di kolom komentar salah satu grup Facebook yang bernada ujaran kebencian, pada 31 Maret, akun Facebook Adipati Ketiban Ondo resmi dilaporkan ke Polres Tuban. Pelapornya, lima ormas. Yakni, DPD Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Tuban, Karang Taruna, asosiasi pemuda anti hoax dan hate speech Tuban, barisan muda nahdliyin, dan lumbung informasi rakyat (Lira) Jatim.

Baca Juga :  Target Pajak Restoran Akan Direvisi

Ketua DPD KNPI Tuban Nashirul Umam menegaskan, perkataan pemilik akun facebook Adipati Ketiban Ondo yang bernada caci maki merupakan bagian dari ujaran kebencian. Terlebih, hujatan dan caci maki itu ditujukan kepada seorang bupati. 

Meski sasaran ujaran kebencian itu tidak menyertakan nama lengkap, namun versi Irul, penyebutan bupati Huda sudah menegaskan bahwa ujaran kebencian itu ditujukan kepada bupati Tuban Fathul Huda. Terlebih, perkatakan tersebut disampaikan di kolom komentar dari sebuah status yang mengunggah foto bupati Fathul Huda dan wakil bupati Noor Nahar Hussein.

TUBAN – Nyali pemilik akun Adipati Ketiban Ondo, terlapor kasus hate speech atau ujaran kebencian kepada bupati Fathul Huda tidak segarang komennya di media sosial (medsos) Facebook. Terbukti, dia yang seharusnya memenuhi panggilan penyidik Satreskrim Polres Tuban pada Selasa (10/4), justru memilih mangkir. Dalam surat panggilan yang dikirim Senin (9/4) atau sehari sebelumnya, polisi memberikan batas waktu dia memenuhi panggilan hingga Kamis (19/4). 

Kasatreskrim Polres Tuban AKP Iwan Hari Poerwanto kepada Jawa Pos Radar Tuban mengatakan, jika hingga batas waktu yang ditentukan yang bersangkutan tidak hadir, dia memastikan satuannya bakal bertindak tegas. ”Petugas akan menjemput paksa,” tegas dia.

Meski kasus tersebut sudah memasuki tahap pemanggilan terlapor, Iwan  belum juga membeberkan identitas pemilik akun. Begitu juga alamat rumah dan pekerjaannya. 

Pertimbangan dia enggan membocorkan identitas yang bersangkutan karena untuk kepentingan penyelidikan. Salah satunya menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Sumber terpercaya wartawan koran ini menyebutkan,  pemilik akun Adipati Ketiban Ondo berada di wilayah Semanding. Dia pekerja kasar dan berpendidikan rendah.

Baca Juga :  Harta Paslon Usai Penetapan

Mantan Kasatreskrim Polres Gresik ini memastikan alat bukti dan saksi-saksi sudah lengkap untuk menjerat yang bersangkutan sesuai dengan undang-undang.   

Bagaimana jika pemilik akun kabur setelah menerima surat panggilan? Dia menegaskan, akan ada konsekuensi lebih berat jika yang bersangkutan menunjukkan iktikad tidak baik. Karena itu, Iwan mengatakan, hal itu tidak perlu terlalu dikhawatirkan. 

Penanganan kasus ujaran kebencian terhadap orang nomor satu di Pemkab Tuban itu berjalan cukup singkat. Adipati Ketiban Ondo dilaporkan sejumlah ormas pada 31 Maret lalu. Kurang dari dua pekan, kasus tersebut masuk tahap penyelidikan. 

Iwan mengaku tidak ingin membiarkan kasus ujaran kebencian tersebut terlalu lama. Sebab, kasus tersebut menjadi atensi sekaligus pelajaran warganet lain agar tidak sembarangan mengunggah hinaan di medsos.

Diberitakan sebelumnya, setelah menjadi bahan perbincangan warganet akibat perkataannya di kolom komentar salah satu grup Facebook yang bernada ujaran kebencian, pada 31 Maret, akun Facebook Adipati Ketiban Ondo resmi dilaporkan ke Polres Tuban. Pelapornya, lima ormas. Yakni, DPD Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Tuban, Karang Taruna, asosiasi pemuda anti hoax dan hate speech Tuban, barisan muda nahdliyin, dan lumbung informasi rakyat (Lira) Jatim.

Baca Juga :  Anggota TNI-Polri Masuk DP4

Ketua DPD KNPI Tuban Nashirul Umam menegaskan, perkataan pemilik akun facebook Adipati Ketiban Ondo yang bernada caci maki merupakan bagian dari ujaran kebencian. Terlebih, hujatan dan caci maki itu ditujukan kepada seorang bupati. 

Meski sasaran ujaran kebencian itu tidak menyertakan nama lengkap, namun versi Irul, penyebutan bupati Huda sudah menegaskan bahwa ujaran kebencian itu ditujukan kepada bupati Tuban Fathul Huda. Terlebih, perkatakan tersebut disampaikan di kolom komentar dari sebuah status yang mengunggah foto bupati Fathul Huda dan wakil bupati Noor Nahar Hussein.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/